Sabtu, 25 Oktober 2014

UNAS - Universitas Alam Semesta - Arti Sebuah Title di Indonesia

http://fc07.deviantart.net/fs70/i/2010/191/5/8/Hogwards_by_danutaxdanni.jpg 
Pengetahuan adalah obat yang paling manjur
Dr. Aggy Tjetje

Seberapa pentingkah sebuah gelar? Terutama di Indonesia. Inilah pendapat seorang lulusan SMA yang tinggal di Indonesia.




Bagi yang belum menyadari, orang dimaksud adalah saya sendiri, hehe. Sebagai orang yang pendidikan terakhirnya adalah Sekolah Menengah Atas di Indonesia, hidup bukanlah hal mudah. 

Pengantar dibawah ini boleh dilewati saja, karena hanya bercerita latar belakang penulis.

Aku besar dengan sebuah konsep pendidikan adalah yang sangat penting. Nilai manusia dilihat dari pengetahuannya, begitu juga kesuksesan seseorang.

Pada saat saya lulus dari SMA, sebenarnya saya sudah merencanakan untuk kuliah setahun sebelumnya. Semua telah disusun dengan baik, dimana saya akan tinggal dan berapa biayanya tetapi nasib memiliki rencana lain. Saya harus membatalkan niat saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Sejujurnya hal itu sangat berat untuk saya, karena ada cukup banyak orang yang termotivasi kuliah karena saya. Bahkan Guru-guru saya saat itu sangat berharap saya akan berhasil dan mengharumkan nama sekolah tempat dulu saya merajut pendidikan. Ketika saya kecewa tidak dapat kuliah, sepertinya ada orang lain yang lebih terkejut dan kecewa terhadap hal itu.

Mengecewakan orang lain adalah hal yang vital untuk saya, selama hidup saya terus memenuhi ekspetasi orang lain. Hal ini membuat saya sangat tertekan selama beberapa bulan, untungnya hanya beberapa bulan.

Pelan-pelan saya menyadari bahwa selama ini sebagian besar pengetahuan yang saya dapatkan tidak berasal dari pendidikan formal seperti sekolah. Pengetahuan yang saya dapatkan lebih banyak dari pengalaman orang lain dan buku, serta pengalaman saya sendiri.

Pada titik itulah saya kemudian menolak untuk terus larut dalam kekecewaan. Saya harus hadapi ini dengan positif.

Saat itu saya berpikir, bagaimana cara untuk menutupi kekurangan ini. Akhirnya saya putuskan untuk self-study, atau populer disebut otodidak. Kemudian saya mulai merancang cara belajar disela-sela kesibukan, kusadari bahwa mengandalkan buku saja tidak cukup. Jika hanya menggunakan buku, selain biayanya sangat besar, juga tidak ada jaminan buku itu bisa menjadi acuan yang pas.

Seminggu kemudian saya mendapatkan solusi yang pas, yaitu menggunakan fasilitas Internet. Saya segera memasang sambungan internet. Saat itu saya membuat sebuah blog. Laman blog itu kemudian saya gunakan untuk mengumpulkan artikel-artikel pengetahuan umum, atau sekarang sering dikenal artikel unik seperti acara On the Spot. 

Dengan cara tersebut aku menambah semua pengetahuan umum untuk menjadikan pondasi pengetahuan dasar, Ini penting karena kebanyakan orang berhenti belajar sesuatu karena banyaknya hal asing ketika dia mempelajarinya.

Kemudian akhirnya aku mulai mempelajari topik yang spesifik, yaitu psikologi dan kemudian berlanjut kepada keilmuan lainnya hingga sekarang.


Saatnya kita membahas topik tentang sebuah title atau gelar di Indonesia. Hal yang pertama ada di depan masalah tidak adanya title adalah Pekerjaan. Sangat sulit tentunya mencari pekerjaan 9/5 dengan hanya bermodalkan tamatan SMA atau dibawahnya. Aku sendiri juga demikian, saat itu lebih memilih profesi sales yang masih dipandang sebelah mata kala itu.

Hal yang begitu menakutkan pada remaja indonesia adalah kesulitan mendapat pekerjaan, dan mereka berpikir dengan kuliah hal itu terjamin. Banyak yang tidak menyadari bahwa title saja tidak cukup, IP yang tinggi dan nama baik Universitas atau Akademi juga sangat berpengaruh. Title bukan jaminan mendapat pekerjaan.

