Rabu, 19 November 2014

Diriku dan Puisi

Dunia memiliki sihir, mereka ada di dalam buku

Dalam dunia tulis menulis, sebenarnya yang paling kusukai adalah puisi. Alasannya sederhana, mereka seperti lagu, dan sebenarnya lagu bisa dibilang puisi yang bernada. Ketertarikanku di dunia menulis puisi sendiri awalnya tidak mudah.
Sebelumnya pernah kuceritakan bahwa aku terjun ke dunia tulis menulis sejak sekolah dasar, dimana bahasa indonesia yang baik belum kukuasai. Aku sempat phobia menulis selama bertahun-tahun, bahkan untuk menulis catatan sekolah.

Di saat seperti itu, untuk mengasah kemampuan menghapalku, aku sangat rajin membaca. Di antaranya aku membaca puisi-puisi yang indah. Saat itu aku begitu kagum dengan puisi.

Puisi jauh lebih singkat daripada sebuah buku, dan lebih panjang dari untaian kata mutiara. Puisi yang tepat akan diingat oleh seseorang di dalam hatinya. Bagaimana seorang yang phobia menulis bisa mencintai sastra seperti puisi? Kalian tidak akan percaya, untuk menghadapi phobiaku aku menjadi bagian dari jurnalisme sekolah. Itu seperti terapi untukku.

Aku banyak mengetik berita, mungkin karena tidak secara langsung menulis tetapi melalui komputer, maka rasa enggan menulis itu cukup berkurang. Sayangnya, aku tidak pernah menulis artikel yang terlalu panjang. Itu sebabnya aku sering mengisi filler dalam majalah sekolah, entah itu tips singkat dan kebanyakan adalah puisi.

Selama tiga tahun masa sekolahku dihabiskan sebagai anak jurnalisme, tahun pertama sebagai junior, tahun kedua aku menjadi ketua bidang OSIS jadi ya aku juga mengurus jurnalisme, dan tahun ketiga sebagai pendidik juniorku. Mungkin mereka tidak percaya saat membaca tulisanku, bahwa seorang yang dulu mengajar mereka di depan kelas dengan begitu semangat tentang menulis saat itu phobia menulis.

Kebanyakan puisi aku buat spontan, tanpa ditulis dan langsung diucapkan kepada seseorang. Berkat ini, banyak juga gadis yang luluh, ini salah fungsi jadi jangan ditiru ya, hehe.

Puisi seringkali menjadi pelampiasan emosi, karena tiap sedih atau bahagia rasanya alunan kata mulai mengalir dalam pikiran.

Puisi telah membantuku melewati masa-masa sulit, menemaniku dimasa-masa aku sendiri.

Banyak hal yang indah dan bermakna bisa kita sampaikan kepada seseorang melalui puisi, biasanya puisi yang kubuat tidak menggunakan bahasa metafora yang sulit, tetapi lebih bersifat langsung.

Aku ingin kembali menulis puisi-puisi melalui blog ini, semoga kalian yang membacanya dapat merasakan perasaan dari puisi itu :)

2 komentar:

  1. Saya juga menyukai puisi ;Dtapi kadang suka ruwet sendiri kalau baca puisis yang antar katanya kelihatan tidak ada hubungannya atau mungkin pengetahuan saya yang kurang dalam hal interpretasi puisi.

    Selamat berpuisi

    BalasHapus
  2. Kalau puisi yang terlalu metafora yang tidak sistematis memang sulit dimengerti, kadang hanya si pembuat puisi yang tau artinya haha

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)