Senin, 10 November 2014

Dyslexia atau Disleksia - Mengenal Gangguan Membaca dan Menulis

Scrabble puzzle pieces spell dyslexia 
 Kemampuan membaca adalah berkah yang tak ternilai

Pernah mendengar istilah Dyslexia atau Disleksia? Bagi anda yang pernah mendengarnya mungkin sudah mengerti artinya atau malah memilikinya.

Dyslexia atau Disleksia merupakan gangguan kemampuan untuk membaca dan menulis. Istilah ini pertama kali saya baca saat sedang mendalami psikologi, tetapi tidak begitu saya perhatikan. Hal ini mulai menarik perhatian saya ketika seorang tokoh yang saya kagumi, yaitu Deddy Corbuzier mengatakan pada publik bahwa dia memiliki disleksia.

Mendengar hal itu, saya mempelajari kembali apa itu disleksia, bagaimana gejalanya, cara menanganinya dan melatih diri agar dapat beraktivitas dengan baik ketika memilikinya. Bagi saya dan sebagian besar pencinta buku, mendengar gangguan kemampuan membaca tentu sebuah mimpi buruk, apalagi jika bercita-cita menjadi seorang penulis. Ini sebuah hal mengerikan bukan?

Hal ini ternyata tidak sepenuhnya benar, penderita Disleksia justru memiliki kemampuan lebih jika dia mampu menangani disleksianya. Siapa yang menyangka salah satu penulis fiksi thriller paling tersohor menderita Disleksia yaitu Agatha Christie. Belum lagi Albert Einstein juga diyakini sebagai penderita disleksia. Apa yang tidak membunuhmu membuatmu lebih kuat ada benarnya juga.

Melihat tokoh-tokoh di atas, saya menjadi semakin terpacu untuk menjadi penulis yang baik. Master Deddy misalnya, telah berhasil menulis OCD yang menjadi best seller di Indonesia dan buku yang ditulisnya selama bertahun-tahun berjudul Mantra juga menjadi salah satu buku pedomanku dalam berkomunikasi.

Saya ingin seperti mereka, tidak saya bisa seperti mereka apalagi saya memiliki kemampuan membaca dan menulis yang baik. Tujuan saya mempelajari disleksia lebih dalam adalah membantu mereka yang menderitanya, sebenarnya jumlah penyandang disleksia semakin lama semakin besar. Kurangnya pengetahuan masyarakat terutama tenaga pengajar mengenai hal ini menyebabkan anak-anak usia sekolah yang menyandang disleksia dianggap anak yang bodoh atau tidak pandai.

Saya harap tulisan ini dapat menyumbang setidaknya sedikit arti untuk menyebarkan pemahaman tentang Disleksia lebih luas lagi kepada masyarakat dunia, terutama di Indonesia. Adapun penjelasan ilmiah tentang Disleksia terlampir dibawah.

Disleksia (Inggris: dyslexia) adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis.

Pada umumnya keterbatasan ini hanya ditujukan pada kesulitan seseorang dalam membaca dan menulis, akan tetapi tidak terbatas dalam perkembangan kemampuan standar yang lain seperti kecerdasan, kemampuan menganalisa dan juga daya sensorik pada indera perasa.


Terminologi disleksia juga digunakan untuk merujuk kepada kehilangan kemampuan membaca pada seseorang dikarenakan akibat kerusakan pada otak. Disleksia pada tipe ini sering disebut sebagai Aleksia. Selain mempengaruhi kemampuan membaca dan menulis, disleksia juga ditengarai juga mempengaruhi kemampuan berbicara pada beberapa pengidapnya.

Seperti yang disampaikan di atas bahwa ada juga disleksia yang tidak bersifat bawaan dari lahir atau genetik yaitu Aleksia. Ini dapat disebabkan karena kecelakaan ataupun penyakit yang menyerang otak. Pada kasus tertentu penderita disleksia juga mengalami gangguan kemampuan berkomunikasi, diakibatkan kesulitan merangkai kata. Sebaliknya, pengembangan kecerdasan, kemampuan analisa pada penderita disleksia dapat berkembang sangat cepat jika diarahkan dengan tepat.

