Rabu, 29 Oktober 2014

Teori Kulber Ross - 5 Tahapan Kehilangan atau Patah Hati

nana-DABDA 
 Kata yang paling sedih adalah selamat tinggal


Ketika anda bangun pagi, telah semangat dengan hari ini. Anda yakin semua yang anda rencanakan akan lancar, kemudian ketika anda menghidupkan PC untuk menulis, ternyata anda harus berkutat dengan Virus Ramnit selama 10 jam dan kehilangan banyak aplikasi penting di PC anda. Apa yang anda rasakan?

Itulah yang kualami hari ini, hari yang indah berubah menjadi melelahkan hanya karena sebuah kejadian. Ketika aku mulai kesal dengan itu, aku teringat tentang Teori Kulber Ross, karena itu hari ini akan kusampaikan materi ini di blog.

Teori Kulber Ross ini sangat jarang didengar publik, aku tidak tau kenapa hal ini tidak populer. Bagi kebanyakan psikolog mungkin mereka berpikir bahwa kebanyakan orang sudah bisa merasakan itu tanpa diberitau lebih detail.

Setiap kali aku membawa Tahapan Kulber Ross, di awal penyampaian sebagian besar orang akan merasa asing dan kebingungan tetapi ketika kita telah mulai memasuki materi, maka mereka akan dengan mudah mengerti apa yang dimaksud Tahapan Kulber Ross, mengapa demikian?

Setiap orang pada umumnya memiliki hal yang kita sebut kelekatan, manusia senang melekati sesuatu baik sebuah benda atau makhluk hidup. Hal yang sudah sangat umum dalam kehidupan manusia adalah kehilangan atau perpisahan. Tidak ada yang kekal, karena semua pada akhirnya akan berubah atau pergi.

Biasanya manusia terjebak pada penolakan, marah atau depresi ketika kehilangan, mereka sulit untuk menerima itu. Karena itu dengan mengenal Teori Kulber Ross kita lebih bisa mengendalikan diri dalam keadaan kehilangan.

Saat seseorang mengalami kesedihan atau kehilangan, untuk kembali pada kondisi normal yakni menerima apa yang terjadi dengan ikhlas bukan merupakan tindakan yang mudah. Fase fase yang dinamakan "5 tahapan Kehilangan Kubler - Ross" yaitu : 
1. Denial (Penyangkalan)
Penyangkalan ini ada pada tahap pertama. Seseorang yang baru saja kehilangan biasanya mengatakan : "ini tidak mungkin terjadi" "saya tidak percaya" dan lain lain yang merupakan tanda bahwa dia menyangkal.  
2. Anger (Marah)
Setelah penyangkalan, seseorang biasanya marah dan merasa apa yang terjadi padanya sungguh tidak adil. 
3. Bargaining (Tawar Menawar)
Semisal dengan mengatakan : andai saja, saya yang ada di posisi tersebut.  
4. Depression (Depresi)
Ini merupakan puncaknya. Seseorang bisa saja menjadi sangat tidak berdaya dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai pada tahap berikutnya.  
5. Acceptance (Penerimaan)
Seseorang mulai dapat menerima dengan ikhlas apa yang terjadi. 
Mari kita ambil contoh pola ini ketika seseorang (Pasien) menerima hasil pemeriksaan kesehatan bahwa dia menderita Terminal Illness ( kerusakan atau perubahan fungsi pada tubuh manusia yang sifatnya permanen contohnya Kanker ) maka kelima tahapan tersebut akan menjadi :

1. Denial
-  Penyangkalan dari pasien mengenai diagnosa penyakit kronis
-  Pasien menolak untuk mempercayai diagnosa penyakitnya
-  Muncul karena merasa sangat cemas akan penyakitnya
-  Berusaha keras mencegah kenyataan itu masuk ke kesadaran
-  Bagi pasien yang mengetahui dan memahami kenyataan tersebut, mereka memilih untuk tidak memikirkannya
-  Tetap berusaha memperbaiki dan memperbesar kesempatan hidup dengan melakukan tindakan yang dianggap positif
-  Selama tahap denial, pasien mencari-cari cara coping sesuai dengan dirinya
-  Denial kemudian akan menghilang setelah beberapa waktu dan berganti menjadi anger
2. Anger
-  Setelah denial, muncul anger atau kemarahan karena kecemasan yang belum hilang
-  Pasien biasanya merasa marah dengan diagnosa yang diberikan dokter, sehingga memutuskan untuk mencari pendapat dari dokter lain
-  Kemarahan muncul karena adanya keinginan seseorang untuk tetap hidup
-  Perlu diperhatikan bahwa ekspresi marah dapat menjauhkan pasien dari orang-orang terdekatnya, seperti keluarga dan para perawat
3. Bargaining
-  Beberapa pasien akhirnya menunjukkan usaha yang rasional untuk bertahan hidup sehingga dapat memperbesar kesempatan untuk hidup
-  Ada juga yang melakukan usaha namun usaha tersebut tidak memiliki efek langsung terhadap penyakitnya
-  Contohnya: pasien yang religius bisa saja mengucap janji kepada Tuhan untuk berubah menjadi orang yang lebih baik dan akan menjalani hidup dengan sungguh-sungguh jika diberikan kesempatan hidup lebih lama olehNya
-  Usaha seperti itu membuat pasien merasa lebih baik dari sisi emosional, namun menghalangi usaha-usaha untuk meningkatkan kesempatan hidup
4. Depression 
-  Depresi bisa terjadi seketika ataupun beberapa lama setelah bargaining
-  Pasien yang gagal dalam berusaha menjadi depresi karena usahanya tidak membuat mereka sembuh
-  Depresi muncul ketika pasien merasa waktu hidupnya akan segera habis
-  Merasa tidak memiliki harapan
-  Muncul penyesalan akan apa yang terjadi di masa lalu dan akan hal-hal yang akan mereka lewati di masa mendatang
-  Depresi dapat berlangsung cukup lama dan rentang waktunya berbeda-beda di setiap pasien
-  Depresi merupakan reaksi awal dari seorang pasien yang telah menyerah tanpa berusaha terlebih dahulu
-  Pasien yang depresi tidak lagi berusaha bertahan hidup dan melewatkan kesempatan untuk menjalani hidup sebaik mungkin
5. Acceptance
-  Setelah depresi, pasien biasanya menerima kondisinya (acceptance) yang akan berakhir pada kematian
-  Dalam tahap ini mereka sudah paham bahwa kematian tidak dapat dihindari
-  Pasien berusaha menghadapi kematian dengan tenang
-  Pasien cenderung berusaha sebaik mungkin untuk memahami arti hidup yang telah dijalani
-  Ada kalanya ketika pasien sudah mengalami rasa sakit berkepanjangan dan kelelahan akibat usaha-usaha yang dilakukan untuk hidup, mereka menilai bahwa kematian merupakan suatu kelegaan / pembebasan dari terminal illness

Tahapan ini tidak selalu berawal dari Denial (Penolakan), terkadang terjadi secara acak, bisa saja langsung Anger (Marah) atau Depression (Depresi). Dalam hubungan asmara paling sering muncul adalah Bargaining (Tawar menawar), dan untuk kehilangan benda seperti motor, handphone, uang biasanya berawal dari Denial.

Ada juga orang yang dewasa secara mental dapat langsung menerima kenyataan tersebut, aku harap dengan mengetahui tahapan ini, kita dapat selangkah lebih maju menuju kedewasaan mental tersebut.

Semoga bermanfaat

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)