Senin, 22 Desember 2014

Komunikasi Dua Arah

http://fc07.deviantart.net/fs12/f/2006/331/0/5/Don__t_Speak_by_orangeish.jpg 
Komunikasi yang baik selalu dua arah


 Hari ini saat sedang duduk di depan PC untuk menulis tentang hari Ibu, tiba-tiba blackberry tua berbunyi dengan kencangnya, "Halo Patrick! Disini Spongebob, Aku butuh bantuanmu!" Nada dering itu bersenandung berulang-ulang.

Dengan langkah terseok-seok aku meraih blackberry tua itu, "Halo, dengan siapa ini?" Ternyata dari seorang teman lama, awalnya dia berbasa basi seperti biasanya kemudian dia memintaku untuk melakukan pelatihan untuk teamnya. Sebenarnya aku ragu, dan keraguanku memang beralasan.

Dia baru saja pindah ke sebuah perusahaan, yang belum lama ini membuka cabangnya di kotaku. Dia menjadi kepala cabang di perusahaan ini. Perusahaan ini sebenarnya sudah lama ada di Indonesia, bergerak di bidang alat elektronik. Perusahaan ini hanya memiliki beberapa produk dan harganya sangat mahal untuk jenis produknya.

Dia memintaku melatih teamnya agar mampu menjual produknya, dia mengatakan bahwa dia memiliki seorang manager dibawahnya yang merangkap Manager HRD, dan Manager Marketing. Hasil dari orang ini kurang memuaskan.

Aku bilang aku akan pikir-pikir dulu, kemudian dia mendesak untuk menjawab sekarang dan harus iya. Jadi untuk apa dia bertanya? Dia akhirnya memintaku datang dan membawa modul pelatihan untuk tiga hari, dia akan mengajukan dana pelatihannya agar bisa segera dicairkan untuk membayarku.

Dia juga memintaku untuk membawanya hari ini juga, karena besok kantornya sudah libur hingga januari baru masuk. Malasin banget tidak sih? Akhirnya dengan lesu aku mulai mem-print modul pelatihan tiga hari itu.

Ketika aku sedang menunggu print itu selesai, Aku teringat kembali banyak hal tentang perusahaan ini. Aku memiliki banyak kenalan dan teman orang marketing yang sudah lama berada dalam dunia marketing, beberapa diantara mereka pernah menjadi sales di perusahaan ini. Semuanya mengeluhkan bagaimana sistem perusahaan ini tidak memikirkan karyawannya. Belum lagi cara atasan menekan mereka, ini terjadi di banyak kota yang ada di Indonesia.

Aku tidak bermaksud untuk merusak nama baik perusahaan ini (ya, itupun kalau ada.) karena itu namanya tidak disebutkan disini. Mungkin kalian berpikir aku berlebihan, baik perusahaan mana yang menuntut karyawan tetap, selama 3 bulan melakukan pelatihan berulang-ulang setiap hari dari jam 8 pagi sampai 5 sore. Senin sampai sabtu begitu terus.

Selain itu, para sales ini juga bekerja hingga hari minggu. Benar masuk setiap hari. Tebak, jika jam 8 pagi sampai 5 sore melakukan training, lalu kapan melakukan penjualannya? Tepat sekali setelah itu mereka akan melakukan penjualan, terkadang jam 12 malam atau satu pagi baru bisa pulang ke rumah.

Gajinya? Pastinya mengejutkan kalian, tidak ada gaji pokok. Ya, kalau tidak jual maka tidak dapat komisi. Semua berbasis komisi, tidak ada uang transport maupun uang makan.

Aku pernah membaca training roadmap mereka yang diprogram untuk 3 bulan itu, menurutku sangat buruk dan tidak efisien. Mereka diajari banyak hal yang tidak perlu tanpa inti yang jelas.

Andai anda seorang penjual yang hebat dan mencapai target, maka penghasilan anda bisa mencapai 3juta-an/bulan, di atas itu mungkin sekitar 5juta/an sudah rekor, artinya sehari anda jual satu item paling mahal.

Bagaimana jika bulan depannya tidak menjual? Tetap dapat 5 juta? Ini bukan asuransi jiwa, jadi komisi cuma diterima satu kali. Mungkin ada yang berpikir ini Perusahaan Asuransi Jiwa atau MLM, maka anda mungkin tidak teliti membaca bahwa di atas sudah disebutkan perusahaan yang bergerak dibidang alat elektronik.

