Senin, 24 November 2014

Near Death Experiences - Nyaris Mati

near-death-experience 
Kematian mengajari kita berharganya kehidupan

Near Death Experiences disini bukanlah pengalaman supranatural seperti keluar dari tubuh, tetapi secara harafiah nyaris menyebrang ke dunia lain. Terkadang aku sendiri bingung apakah aku orang yang sangat sial atau sangat beruntung.

Sebagian besar dari pembaca mungkin bingung, atau malah sudah menutup halaman ini. Maksudku adalah sejak masih kecil-usia balita hingga sekarang, banyak sekali NED yang kulewati. Bisa dikatakan aku dekat dengan kematian.

Aku curiga ini diakibatkan badanku yang besar, sehingga para malaikat maut sering salah sasaran. Misalnya mau menangkap orang disebelahku, eh nyerempetnya ke aku.

Bagaimana tidak? Yang paling lama bisa kuingat yaitu tahun 1997, saat itu aku duduk di kelas 2 SD. Pada saat itu, tiba-tiba aku terserang demam tinggi yang tidak jelas sebabnya. Aku segera dilarikan ke rumah sakit, dan lebih beruntungnya lagi karena aku tinggal di daerah perdalaman kalimantan yang terpencil, Rumah Sakit di daerah kami tidak mampu untuk menanganinya, dibawalah aku terbang ke Pontianak, Ibu kota Kalimantan Barat.

Bagi kalian yang tidak pernah naik pesawat di zaman itu, pesawat yang kunaiki adalah pesawat kecil dengan muatan hanya 10 penumpang, tidak dapat terbang tinggi dan mudah sekali terkena guncangan udara. Naik pesawat seperti itu, sebenarnya sangat mempertaruhkan nyawamu.

Aku berangkat dengan Mamaku, dan saat itu sebagai anak kecil normal seusia. Aku mengigil dengan hebat, ditambah dengan muntah-muntah karena mabuk udara, itu penderitaan yang hebat untuk anak 2 SD. Pesawat kecil dengan filter udara yang buruk, sukses membuat satu pesawat menjadi bau muntahan.

Ketika sampai di Rumah Sakit, ternyata juga tidak ada berita baik. Dokter mengatakan bahwa penyakit ini sejenis wabah yang juga belum ada obatnya, belakangan kita kenal dengan istilah Demam Berdarah. Ya, setelah semua yang kulalui adalah aku ditempatkan di gudang dan tidak boleh pulang menurut kebijakan pemerintah aku harus dikarantina.

Sebuah gudang peralatan di rumah sakit itu disulap menjadi ruang isolasi, saat aku tiba disana aku adalah orang ke enam yang berada disana. Ada 4 pria dan seorang wanita di ruangan itu, mereka melihatku dengan iba. Satu-satunya informasi yang diketahui rumah sakit saat itu adalah penyebab dari penyakit ini adalah nyamuk.

Aku terkurung di dalam sana, selama 6 hari kedepan aku melihat banyak hal yang mungkin tidak banyak anak seusiaku melihatnya. Seperti yang kita tau, pola demam berdarah ada suatu masa dimana kondisi kita membaik sejenak sebelum makin buruk. Pertama kali yang mengalami fase ini adalah seorang ibu-ibu yang menjadi bunga ruangan ini. Ya iyalah, dia wanita satu-satunya.

Keluarganya sudah sangat bahagia karena kondisinya baik, tetapi langit memang punya leluconnya sendiri. Aku tidak tau apa yang terjadi pada malam hari itu, tetapi keesokan paginya, ibu itu meninggal. Keluarganya seolah tidak percaya dengan hal itu, Siang harinya salah satu pasien pria tiba-tiba kondisinya membaik. Besoknya? Hasil yang sama pria itu meninggal. Seluruh orang yang ada di ruangan itu menjadi sadar, ketika kita membaik maka kita akan mati. Hal ini justru membuat kami takut tanda-tanda kesembuhan.

