Rabu, 03 Desember 2014

Diary : Konyolnya Aku, Konyolnya Mereka

http://img1.wikia.nocookie.net/__cb20130711042458/clubpenguin/images/thumb/8/81/Genius-meme.png/623px-Genius-meme.png 
Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang - Warkop DKI


Menurut pengalamanku, sepandai, seserius dan sebaik apapun seseorang, ada masanya dia akan menjadi konyol dan biasanya ketika satu kekonyolan muncul, akan diikuti beberapa kekonyolan lainnya.

Suatu hari, belum lama ini aku pergi minum jus bersama teman. Saat sedang asyik-asyiknya ngobrol, tiba-tiba seorang ibu paruh baya berbadan gemuk masuk bersama temannya seorang gadis muda yang langsing. Ketika si Ibu ini melihatku, dia langsung tertawa terbahak-bahak sampai meneteskan air mata,  teman-temanku terkejut sekaligus heran.

Apa aku mengenalnya? Tidak sama sekali, tetapi dia dengan santainya menertawakanku. Setelah puas tertawa dia mendekatiku dan menepuk pundakku,"Hei, besar sekali badanmu, berapa beratmu?" Hal yang terlintas pertama dalam pikiranku adalah "Apa di rumah orang ini tidak punya cermin? Bisa-bisanya ngomong seperti ini." Biasanya orang gendut akan sensitif ditanya seperti ini dan ngomel-ngomel, aku menangapinya berbeda. "Berat saya xxxkg bu, Kenapa?"

Jawaban berikutnya Ibu ini mengejutkanku, "Kamu harus diet, badanmu sudah seperti gajah, Haha!"  Tempat Ibu ini berubah pucat, sementara teman-temanku juga khawatir aku akan meledak marah, para tamu lain juga melihat kami. Daripada marah, aku memang lebih ke arah terkejut, aku kemudian menanggapinya dengan santai. "Ah, Ibu bisa saja, Haha. Ibu juga sudah seperti Babi, berat Ibu berapa ya?"

Pertanyaanku ternyata membuat tertawa teman-temanku termasuk teman si Ibu ini, apa reaksi Ibu ini? Ternyata sangat mainstream, "Apa?! Kamu anak kurang ajar! Tidak pernah disekolahin sama orang tua ya?!" Beginilah kebanyakan orang, bercanda mau dibercandain sakit hati, "Lho salah saya apa Bu? Ibu juga  tadi nanya saya, sayanya santai saja." (Pura-pura bodoh).

"Hei, mana ada orang ngomong gitu ke perempuan?! Saya tidak gendut, kamu tidak punya mata ya?!" Justru saya yang berpikir ibu tidak punya mata, saya yakin mata saya baik-baik saja tetapi kata-kata itu tentu akan memancing emosinya lebih jauh, aku melanjutkan pura-pura bodoh, "Oh, Maaf Bu jadi perempuan boleh nanya apa saja, lelaki tidak boleh ya? Ibu mau tau warna celana dalam saya juga?"

Dia kemudian marah dan kemudian pergi. Aku dan teman-temanku tertawa terbahak-bahak. Tidak lama, pemilik warung sekaligus temanku juga menegurku, "Ron, kamu jangan seperti itu. Ibu itu orang baik, dia sering bantu aku." Aku memandangnya dengan heran, "Bang, dia baik sama satu orang lalu semua orang harus baik sama dia? Aturan dari mana itu? Memangnya aku tidak baik sama kau bang?" Diapun hanya terdiam.

Manusia memiliki sifat konyol, untuk membela yang kalah. Kadang entah pihak yang kalah itu benar atau salah, mereka akan membelanya dengan alasan empati dan kasihan. Aku seringkali melihat tingkah konyol manusia, hampir setiap hari. Jika kita tidak memandangnya sebagai sesuatu yang menghibur, kekonyolan orang akan membuat hidup kita menderita dan tertekan.

Bagaimana dengan kalian sendiri? Sudah membuat kekonyolan apa hari ini?

2 komentar:

  1. kadang aku juga pura-pura bodoh >.< atau bodoh beneran ya?

    BalasHapus
  2. Haha, Topan bisa aja :p

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)