Benar saja, sebagian besar orang yang kukenal, termasuk teman satu angkatanku yang sudah lulus. Mereka yang bekerja sebagian besar adalah mereka yang mempunyai relasi, jadi keluarga mereka berperan. Sebagian besar juga hanya meneruskan usaha keluarganya. Nasib mereka yang tidak punya relasi atau orang tua akan kesulitan mencari pekerjaan dan sebagian akhirnya bekerja yang tidak berhubungan dengan major yang dia ambil. Sedang para wanita lebih suka menikah.

Yang perlu kita ingat, bagi mereka yang tidak kuliah dengan beasiswa, biaya yang anda habiskan untuk kuliah itu cukup untuk membuat pekerjaan anda.

Budaya di Indonesia yang membuat hal ini rumit, ada satu pengalaman saya yang unik. Kejadian ini terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika itu saya mengenal seseorang dari saat sedang berada di gym. Dia tertarik dengan diskusiku dengan seorang sahabat disana dan ikut berdiskusi bersama kami, belakangan aku tau bahwa dia memiliki posisi cukup tinggi di sebuah bank. Selama 6 bulan berikutnya, dia sering berhubungan dengan saya melalui chat BBM, kami mendiskusikan banyak hal dan juga pernah beberapa kali hang out bersama.

Suatu waktu dia menawarkan aku sebuah posisi di bank tempatnya bekerja, posisi Manager. Saat itu saya terkejut, karena tidak mungkin dengan latar belakang pendidikanku yang sekarang bisa menduduki posisi itu di perusahaan. Mungkin ada kesalahpahaman, lalu kemudian aku menjelaskan bahwa aku hanya lulusan SMA. Dia berpikir aku bercanda, karena selama ini di Kontak BB, namaku memiliki inisial M.M. Dia berpikir itu adalah title milikku yaitu Magister Management, asumsi itu dikarenakan aku sangat mengerti tentang management dan kemampuan berbahasa inggris yang fasih.

Saat aku menjelaskan bahwa M.M. adalah inisial pasangan saya, sikap dia berubah. Tidak lama setelah itu dia menghapus kontak saya, namanya hilang dari daftar kontak BB saya. Dia juga tidak pernah datang lagi ke gym.

Beberapa waktu kemudian saya tau dari kenalan saya yang juga mengenalnya, bahwa dia mengatakan pada orang ini bahwa saya penipu. Saya bersikap seolah-olah orang terdidik di depan padahal hanya seorang lulusan SMA, dan sepantasnya saya itu menjadi tukang cuci piring. Membuat dia menawarkan saya posisi manager adalah aib seumur hidupnya.

Mendengar hal itu saya terdiam sejenak, dan ada beberapa orang disana. Mereka sama terkejutnya dengan saya. Jadi untuk menjadi terdidik itu harus memiliki gelar menurutnya? Dia menyadari bahwa selama ini pendapat yang dia jadikan acuan adalah pendapat seorang tamatan SMA. Jadi apakah yang penting adalah ilmunya atau tingkat pendidikannya?

Kami akhirnya hanya tertawa mendengar hal itu, tetapi saya yakin di luar sana masih banyak orang yang bersikap seperti itu, bisa kurang mungkin juga lebih parah. Jika kalian yang membacanya demikian, saya harap tulisan ini memberi sedikit hal baru untuk kalian.

Seringkali juga ketika orang melihat dan mendengarku berbicara, atau memberikan wawasan baru untuk mereka. Ketika aku sudah mulai terlihat cerdas di mata mereka, pertanyaan mereka hanya satu. Dulu kuliah dimana? Kadang lebih spesifik, Kuliah Managementnya dimana? atau Kuliah Psikologi dimana?

Aku tidak akan menyalahkan kalian, karena dulupun aku begitu sampai kurasakan sendiri. Hargailah seseorang walaupun mereka tidak bergelar, pengetahuan yang mereka keluarkan juga hasil belajar. Bahkan mungkin mereka mendapatkannya lebih sulit dari yang duduk di bangku kuliah.

Jadi saat ini ketika orang bertanya aku kuliah dimana? Akan kujawab Universitas Alam Semesta, dimana para Mahasiswa/Mahasiswinya tidak memilih hanya satu Major dan dapat mempelajari apapun yang mereka inginkan.

Untukku UNAS telah mengajarkan Psikologi, Management, Marketing, Hypnotherapis, Metafisika, dan lainnya. Hanya disinilah anda bisa menemukan jurusan Sihir, Bahasa Naga, dan ilmu lainnya.

Terimakasih Internet - Dosen Google, Dosen Youtube, Dosen Wikipedia, dan Dosen lainnya yang rela mengajar tanpa dibayar.

Dan untuk penutup, Kuliah itu penting. Berbahagialah kalian yang mampu kuliah.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)