Pada orang yang mengalami dyslexia, maka kata-kata yang sederhana pun akan menjadi susah untuk dibaca, bahkan bila dilihat beberapa kali. Kata-kata yang terlihat juga dapat bercampur dengan kata-kata lain atau menjadi keliru dibaca, misalnya saja kata “nakal” menjadi “kanal” atau “dia” menjadi “adi”, dan huruf-huruf menjadi satu seperti tidak ada spasi.Bagi yang mengalami dyslexia, kadang susah untuk mengingat sesuatu yang mereka baca, kadang akan menjadi lebih mudah bagi mereka untuk mengingat apabila informasi tersebut dibacakan & didengar oleh mereka. Berikut contoh kalimat yang mungkin dilihat oleh penderita dyslexia :

Kat akata tid akter pis ahse carat epat

 Yang Dapat Mengalami Disleksia

Siapa saja bisa mengalami disleksia, namun riwayat keluarga dengan disleksia merupakan factor risiko terpenting karena 23-65% orangtua disleksia mempunyai anak disleksia juga.

Penderita disleksia secara fisik tidak akan terlihat sebagai penderita. Disleksia tidak hanya terbatas pada ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik tetapi juga dalam berbagai macam urutan, termasuk dari atas ke bawah, kiri dan kanan, dan sulit menerima perintah yang seharusnya dilanjutkan ke memori pada otak. Dalam kasus lain, ditemukan pula bahwa penderita tidak dapat menjawab pertanyaan yang seperti uraian, panjang lebar.

Para peneliti menemukan disfungsi ini disebabkan oleh kondisi dari biokimia otak yang tidak stabil dan juga dalam beberapa hal akibat bawaan keturunan dari orang tua.
Ada beberapa tipe dyslexia yang dapat mempengaruhi kemampuan mengeja & membaca beserta penyebabnya :

  • Trauma dyslexia
    Biasanya terjadi akibat adanya trauma atau luka pada bagian otak yang mengontrol cara untuk membaca & menulis.
  • Dyslexia primer
    Dyslexia ini disebabkan karena tidak berfungsinya bagian otak kiri (cerebral cortex) & tidak berubah karena usia. Orang yang mengalami jenis dyslexia ini sangat jarang bisa membaca dengan lancar, bahkan hingga dewasa. Dyslexia primer ini dapat diturunkan secara genetik & biasanya lebih banyak dialami oleh pria daripada wanita.
  • Dyslexia sekunder
    Dyslexia jenis ini disebabkan oleh pembentukan hormon yang kurang sempurna pada saat perkembangan awal janin. Dyslexia sekunder ini akan menghilang seiring bertambahnya usia anak, serta lebih sering terjadi juga pada anak laki-laki.



Dari sini kita mengetahui bahwa semua dapat mengalami hal ini, sejauh ini Saya merasa saya tidak memiliki Dyslexia. Bagaimana orang dapat dikatakan memiliki Dyslexia? Ini beberapa ciri umumnya :


  • Kemampuan membaca yang buruk, meskipun memiliki kepintaran yang normal.
  • Kemampuan mengeja & menulis yang buruk.
  • Mengalami kesulitan untuk menyelesakan tugas atau tes sesuai batas waktunya.
  • Mengalami kesulitan untuk mengingat nama suatu benda.
  • Mengalami kesulitan untuk mengingat daftar tulisan atau nomor telepon.
  • Mengalami kesulitan dalam menentukan arah atau membaca peta.
Jika ada seseorang yang mengalami masalah-masalah tersebut di atas, bukan berarti ia menderita dyslexia. Tetapi sebaiknya dilakukan tes untuk mengetahui kondisinya. Suatu pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya masalah medis, termasuk tes pendengaran & penglihatan.Dengan begitu akan lebih jelas hasilnya.

Apakah Bisa Disembuhkan?

Penelitian retrospektif menunjukkan disleksia merupakan suatu keadaan yang menetap dan kronis. “Ketidak mampuannya” di masa anak yang nampak seperti “menghilang” atau “berkurang” di masa dewasa bukanlah karena disleksia nya telah sembuh namun karena individu tersebut berhasil menemukan solusi untuk mengatasi kesulitan yang diakibatkan oleh disleksia nya tersebut.
Sederetan tokoh selain Deddy Corbuzier, Agatha Christie, Albert Einstein, Leonardo Da Vinci, adalah orang-orang telah menemukan solusi untuk masalah mereka, sebagai non-penderita Disleksia kita hanya bisa memberikan dukungan moril dan membantu untuk para penyandang Disleksia memiliki kemauan dan keberanian untuk menemukan solusi untuk dirinya sendiri.

Semoga tulisan ini memberi manfaat

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)