Berbeda dengan Perusahaan Asuransi Jiwa dan MLM yang sama-sama tidak memberikan gaji pokok, tetapi anda tidak memiliki kewajiban masuk kantor setiap hari tanpa libur, tidak wajib pulang larut malam, dan tidak ada atasan yang memarahi anda atau memaksa anda melakukan sesuatu yang anda tidak inginkan dan perusahaan ini menuntut anda full time, tidak boleh ada pekerjaan lain jika tidak maka anda akan diberhentikan.

Sekarang wajar tidak kalau aku ragu menerima tawaran ini? Setelah tersadar dari lamunanku, aku segera memasukan berkas-berkas itu ke dalam sebuah map. Aku kemudian berangkat ke alamat yang diberikan, jaraknya cukup jauh dari rumahku.

Setibanya aku disana, ternyata tempatnya lumayan bagus. Aku datang dengan pakaian kasual, karena setelah mengantar berkas, aku akan segera pulang. Baru sampai aku di depan pintu, temanku ini mengabarkan bahwa dia keluar untuk membeli barang sebentar, jika aku sudah datang harap tunggu sebentar. Aku masuk ke dalam gedung itu.

Kulihat ada seorang pria dengan pakaian sangat formal, sedang duduk menunggu ruang tunggu, ada seorang gadis sebagai penerima tamu juga. Aku kemudian duduk di ruang tunggu. Pria disebelahku terlihat gelisah, aku kemudian mengajaknya berkenalan. Dari dia aku tau bahwa ternyata sedang ada perekrutan sales baru, dia bingung apakah harus mengambil yang ini atau menjadi sales motor. Aku baru menyadari ada spanduk besar di ruangan itu, dengan tulisan yang menggiurkan. "Peluang penghasilan tanpa batas!" Wah, bisa lewat dari lima juta saja sudah begitu sulit, tanpa batas disini begitu kecil.

Aku kemudian menyarankan agar lebih memilih menjadi sales motor saja, aku melihat dia belum ada pengalaman marketing sales. Ini tentu akan menjadi perjalanan berat untuknya, dia akhirnya menerima saranku dan pulang. Tidak berapa lama, seseorang berjalan keluar dengan wajah murung. Gadis yang dari tadi sibuk bermain dengan smartphonenya mengatakan kepadaku untuk masuk, aku kemudian memberi tanda aku tidak akan masuk.

Seorang bapak yang terlihat berusia hampir 40 tahun keluar dari sebuah ruangan, "Hei Kamu!" Dia berteriak dengan lantang ke arahku, "Kamu mau masuk atau tidak?!" Aku tersenyum sambil mengangkat tanganku memberi kode tidak, "Kalau kamu tidak mau masuk, keluar dari sini!"

Aku jelas bingung, dia segera mendekatiku yang masih duduk dengan tenang. Baru kali ini ada orang yang berani berteriak di depanku dengan terang-terangan, ketika dia sampai didekatku, suaranya memelan. "Ayo masuk, tunggu apalagi?!" Aha, sepertinya dia menyadari seperti apa wajahku dari dekat.

Aku kemudian tersenyum, ya daripada aku membuat keributan aku ikuti saja dia ke ruangannya. Aku dipersilahkan duduk, Dia meminta map yang kubawa, dia berpikir itu CV dan surat lamaran kerja. Aku berpikir setelah dia membukanya maka dia akan mengerti bahwa ini semua salah paham. Ternyata aku salah, setelah menerima map ku dia langsung melemparnya ke sudut ruangan. "Kamu pernah kerja tidak?! Melamar kerja pakai baju seperti ini, Punya otak?!"

"Pak, Saya.." belum selesai aku bicara, "Diam! Disini saya bicara, kamu dengarkan!" Dia kemudian mulai bercerita bahwa perusahaan ini hanya menerima orang yang serius, orang ini mulai berbicara banyak hal tanpa membiarkanku berkata sepatah katapun. Aku menyadari dia lah Manager rangkap jabatan yang dimaksud temanku dan kusadari juga bahwa dia pembohong yang buruk. Dia berkata bahwa dia sudah 25 tahun bekerja diperusahaan ini, dan dia baru 2 bulan dipindahkan ke Kotaku. 

