Selasa, 16 Desember 2014

Aku,Anak-Anak dan Balita

http://th04.deviantart.net/fs71/PRE/i/2014/275/e/4/barakamon_by_instockee-d81ebiw.png 
Generasi muda adalah Harapan Masa Depan

 Bagi mereka yang baru mengenalku atau belum lama mengenalku, pasti berpikir bahwa aku tidak pandai berhubungan dengan anak kecil. Jika dilihat wajahku sudah seperti bapak dua anak, tetapi perangaiku yang serius sepertinya sulit berhubungan dengan anak kecil.

Pikiran itu memang ada benarnya, dulu memang demikian. Aku buruk dengan anak kecil dan hewan ketika usia muda. Seiringnya waktu semua itu berubah.

Hal pertama yang mungkin merubahku adalah hubunganku dengan adik kandungku, kemudian aku mulai memiliki banyak keponakan saat sepupuku menikah. Aku juga punya banyak keponakan angkat karena aku mengangkat cukup banyak abang dan adik angkat.

Perasaan bertanggung jawab dan kebapakan mulai muncul karena hal tersebut, aku juga mempelajari bagaimana berkomunikasi, membimbing serta mendidik anak oleh Kak Seto. Aku juga mempelajari psikologi anak dan remaja untuk menangani bullying.

Puncaknya mungkin saat aku diminta mengajar sekolah minggu selama 6 bulan, untuk anak dan remaja. Disana aku mulai belajar cara menyampaikan informasi, mendengarkan masalah dan menangani masalah sesuai dengan usia masing-masing anak.

Sejak saat itu aku menjadi mudah dekat dengan anak-anak dan remaja tetapi ada satu kategori yang belum bisa kudekati yaitu bayi dan balita.

Mereka selalu menangis saat melihatku, walaupun aku sudah mengeluarkan senyum terbaikku. Selama mereka belum bisa berkomunikasi-berbahasa, maka aku kesulitan mengikutinya.

Aku punya seorang kenalan, dia membuatku yakin bahwa hanya seorang Ibu yang bisa mengerti anaknya bahkan sebelum dia mampu berbahasa.

Suatu hari ketika dia membawa anaknya dan bertemu denganku, Anaknya yang lucu menunjukku dan bersuara, "Dadadadada!"

Aku hanya bisa tersenyum sambil berpikir, "What the?!"

Ibunya segera menarik turun anaknya, "Tidak boleh ngomong gitu, Itu om." Sang Anak kemudian kembali mengeluarkan bunyi, "Tatatatata, Dada Tatatata Dadadada." Sang Ibu lalu memukul pelan tangan anaknya, "Tidak boleh ngomong gitu!"

Aku masih tersenyum sambil berpikir, "Apa yang kalian bicarakan?!" Sayangnya sampai hari ini aku tidak tau apa yang dikatakan anak itu.

Sebagian mungkin berpikir ini aneh, aku sebenarnya tidak begitu terkejut karena aku bisa seperti itu dengan hewan. Aku bisa berkomunikasi dengan lancar dengan hewan seperti anjing, kucing, intinya yang berjalan dengan 4 kaki atau berbulu.

Bukan berarti apa yang mereka katakan terdengar seperti bahasa manusia. Tidak demikian, itu terdengar seperti bahasa asing yang kumengerti. Kemungkinan karena aku besar dengan kucing, Ya ketika semua hewan lain menjauhiku, hanya kucing yang betah denganku.

Hingga hari aku masih melatih senyumku untuk semanis mungkin, agar bisa mendekati bayi dan balita tanpa membuat mereka menangis. Sejauh ini ada peningkatan, biasanya perempuan jika disenyumi akan mulai senyum-senyum sendiri juga. Bagi wanita senyuman itu sejuta makna, begitu kata temanku yang juga seorang wanita.

Suatu hari aku ingin bisa bahasa bayi, "Dadada! Tatatata!"

4 komentar:

  1. hahahhaa bayi ama anak kecil emang susah dipahami.. tapi dari bayi sama anak kecil, perkembangan harus uda mulai dibentuk, makanya penting banget bisa memahami anak-anak dari kecil dan bayi, meskipun susah. hahaha

    BalasHapus
  2. Benar banget, ketika kita bisa memahami bayi yang sulit berkomunikasi maka kita akan lebih memahami manusia yang lebih dewasa :D

    BalasHapus
  3. mungkin maksudnya "dada rata"! AHAHAHAHA!

    BalasHapus
  4. Wah kalau anak kecil bisa ngomong gitu, Gawat Haha

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)