Rabu, 26 November 2014

Impian dan Cita-cita

http://th02.deviantart.net/fs71/PRE/f/2012/239/b/2/don__t_trash_your_dreams_by_aquasixio-d5clzyo.jpg 
Capailah cita-citamu setinggi langit

Sebenarnya tulisan tentang cita-cita ini mau kuterbitkan kemarin, tetapi karena gangguan internet baru bisa diterbitkan hari ini. Cita-cita bukan pelantun lagu dangdut sakitnya tuh disini ya, adalah salah satu hal yang mengisi masa kecil kita.

Pada umumnya anak-anak SD selalu ditanya kalau besar mau jadi apa? dan jawaban anak SD biasanya mainstream banget, kalau bukan dokter, insinyur, pilot pasti astronot. Aku sendiri saat itu menjawab sedikit berbeda yaitu ingin menjadi presiden amerika, yang tidak kusadari diriku tinggal di Indonesia.

Seiring tumbuh kembang seorang anak akan dipaksa menghadapi realitas dalam memilih tujuan hidupnya, banyak yang kehilangan tujuan awalnya, termasuk diriku sendiri.

Aku merubah cita-citaku menjadi seorang Magician saat 5 SD, ketika SMP aku mulai mendalami sulap yang akhirnya kusesali. Ketika aku mempelajari sulap, rasanya aku tidak bisa menikmati sulap seperti sebelumnya. Aku baru menyadari bahwa sebenarnya aku lebih menikmati sulap sebagai penonton sehingga akhirnya aku meninggalkan dunia sulap, tetapi tetap mendalami mentalisme.

Impian itu kembali berubah menjadi pengusaha, sudah tercapai sih saat ini walau masih belum besar usahanya. Ketika hal itu tercapai, aku kembali mengejar sebuah impian yaitu menjadi seorang penulis dan bisa menerbitkan karya-karyaku.

Impianku sebenarnya sejak dulu sederhana, yaitu ingin membuat karya yang bermanfaat untuk banyak orang. Ketika beberapa tahun yang lalu aku membuat blog juga kusadari perasaan itu semakin besar, walaupun blogku sering berganti dan putus sambung, akhirnya aku tetap kembali untuk membuat blog lagi dan lagi. Buat kalian juga yang menekuni dunia blogging juga kalian keren!

Yang mungkin tidak kuduga ketika aku menjadi seorang trainer, sebelumnya aku tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang trainer. Itu terjadi begitu saja, mengalir seperti air. Ketika berada dalam dunia pelatihan, aku sering sekali melihat orang-orang yang sudah kehilangan impian mereka.

Banyak diantara mereka yang sudah pasrah pada hidup, bagi mereka yang penting adalah menyambung hidup dengan pekerjaan tetap, apapun itu yang penting menghasilkan. Mereka tidak memiliki rencana jangka panjang selain menikah dan berkembang biak.

Ada satu materi yang sering kusampaikan ketika memberikan pelatihan untuk sekumpulan karyawan sebuah perusahaan yaitu Power of Dream, kekuatan dari Impian. Disana aku selalu meminta mereka menulis apa yang mereka ingin capai dalam lima tahun ke depan sebanyak-banyaknya.

Saya selalu terkejut ketika membaca hasilnya, mereka bahkan kebanyakan sulit untuk menyebutkan satu saja keinginan mereka. Kebanyakan dari mereka sudah trauma atau takut untuk bermimpi, mungkin karena tahun-tahun yang mereka lalui sudah membuktikan mereka tidak mencapai apa-apa.

Ketika ada pekerja muda yang menuliskan banyak keinginan dan impian yang besar, dia justru dicemooh oleh rekan-rekan kerjanya dan diminta untuk realistis. Kami para trainer menyebutnya pembunuh impian, dan celakanya jumlah mereka sangat banyak.

Tujuan materi tersebut yang seharusnya meningkatkan kekuatan impian agar menjadi motivasi kerja yang kuat, seringkali berubah menjadi sesi dimana membuat para karyawan ini kembali berani bermimpi. Bayangkan saja dalam kertas impian mereka ada yang menulis rencana lima tahun kedepan adalah melunasi cicilan motornya, bahkan seorang manager yang gajinya sudah 2 digit saja tidak memiliki impian yang besar, dia hanya ingin pergi ke bali dalam lima tahun ke depan dan tidak ada niatan pindah dari Puri Indah Mertuanya.

Sebenarnya impianlah yang mampu memberikan semangat hidup yang besar, tujuan hidup yang jelas dan tertata. Aku ingat dari salah satu buku yang kubaca, pasanglah cita-citamu setinggi bulan andaikan tidak tercapai kamu masih tersangkut di bintang.

Tidak masalah membuat target yang setinggi mungkin, semakin sulit kita mencapainya, semakin besar usaha yang dibutuhkan dan selama perjalananmu mencapainya kamu juga sudah mendapatkan banyak hal selama proses itu.

Sebagai penulis, aku punya target suatu hari berhasil menerbitkan buku non-fiksi yang akan diterjemahkan setidaknya ke 20 bahasa, sedangkan untuk fiksi, aku ingin membuat sebuah serial fantasi yang akan menjadi bagian dalam sejarah dunia menulis. Temanku bahkan sempat menyarankan sebuah target yang cukup membuatku terhenyak yaitu menulis buku fiksi yang nantinya bisa diangkat menjadi kisah nyata. Apa itu mungkin? Sebenarnya mungkin saja kok, genrenya Buku Ramalan bukan tafsir mimpi ya.

Aku berharap ketika kalian membaca tulisan ini, kalian dapat mengingat kembali impian kalian atau membuat sebuah impian baru untuk membuat hidup kalian lebih bersemangat, dan aku sendiri belum kehilangan minat menjadi presiden lho, mungkin saja setelah dua periodenya Pak Jokowi saya bisa menjadi Presiden Indonesia. Jika Amerika sudah punya Presiden kulit hitam pertama, maka Indonesia juga bisa saja punya Presiden kulit hitam tapi cina yang pertama, hehe.

Semoga tulisan ini bermanfaat :)

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)