Dia menceritakan bagaimana pekerjaan ini mengubah hidupnya, dia mampu membeli rumah dan mobil berkat bekerja di perusahaan ini. Dia berhasil menjadi Manager hanya dengan bekerja 1 tahun, itu artinya dia tidak dapat promosi 24 tahun kemudian. Anehnya dia mulai mengatakan bahwa orang disini tidak tau diri, setelah dia latih 3 bulan semua ilmu yang penting malah lari ke perusahaan lain seperti menjual mobil atau motor.

Bagaimana orang yang baru dua bulan, bisa melatih selama tiga bulan. Dia bertanya padaku pernah aku bekerja dibidang marketing, aku menjawab pernah. Menurutku yang mana paling sulit? Aku bilang menjual Asuransi Jiwa, belum selesai aku bicara dia sudah memotongku. Dia mengatakan bahwa dia pernah 4 tahun di perusahaan asuransi jiwa, dia menjelekan perusahaan itu dan mengatakan barang tidak keliatan kok dijual.

Menurutku sikap seperti ini benar-benar keterlaluan, apalagi sebelumnya dia mengatakan bahwa setelah lulus kuliah dia langsung bekerja di perusahaan ini selama 25 tahun terakhir, dia tidak mungkin masuk perusahaan asuransi sebelum itu. Karena perusahaan asuransi yang dia katakan dia bekerja disana belum ada 25 tahun yang lalu di Indonesia, dan perusahaan ini tidak memperbolehkan pekerjaan sampingan.

Saat dia sedang asik-asiknya menjelaskan pencapaian dia, tiba-tiba temanku mengetuk pintu ruangan. Dia masuk dan melihatku sedang duduk terdiam. Temanku kemudian memunggut map yang ada di lantai, sang bapak langsung mati kutu melihat temanku ini. Takut atasan ternyata.

"Ini apa maksudnya?" Temanku mulai kesal, dia tau ada yang salah disini. Bapak ini segera berdiri sambil senyum-senyum menjelaskan sambil menyalahkanku, dia mengatakan bahwa CV ku dia buang ke lantai karena aku tidak hormat dengannya, juga memakai pakaian kasual. Belum selesai dia bercerita, temanku memotongnya, "Apa yang sebenarnya terjadi Ron?"

Oh, ekspresi bapak itu sungguh menyenangkan dilihat. "Jadi Begini.." Aku menceritakan semua yang kulihat, bapak itu hanya bisa diam saja. "Kamu, tunggu disini sampai aku selesai bicara dengan temanku. Duduk!" Temanku ini benar-benar marah, dia mulai menyadari biang penyakit perusahaannya.

Kami pindah ke ruangan, melanjutkan pembicaraan soal pelatihan. Aku menjelaskan, melatih team selama 3 hari tidak akan membantu jika kepala teamnya adalah orang seperti ini. Sisa pembicaraan ini tidak relevan lagi.

Inti dari tulisan ini sebenarnya, kita harus mendengarkan orang lain dalam berkomunikasi. Jangan asik bicara sendiri tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi. Hal seperti inilah yang membuat hubungan bisa menjadi begitu buruk.

Pesan lainnya adalah Jangan meremehkan orang yang mencari pekerjaan, memang benar mereka butuh pekerjaan itu tetapi perusahaan juga membutuhkan tenaga mereka. Lagipula posisi apapun anda, tetap juga sama-sama karyawan yang digaji perusahaan, hargailah itu. Jangan terlalu sombong karena sebuah jabatan, bisa jadi lawan bicaramu menjatuhkanmu dikemudian hari. :)

3 komentar:

  1. Orang sok tau itu buruk banget akibatnya ya! hehe jd kesel sama itu bapak :)

    BalasHapus
  2. Ngeselin banget ya bapak2 itu. Mati kutu deh akhirnya.
    Saya dulu sempat udah diterima sbg marketing. Karena ga yakin, akhirnya saya ga dateng di hari pertama kerja, sampai sekarang. Masih belum yakin sama kemampuan marketing saya. Kayaknya bukan di situ deh passion saya. Hehe, maap curhat.

    BalasHapus
  3. @mutia : Udah keburu nafsu mau ngomong sih dia, haha :d

    @Renggo : Ya, marketing kalau tidak ada passionnya akan banting tulang dan banyak makan hati :)

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)