Senin, 01 Desember 2014

Ketika Kamu Berbohong, Aku Tau

http://www.hipwee.com/wp-content/uploads/2014/08/lies-and-truth.jpg 
Jika kamu jujur, Kamu tidak perlu mengingat apapun - Mark Twain

Siapa yang pernah berbohong? Kemungkinan semua orang pernah berbohong selama hidupnya tetapi ada beberapa orang yang aktif dan menjadikan berbohong sebagai kebiasaan. Anda salah satunya?

Pernah tidak merasakan rasanya dibohongi? Pasti sakit bukan? Apalagi kalau untuk masalah serius, seperti dalam hubungan asmara misalnya. Berbohong itu mungkin enak, tetapi kalau posisinya dibalik, nyesek juga di dada kan?

Selama beberapa tahun berkarir dalam dunia pengembangan manusia, aku memiliki banyak sahabat baru. Beberapa dari mereka memiliki nama yang cukup terkenal di Indonesia, beberapa dari orang ini sering kali menyebutku dengan panggilan Human Sommelier.

Bagi yang tidak tau artinya, Sommelier adalah sebutan untuk seorang yang ahli minuman Wine. Mereka bisa menganalisa dan menilai wine kelas tinggi atau tidak. Dalam kelompok kami, istilah Sommelier dilekatkan pada seseorang yang memiliki keahlian yang terfokus dalam bidang tertentu. Ada Hypnosis Sommelier, Woman Sommelier, dll.

Aku disebut demikian karena kemampuanku dalam menangani manusia, baik itu karakter, penyakit, atau hal lain yang berhubungan dengan manusia, dengan titik kuat pada kemampuan analisa bahasa tubuh terutama berbohong.

Jika diantara para pembaca tulisan ini berniat atau sedang mempelajari body language atau bahasa tubuh baik melalui ilmu psikologi maupun metafisika, aku sarankan untuk berhenti. Kenapa? Jika anda mempelajarinya setengah-setengah maka selamat anda menjadi orang menyebalkan baru yang berusaha menilai setiap orang yang ditemuinya dengan pengetahuan anda yang masih setengah-setengah. Jika anda mempelajarinya sampai mahir, Sayang sekali tapi selamat datang di duniaku dan melihat apa yang kulihat.

Banyak orang berpikir jika mereka tau seseorang berbohong kepada mereka, maka itu akan terasa hebat. Mungkin awalnya demikian, tetapi jika kau merasakannya dalam jangka panjang maka emosimu akan sangat tidak stabil jika kamu tidak melatih pengendalian emosi terlebih dahulu.

Alasannya sederhana, hampir setiap orang ketika bertemu denganmu akan berbohong, alasannya sebagian besar adalah masalah privasi. Ada juga orang yang berbohong demi kesenangnya, dan dari sudut pandangku aku merasa orang ini menganggapku orang bodoh, karena berbohong di depanku.

Tidak tau dirimu dibohongi adalah hal yang menyakitkan, tetapi jika kamu selalu tau ketika dirimu dibohongi itu siksaan. Awalnya ketika aku bisa membaca semua bentuk kebohongan orang lain, aku merasa lebih tenang dan percaya diri dalam beraktivitas. Sebulan kemudian aku kehilangan dengan sesuatu yang bernama Keyakinan terhadap umat manusia, ya hal itu hilang begitu saja.

Butuh waktu cukup lama sampai aku bisa toleransi kepada orang lain, ketika dia berbohong aku pura-pura tidak tau, Konyol bukan? Bertahun-tahun mempelajari hal ini hanya untuk berpura-pura tidak tau.

Anehnya, semakin lama kau memilikinya, semakin berkembang kemampuan ini. Kamu bisa dengan mudah menangkap bahasa-bahasa tubuh lainnya, karena berbohong adalah bahasa tubuh yang paling tersembunyi. Seorang ahli berbohong hanya bisa dilihat berbohong dari mikro ekspresinya yang muncul hanya sekian milidetik.

Pada awalnya aku mencoba untuk menutup mata, agar tidak perlu tau ketika seseorang berbohong padaku. Ya, itu tidak sopan jadi tidak terlalu sering bisa digunakan, tetapi karena kebiasaan itu. Aku jadi bisa mengetahui orang berbohong dari suaranya, dan penyiksaanku kembali ke level baru. Ketika di telp sekalipun aku bisa tau orang berbohong padaku, itu menyakitkan.

Butuh 3 tahun lama sampai aku terbiasa dengan kebohongan orang lain tetapi akhirnya aku menjadi memiliki kebiasaan yang tidak bisa berubah, yaitu bicara blak-blakan. Seringkali kata-kataku sangat kasar (bukan kotor, ini hal yang berbeda), aku bisa berkata sangat frontal pada seseorang karena aku mengatakan apa yang kupikirkan.

Aku lebih suka mengatakan sesuatu yang tidak kusuka kepada orangnya langsung daripada berbicara dibelakang mereka, sebagian besar orang berpikir bahwa aku akan dijauhi dan tidak memiliki teman bukan? Aku juga berpikir demikian, ternyata tidak justru aku semakin dekat dengan orang-orang disekitarku.

Ingat aku tidak menyumpahi mereka, aku hanya mengatakan hal yang menurutku benar. Mereka mengatakan bahwa kata-kataku menyakitkan, tetapi justru membuat mereka menjadi tegar. Ketika ada orang yang berusaha menyakiti mereka dengan kata-kata kasar, mereka berpikir, "Ah, tidak seberapa dibanding kata-kata Ron." Kira-kira begitu dalam pikiran mereka. Tentu tidak semuanya demikian, ada juga yang menjadi tidak senang denganku, tetapi itu memang kehidupan. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang bukan?

Selama 3 tahun tersebut, ada satu hal yang kupelajari. Yang penting bukanlah tau apa seseorang berbohong atau tidak, tetapi alasannya berbohong. Dengan begitu kita bisa memutuskan dengan tepat, apa dia masih bisa dipercaya atau tidak.

Semoga tulisan ini bermanfaat :)

1 komentar:

  1. tiga tahun bertahan dengan kebohongan orang,,,itu hal yang luarbiasa....keep happy blogging always,,,salam dari makassar :-)

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)