Sabtu, 29 November 2014

Diary : Manusia di Bawah Hujan

http://fc07.deviantart.net/fs71/i/2013/208/2/2/rain_of_memory_by_monsiearts-d6fgyow.jpg 
Yang paling butuh cintamu adalah dirimu sendiri


Judulnya dramatis sekali ya, tetapi ini bukan galau-galauan kenangan masa lalu sambil bilang sakitnya tuh disini kok. Kejadian ini sebenarnya sudah terjadi cukup lama, yaitu pertengahan tahun 2009. Kejadian sederhana tetapi tidak pernah terlupakan.

Saat sedang blogwalking aku melihat salah satu tulisan, seorang wanita yang menulis tentang dirinya tidak pernah diperhatikan, tidak ada yang mencintainya walaupun dia telah memberi cinta yang begitu banyak. Jika kamu berkunjung balik ke blogku dan membaca ini, tulisan ini untuk kamu. Iya, kamu.

Sebelum melakukan revolusi mental tahun 2010 (duluan sebelum Pak Jokowi nih), Aku adalah orang yang logistik-bukan yang ngurusin barang, maksudnya orang yang memakai logika daripada perasaan.

Sebagai pria tulen, aku berpikir bahwa seorang pria sebaiknya tidak terbawa perasaan dan lebih menggunakan logika dalam menghadapi masalah, saat itu aku ahli dalam menangani masalah kejiwaan orang lain, dan aku juga berpikir bahwa aku ahli dalam mengatasi kejiwaanku, sampai akhirnya aku sadar hal itu salah.

Awal tahun 2009 aku mulai terserang dua hal, yaitu perasaan hampa dan kesepian. Banyak orang mengatakan bahwa kesepian itu hal yang wajar, sebenarnya dalam kasusku tidak. Aku selalu dikelilingi banyak orang, dan mereka peduli padaku. Aku punya beberapa sahabat yang selalu menceriakan hariku, hanya pada saat itu kedua hal itu masuk dalam hidupku.

Untuk mengatasi kedua hal itu, aku berusaha memakai logika yaitu dengan berusaha mencari kegiatan positif, baik saat sendiri maupun ketika bersama para sahabatku. Banyak hal asyik, seru bahkan gila yang kami lakukan bersama, tetapi dengan cepat kedua hal itu kembali memasukiku.

Aku mulai lebih ekstra dalam membantu orang yang membutuhkanku, bahkan aku mulai menawarkan diri untuk membantu orang yang mungkin segan untuk minta langsung padaku. Saat itu aku melakukan hal yang sama dengan wanita itu, membagikan kasih dan cinta. Anehnya, perasaan itu tetap ada dan semakin besar.

Memasuki pertengahan tahun itu, aku mulai stress. Aku tidak mau berhubungan dengan teman-temanku, aku mengurung diriku di rumah. Aku tidak terbiasa ketika tidak berhasil menjawab sebuah masalah, ini bukan diriku yang biasanya, pikirku saat itu.

Suatu hari aku bangun setelah tidur siang, aku adalah orang yang sangat jarang bisa tidur siang. Saat itu aku bisa tidur karena sudah dua hari tidur hanya 2-3jam saja. Setelah bangun aku merasa masih mengantuk, tetapi dua jam lagi aku ada janji untuk pergi bersama temanku.

Aku kemudian keluar untuk membeli kopi kalengan, aku membelinya di toko dekat rumahku, jadi aku hanya berjalan kaki. Ketika pergi membeli, aku tidak merasa ada yang salah. Ketika pulang aku baru menyadari, kunci rumahku tertinggal di dalam rumah. Aku ingat menguncinya tetapi lupa membawa kuncinya karena mengantuk.

Hasilnya aku hanya bisa duduk di depan rumahku, menunggu adikku yang akan pulang satu jam lagi. Saat itu hujan mulai turun rintik-rintik, langit memang sudah mendung sejak beberapa jam yang lalu. Angin bertiup cukup kencang, aku bisa merasakannya di wajah dan rambutku.

Suasana ini membuatku semakin mengantuk, aku mulai meminum kopi kalenganku. Saat itu pikiranku bergulir dengan cepat. Aku mulai berpikir betapa bodohnya aku tidak membawa handphoneku, kenapa begini dan begitu. Itu berlangsung hingga sepuluh menitan, kemudian tiba-tiba menjadi hening.

Pikiranku berhenti, aku hanya bisa mendengar suara hujan. Aku mulai merasakan air hujan yang membasahi tanganku karena dibawa angin, aku baru menyadari bahwa daritadi aku tidak benar-benar merasakan rasa basah itu.

Saat hening itu, aku menikmati suara hujan, suara angin, aku merasa begitu berbeda. Saat itu aku sadar, aku pantas bahagia, aku pantas menikmati ini. Kebahagiaan dan kasih, kita pun pantas mendapatkannya bukan selalu harus memberikannya. Orang yang paling pantas mendapatkan kebahagiaan adalah kita sendiri.

Sejak hari itu diriku tidak pernah sama lagi, ketika aku memberikan kasih dan kebahagiaan pada orang lain. Aku bisa merasakan kebahagiaan mereka juga, melihat mereka bahagia membuatku ikut bahagia.

Ketika kamu tidak bahagia dan merasa hampa, cobalah pergi ke suatu tempat. Kamu tidak membawa apapun, terutama handphone atau tablet. Nikmati waktumu, hanya kamu dan dirimu sendiri tanpa gangguan orang lain. Saat itu kamu akan lebih mengenal dirimu sendiri, dan kamu akan merasakannya, bahwa kamupun pantas untuk bahagia.

Semoga bermanfaat

7 komentar:

  1. Tulisan yang menarik :) Setuju, semua orang pantas untuk bahagia. Aku sendiri lebih suka menghabiskan waktu jalan-jalan dengan anjingku kalau (tiba-tiba) merasa hampa :)

    BalasHapus
  2. Indi punya cara yang menarik ya ternyata :D
    Aku juga ingin pelihara anjing, tetapi kucing di rumah udah banyak.

    BalasHapus
  3. paragraf terakhir mantap banget (y)

    BalasHapus
  4. aku suka paragraf terakhirnya (Y)

    BalasHapus
  5. Kalau orang dulu bilang,
    "Bahagia jangan di cari, dia tak akan lari, bahagia ada di hati, di hati sendiri"...

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)