Senin, 16 Februari 2015

Pentingnya ilmu Komunikasi dan Sosial

http://4.bp.blogspot.com/-lBLTQl4Rx3Q/VE9LqL87HpI/AAAAAAAAAFE/YCnTVJCtS7M/s1600/komunikasi-01.png 
Masalah terbesar adalah sosial dan komunikasi adalah kita mendengar bukan untuk mengerti,
 kita mendengar untuk menjawab



Bertahun-tahun aku mendalami ilmu sosial dan komunikasi bahkan menjadi pelatih ilmu komunikasi, baru hari ini aku menyadari betapa pentingnya kedua ilmu tersebut. Sebelumnya aku sudah menyadari dan yakin itu penting, tapi ternyata lebih penting dari yang kupikirkan.

Ilmu sosial dan komunikasi sangat jarang dilirik oleh masyarakat indonesia, di sekolah formal selama 12 tahun sangat sedikit sekolah yang memberikan pelajaran komunikasi secara intensif kepada seluruh siswanya. Di Indonesia juga, ketika memasuki masa SMA kita akan dihadapakan pilihan kejuruan, IPA dan IPS pada umumnya, Bahasa untuk beberapa sekolah lainnya.

Tidak dapat kita pungkiri bahwa IPA seringkali jadi jurusan favorit, bahkan di beberapa sekolah pada wilayah tertentu, jurusan lain hanya untuk mereka yang gagal masuk ke IPA. Itulah yang membuat ilmu sosial dan komunikasi semakin jauh dari jangkauan, apalagi dengan kemajuan media. Banyak orang yang ketika menghabiskan waktu dengan orang lain masih sibuk mengurusi smart phonenya.

Lalu apa yang mendorongku menulis ini? Lebih buruk dari hal itu sebenarnya.

Hari ini setelah sekian lama akhirnya AC di kamarku diberi servis juga dengan dicuci hingga bersih. Mengingat pembersihan sebelumnya kulakukan dengan alat seadanya mengakibatkan kamar berantakan dan basah maka kali ini aku memakai pencuci AC.

Kita sebut saja pencuci AC ini dengan nama Bapak S, seorang pria paruh baya yang aslinya berdomisili di Jakarta pindah kesini sejak beberapa tahun lalu. Kami belum pernah bertemu sebelumnya, dan dia dikenalkan oleh seorang teman.

Sesuai dengan perjanjian, hari ini jam 13.30 dia akan mencuci AC di rumahku, pada akhirnya jam tersebut molor hingga jam 15.00 ketika bertemu dia menunjukan senyum ramah dan hangat. Dia segera membawa peralatan tempurnya ke kamarku, dan segera membongkar AC ku.

Selama ini aku berpikir bahwa aku adalah orang yang bicaranya paling kasar, dan blak-blakan. Seorang Dedy Corbuzier atau Ahok bukanlah tandinganku dalam berkata-kata yang tegas. Hari ini terbukti aku salah, ternyata aku masih belum ada apa-apanya.

Pak S, mungkin merasa suasana terlalu sunyi maka dia mulai perbincangan. Ingat, kami belum pernah bertemu sebelumnya jadi ini pertama kali kami bertemu dan berkomunikasi satu sama lain, selain di telepon.

Ketika dia membuka mulutnya, kata pertama yang keluar adalah, "Kamu gemuk sekali ya, berapa beratnya?" Aku terkejut juga, dengan wajah tersenyum dia bertanya tanpa beban. Aku menjawab dengan santai dalam keterkejutanku. "Papa kamu kurus, Adik kamu juga, dari Mama ya gemuknya?" Okay, sejauh yang kutau gemuk adalah pola hidup dan makan, jadi sangat kecil relevansinya dengan keturunan. Aku kemudian menunjuk sebuah foto keluarga yang ada di kamarku.

Dia melihat Ibuku kurus, "Kamu mungkin bukan anak kandung." Masih dengan senyum dan wajah santainya, Aku hanya diam sambil tersenyum kaku. "Mama kamu sudah meninggal kan ya? Berapa lama sudah?" Aku menghela nafas, "Hampir 7 tahun."

Dia berpikir sejenak, "Carikan papamu pacar dong, sudah lama dia sendiri." Oke, Ini sudah masuk ke urusan yang sangat pribadi, masalah keluarga orang. Dia bisa dengan santainya berbicara demikian masih dengan senyum tak berdosanya. "Usia papa sudah tua, tidaklah baik mencari lagi." Lagipula Ayahku sangat mencintai Ibuku, kisah mereka akan kutulis di blog ini nantinya.

Dia tertawa mendengar kata-kataku, "Pria itu tidak boleh hidup sendiri, tidak ada yang urus, nanti cepat mati." Menurutku ini sudah kurang ajar, "Mertuaku, ketika istrinya meninggal karena kesepian dia jadi gila judi dan mabuk-mabukan. Carikan cepat sebelum papamu jadi gila." Aku mulai menyilangkan tangan di dada, "Itu tergantung individu masing-masing." kataku.

"Dengar kataku, Papamu sudah keliatan seperti hampir 50. Nanti tidak terurus bisa makin tua. Kalau sudah kecanduan judi nanti kamu nyesal." Aku merasa raut wajahku kepadanya mulai berubah, "Ayahku sudah 60 lebih." Dia terlihat terkejut, "Oh, nampak muda ya." Ya, ayahku memang cukup awet muda untuk orang seusianya.

Diam cukup lama, dia mulai fokus mengerjakan AC. Tidak berapa lama dia membahas tentang diet, dia memintaku mengikuti sebuah produk diet. Aku menolaknya dan dia tetap berusaha, Aku kemudian mengeluarkan produk serupa, dan aku mengatakan bahwa mendapat diskon 50%.  Aku memang mengenal salah satu distributor utama produk ini.

Diam kembali mengisi, dia seolah tidak menyerah. Dia menanyakan pekerjaanku, dengan santainya juga dia bertanya penghasilanku, belum sempat kujawab dia sudah mengatakan, "Pasti tidak seberapa ya?"

Setelah satu jam telingaku harus mendengar kalimat demi kalimat mengejutkannya, akhirnya dia selesai mengerjakan AC ku dan pulang setelah dibayar. 

Apa yang kemudian aku rasakan? Kesal? Tidak, aku justru tertawa terbahak-bahak, Kemudian bahagia. Sedikit psikopat ya? Bukan seperti itu, dari pengalaman seperti inilah kita menyadari pentingnya belajar, dan beruntungnya kita yang telah belajar.

Kita dihadapkan dalam kondisi untuk bersyukur dan lebih semangat lagi menambah kemampuan kita. Bahwa apa yang telah kita pelajari tidak pernah sia-sia.

Mari lebih mendalami komunikasi dan ilmu sosial agar dapat membuat dunia sosial kita lebih baik dan bersahabat. :)


0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)