Rabu, 28 Januari 2015

Suara yang Paling Indah

http://th08.deviantart.net/fs70/PRE/f/2010/290/8/c/music_by_miggi4deviant-d30x239.jpg 
Harmoni yang indah tercipta karena perbedaan


Beberapa waktu lalu, ketika aku menonton film PK, banyak hal kembali teringat. Beberapa diantaranya memberi semangat lebih, dan kadang menggelitik hati.

Manusia adalah makhluk yang tidak pernah lepas dari konflik. Kita adalah makhluk yang suka mendramatisir kehidupan kita dengan masalah-masalah yang sebenarnya tidak perlu. Bahkan terkadang kita terlihat menikmati penderitaan yang kita buat sendiri.

Selama bertahun-tahun aku mengamati manusia ada dua hal yang sebenarnya seringkali menyebabkan konflik, yaitu perbedaan dan asumsi.

Bagaimana kedua hal itu memunculkan konfik?

Aku tidak mengerti sebab dari manusia sangat suka menyamakan sesuatu. Pada umumnya manusia sangat terganggu dengan perbedaan, ketika ada sesuatu yang berbeda dengannya maka rasa tidak senang akan muncul. Ini yang seringkali menyebabkan apa yang kita sebut Rasisme, Diskriminasi, Minoritas dan lainnya.

Begitu pula dengan asumsi, seperti yang pernah kujelaskan bahaya asumsi dan pengalamanku karena asumsi seseorang di tulisan tentang Kaleidoskop. Banyak sekali konflik yang terjadi karena gosip, kira-kira ataupun pemikiran negatif lainnya terhadap orang lain.

Bagaimana jika konflik mengabungan dua hal tersebut? Mereka akan menjadi masalah besar yang proses penyelesainya bisa bertahun-tahun, biasanya terjadi karena topik Agama. Seperti di film PK, banyak dari kita yang sering "Salah Nomor" karena perbedaan dan asumsi. Kita hanya mau menerima apa yang sama dengan kita dan berasumsi yang berbeda adalah buruk.

Mari kita simak kisah berikut ini

Seorang tua yang tidak berpendidikan tengah mengunjungi sebuah kota besar untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dibesarkan di sebuah dusun di pegunungan yang terpencil, bekerja keras membesarkan anak-anaknya, dan kini sedang menikmati kunjungan perdananya ke rumah anak-anaknya yang modern.

Suatu hari, sewaktu dibawa berkeliling kota, orang tua itu mendengar suara yang menyakitkan telinga. Belum pernah dia mendengar suara yang begitu tidak enak didengar semacam itu di dusunnya yang sunyi. Dia berkeras mencari sumber bunyi tersebut. Dia mengikuti sumber suara sumbang itu, dan dia tiba di sebuah ruangan di belakang sebuah rumah, di mana seorang anak kecil sedang belajar bermain biola.
“Ngiiik ! Ngoook !” berasal dari nada sumbang biola tersebut.
Saat dia mengetahui dari putranya bahwa itulah yang dinamakan “biola”, dia memutuskan untuk tidak akan pernah mau lagi mendengar suara yang mengerikan tersebut.
Hari berikutnya, di bagian lain kota, orang tua ini mendengar sebuah suara yang seolah membelai-belai telinga tuanya. Belum pernah dia mendengar melodi seindah itu di lembah gunungnya, dia pun mencoba mencari sumber suara tersebut.
Ketika sampai ke sumbernya, dia tiba di ruangan depan sebuah rumah, di mana seorang perempuan tua, seorang maestro, sedang memainkan sonata dengan biolanya.
Seketika, si orang tua ini menyadari kekeliruannya. Suara tidak mengenakkan yang didengarnya kemarin bukanlah kesalahan dari biola, bukan pula salah sang anak. Itu hanyalah proses belajar seorang anak yang belum bisa memainkan biolanya dengan baik.
Dengan kebijaksanaan polosnya, orang tua itu berpikir bahwa mungkin semikian pula halnya dengan agama. Sewaktu kita bertemu dengan seseorang yang menggebu-gebu terhadap kepercayaannya, tidaklah benar untuk menyalahkan agamanya. Itu hanyalah proses belajar seorang pemula yang belum bisa memainkan agamanya dengan baik. Sewaktu kita bertemu dengan seorang bijak, seorang maestro agamanya, itu merupakan pertemuan indah yang menginspirasi kita selama bertahun-tahun, apapun kepercayaan mereka.
Namun, ini bukanlah akhir dari cerita.
Hari ketiga, di bagian lain kota, si orang tua mendengar suara lain yang bahkan melebihi kemerduan dan kejernihan suara sang maestro biola. Menurut anda, suara apakah itu ?
Melebihi indahnya suara aliran air pegunungan pada musim semi, melebihi indahnya suara angin musim gugur di sebuah hutan, melebihi merdunya suara burung-burung pegunungan yang berkicau setelah hujan lebat. Bahkan melebihi keindahan hening pegunungan sunyi pada suatu malam musim salju. Suara apakah gerangan yang telah menggerakkan hati si orang tua melebihi apapun itu ?
Itu suara sebuah orkestra besar yang memainkan sebuah simfoni.
Bagi si orang tua, alasan mengapa itulah suara terindah di dunia adalah, pertama, setiap anggota orkestra merupakan maestro alat musiknya masing-masing ; dan kedua, mereka telah belajar lebih jauh lagi untuk bisa bermain bersama-sama dalam harmoni.
“Mungkin ini sama dengan agama,” pikir si orang tua. “Marilah kita semua mempelajari hakikat kelembutan agama kita melalui pelajaran-pelajaran kehidupan. Marilah kita semua menjadi maestro cinta kasih di dalam agama masing-masing. Lalu, setelah mempelajari agama kita dengan baik, lebih jauh lagi, mari kita belajar untuk bermain, seperti halnya para anggota sebuah orkestra, bersama-sama dengan penganut agama lain dalam sebuah harmoni!”
Itulah suara yang paling indah.
 
 Kisah berjudul Suara Paling Indah ini kukutip dari Buku Ajahn Brahm- Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya.
Begitu juga dengan kisah di atas, terkadang kita jangan terlalu cepat menilai sesuatu yang belum kita pahami karena akan menyebabkan konflik, apalagi hanya berdasar asumsi atau perbedaan.
Begitu banyak yang kehilangan keluarga, teman, bahkan sahabat karena tidak bisa lebih bijak dalam menyikapi perbedaan. Mari bersama-sama menjadi Manusia yang lebih baik lagi.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)