Kalian mungkin berpikir tidak mungkin demam berdarah bisa seperti itu, jika kita mengkonsumsi obat tidak akan sampai seperti itu. Kami hanya diberi infus dan makan bubur putih dengan telur dadar setiap hari, mereka takut bahwa makanan tertentu dapat memicu penyakit ini lebih parah.

Saat itu aku sadar cinta seorang Ibu yang begitu besar, beliau tidak takut tertular penyakit mematikan ini. Ibuku justru terus menjaga anaknya dengan setia selalu disampingku. Saat itu aku berpikir, bagaimanapun aku harus sembuh.

Hanya dalam 6 hari, aku tinggal seorang diri. Pasien lain diruangan itu telah berpulang. Aku seorang anak kecil, ditemani ibunya disebuah ruangan yang begitu besar. Dengan nalar anak kecil saat itu, aku berharap bahwa ada lagi yang masuk kesini menemaniku. Kejamnya diriku waktu itu.

Di hari ke tujuh, aku mulai merasa diriku baikan. Aku mulai bertenaga, dan mulai memiliki nafsu makan. Ah, kematianku sudah dekat pikirku. Aku tidak ingin menangis dan membuat Ibuku sedih, maka aku bilang ke Ibuku bahwa aku ingin makan ini dan itu, buah dan eskrim. Aku mengatakan mungkin itu bisa membuat kondisiku lebih baik.

Mamaku yang mungkin juga sudah ada feeling, ya perasaan ibu itu kuat bahwa anaknya mungkin akan meninggalkannya mengabulkan. Dokter yang datang memeriksaku juga tidak melarangku makan apa yang kumau, karena dia sadar panas badanku sudah turun banyak. Nasibku besok pagi mungkin sama dengan 5 pasien lainnya.

Hari itu dari siang hari aku terus menerus makan, dan sore harinya beberapa perawat membawa sebuah TV dan memasangnya di ruangan isolasi itu, membiarkanku menonton cartoon network. Mereka pasti merasa iba bahwa anak semuda diriku akan pergi begitu cepat, sehingga memberikan pelayanan terakhir sebaik mungkin.

Malam harinya, Mamaku bercerita banyak hal tentang bagaimana aku membawa kebahagiaan untuk kedua orang tuaku. Ketika aku menutup mata, aku sudah yakin bahwa aku tidak akan membukanya lagi. Anehnya aku merasa damai.

Besoknya kondisiku semakin membaik, Dokter keheranan. Akhirnya setelah dua hari kemudian, Aku dinyatakan sembuh total. Seluruh tubuhku menjadi lebih segar dan lebih kuat dari sebelumnya, belakangan aku merasa sebenarnya aku ini bangsa Saiya karena setiap hampir mati, tubuhku justru menjadi semakin kuat setelah sembuh. Aku tidak pernah terkena penyakit yang sama dua kali kecuali batuk dan pilek.

Ketika Dokter bertanya bagaimana itu bisa terjadi, Bagaimana seorang anak bisa selamat sementara yang lainnya meninggal. Aku sendiri tidak tau alasan pastinya saat itu, aku hanya mengatakan bahwa aku terus menerus makan, dan juga saat itu aku banyak makan buah jambu biji. Aku baru tau jawaban pastinya 14 tahun kemudian, apa yang menyembuhkanku yaitu kekuatan Kebahagiaan.

Pada saat kita bahagia, tubuh kita menjadi lebih kuat dan memiliki kekuatan regenerasi yang besar.

Itu salah satu dari banyak NED yang pernah kualami, kisah lainnya akan kuceritakan di tulisanku yang lainnya, Semoga tulisan ini berarti untuk anda.

4 komentar:

  1. Hehehe...bacanya deg-degan ! Hidup memang sukar ditebak ya :)

    BalasHapus
  2. Sayangnya endingnya jelas saya survive ya, kalau nggak survive ga bisa nulis ini. Hehe
    Benar, memang susah banget ditebak :)

    BalasHapus
  3. Obatnya selain bahagia, bisa juga karena "the power of jambu biji". :)))

    BalasHapus
  4. Haha, Iya jambu biji emang hebat lol

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)