Senin, 26 Januari 2015

Asal Usul Pedagang Kaki Lima - PKL

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/0/07/Pedagang_Kaki_Lima_Bogor.jpg 
Merajut hari-hari dengan kerja keras


Pedagang kaki lima atau PKL tentu bukan hal asing, mereka ada diseluruh wilayah Indonesia bahkan mungkin sudah menjadi ciri khas Indonesia.

Pedagang kaki lima ada yang bersifat musiman dan ada juga yang bersifat semi-permanen. Seringkali kita melihat mereka digusur dalam berita-berita di televisi. Pedagang ini memang jarang memiliki izin usaha, karena itu sering juga disebut pedagang liar.

Terlepas dari itu semua, pernahkah kamu bertanya kenapa mereka disebut Pedagang Kaki Lima?

Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, saya termasuk orang yang penasaran dengan asal usul kenapa mereka disebut PKL. Pada waktu itu aku mendapat dua jawaban yang berbeda.

Pertama, PKL biasanya memiliki lapak berupa barang-barang yang diletakan di atas tikar, mereka kemudian duduk di bangku lebar yang memiliki dua kaki. Untuk menghindari teriknya matahari mereka memakai payung yang dipasang pada tiang. Jika dilihat dari depan, mereka mempunyai lima kaki, yaitu dua kaki bangku, dua kaki mereka sendiri dan satu kaki payung.

Kedua, PKL jika dikejar petugas larinya akan sangat cepat sampai terlihat seperti kakinya ada lima.

Kedua jawaban diatas jauh dari jawaban yang tepat, aku mengetahui jawaban yang benar 10 tahun kemudian, untuk mengetahuinya kita harus melirik sejarah era tahun 1811-1868

Bila melihat sejarah dari permulaan adanya Pedagang Kaki Lima, PKL atau pedagang kaki lima sudah ada sejak masa penjajahan Kolonial Belanda.

Pada masa penjajahan kolonial peraturan pemerintahan waktu itu menetapkan bahwa setiap jalan raya yang dibangun hendaknya menyediakan sarana untuk Para pedestrian atau pejalan kaki yang sekarang ini disebut dengan trotoar. 

Lebar ruas untuk sarana bagi para pejalan kaki atau trotoar ini adalah 5 kaki atau 5 feet (feet = satuan panjang yang umum digunakan di Britania Raya dan Amerika Serikat). 1 kaki adalah sekitar sepertiga meter atau tepatnya 0,3048 m. Maka 5 feet atau 5 kaki adalah sekitar satu setengah meter. 

Selain itu juga pemerintahan pada waktu itu juga menghimbau agar sebelah luar dari trotoar diberi ruang yang agak lebar atau agak jauh dari pemukiman penduduk untuk dijadikan taman sebagai penghijauan dan resapan air.

Dengan adanya tempat atau ruang yang agak lebar itu kemudian para pedagang mulai banyak menempatkan gerobaknya untuk sekedar beristirahat sambil menunggu adanya para pembeli yang membeli dagangannya.

 Seiring perjalanan waktu banyak pedagang yang memanfaatkan lokasi tersebut sebagai tempat untuk berjualan sehingga mengundang para pejalan kaki yang kebetulan lewat untuk membeli makanan, minuman sekaligus beristirahat. 

Berawal dari situ maka Pemerintahan Kolonial Belanda menyebut mereka sebagai Pedagang Lima Kaki buah pikiran dari pedagang yang berjualan di area pinggir perlintasan para pejalan kaki atau trotoar yang mempunyai lebar Lima Kaki.

Seiring perjalanan waktu para pedagang lima kaki ini tetap ada hingga sekarang, namun ironisnya para pedagang ini telah diangggap mengganggu para pengguna jalan karena para pedagang telah memakan ruas jalan dalam menggelar dagangannya. 

Namun bila kita menengok kembali pada masa penjajahan belanda dahulu, antara ruas jalan raya, trotoar dengan jarak dari pemukiman selalu memberikan ruang yang agak lebar sebagai taman maupun untuk resapan air. 

Hal ini bisa kita lihat pada wilayah-wilayah yang masih bertahan dan terawat sejak pemerintahan kolonial hingga sekarang seperti di daerah Malang terutama di daerah Jalan Besar Ijen, dan lain sebagainya.

Hal ini sangat berbeda dengan sekarang, dimana antara trotoar dengan pemukiman tidak ada jarak sama sekali, pembuatan taman-taman yang ada di sisi pinggir jalan terkesan seadanya sehingga tidak mampu untuk meresap air apa bila hujan. 

Ini fakta bukan fenomena, ini kenyataan dan bukan rekaan. Lantas tidak sepenuhnya kesalahan itu teralamatkan pada Pedagang Kaki Lima (PKL) yang notabone memang dirasakan sangat mengganggu para pengguna jalan. 

Sungguh ironis memang, disatu sisi mereka mencari nafkah, satu sisi mereka juga mengganggu kenyamanan para pengguna jalan. Dalam hal ini pemerintah harus lebih jeli dalam mengambil tindakan dan juga menegakkan peraturan. Lapangan pekerjaan yang sulit juga mendukung maraknya Pedagang Kaki Lima (PKL) yang merupakan alih profesi akibat PHK dan lain sebagainya.



0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)