Rabu, 18 Februari 2015

Dunia tanpa Orang Asing - World Without Strangers

Bayangkan dunia dimana kita semua bersaudara



World Without Strangers, sebuah pepatah kuno yang berasal dari China. Kata yang begitu populer berkat sebuah brand pakaian. Aku pun mengenal kata ini dari brand pakaian tersebut.

Masih teringat segar dalam ingatanku, pertama kali aku memandang sebuah baju berwarna hijau dari kaca toko. Aku tidak begitu senang warna hijau, namun logo yang beraksara mandarin dengan terjemahan dibawahnya, World Without Strangers itu menarik perhatianku.

Aku memandang lama baju itu, berdiri terdiam kaku. Sebuah kalimat yang memiliki arti yang begitu rancu. Setelah berdiri cukup lama, seorang gadis yang menjadi staff toko tersebut mendatangiku, "Ada yang bisa dibantu mas?", Aku menunjuk baju tersebut, "Aku mau itu yang ukuran paling besar."

Bagiku itu adalah sebuah idealisme yang menarik, beberapa hal muncul dari membaca kalimat tersebut. 

Aku baru mengerti arti sebenarnya beberapa tahun kemudian. Saat aku sedang memakai baju yang sudah mulai luntur motifnya, seorang pria yang sudah sepuh menegurku. "Baju yang bagus."

Pria sepuh ini kemudian menjelaskan bahwa kalimat ini adalah sebuah idiom mandarin kuno, tentang idealisme dimana kehidupan sosial terbaik. Ketika sosial, ekonomi, pangan, dan hukum dapat dijalankan, ditegakan dan merata maka dunia akan menjadi tempat dimana sesama manusianya bukan lagi orang asing bagi orang lainnya.

Bagiku itu adalah dunia yang sangat ingin kutinggali, sebuah utopia. Bagaimana tidak? Dunia kita kini semakin sulit untuk bersosial, baik itu karena faktor moralitas maupun teknologi. Lingkungan yang bersifat Homo Homini Lupus semakin menjamur dimana-mana. Sesama manusia saling curiga, iri dan menipu bahkan melukai satu sama lain.

Sejak saat itu aku bertekad, untuk bertindak membuat dunia ini selangkah lebih dekat ke dunia ideal tersebut, Dunia tanpa orang asing. Mungkin aku belum sampai kesana, tetapi aku lebih dekat dari kemarin. :)

Apa kalian ingin tinggal di dunia seperti itu?

3 komentar:

  1. Tapi bener nih, gadget bener-bener menjauhkan kita dari interaksi sosial. Bahkan dewasa ini masyarakat berubah menjadi generasi enunduk. Menunduk pada layar gadget masing-masing. :(

    BalasHapus
  2. @Hilda : Iya, sekarang banyak ponsel yang lebih pandai dari penggunanya :)

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)