Sabtu, 23 Mei 2015

Empat Macam Orang dalam Belajar

Empat Kuda yang melambangkan Empat Manusia

Dalam pengalamanku mengajarkan suatu keahlian pada seseorang tidak selalu berakhir baik, aku pernah mengalami pengalaman-pengalaman yang tentu tidak mengenakan. Seringkali pengalaman ini datang ketika aku mengajar secara sukarela.

Guru Spiritualku pernah mengatakan bahwa niatanku baik, tetapi aku tidak bisa berharap bahwa aku akan terus berhasil jika tidak memilih murid dengan benar. Guruku terkenal sangat pemilih untuk mengajar, dia hanya akan mengajar kepada orang yang menurutnya benar-benar niat belajar.

Pengalaman tidak mengenakan umumnya adalah tidak tau terima kasih, berhenti ditengah jalan, tidak konsisten dan tidak mempraktikan apa yang sudah diajarkan. Dalam proses mengajar seperti malas, meremehkan pelajaran, teralihkan dengan hal lain atau suka mencari alasanpun sudah pernah kualami. Dan aku mulai berpikir apa benar ada mengajar yang sia-sia?

Guruku mengajarkan sebuah perumpamaan padaku tentang empat ekor kuda, manusia dalam belajar seperti empat ekor kuda ini.

Yang pertama adalah kuda hitam mewakili orang yang benar-benar memiliki passion dan keinginan kuat untuk belajar dan berkembang, jika disuruh untuk berlari baru melihat bayangan cambuk saja sudah langsung mengerti dan berlari secepat kilat.

Yang kedua adalah kuda putih mewakili orang yang memiliki keinginan belajar tetapi masih ada beberapa keraguan, mereka membutuhkan sedikit dorongan untuk belajar. Jika disuruh berlari dia harus merasakan cambukan sekali baru berlari secepat kilat.

Yang ketiga adalah kuda cokelat mewakili orang yang memiliki keinginan belajar tetapi tidak mau berusaha. Hanya ingin saja, mau sukses hanya dengan keinginannya. Jika disuruh berlari dia perlu dicambuk berkali-kali baru mulai bergerak, itupun pelan dan jika kita berhenti mencambuknya diapun berhenti berlari.

Yang keempat adalah kuda tua mewakili orang yang tidak mau berusaha, tidak mau tau dan keinginannya belajar adalah karena paksaan orang lain. Jika disuruh berlari biar dicambuk, ditusuk atau dibakarpun dia tidak mau berlari, dia pasrah saja dan memilih untuk mati daripada berlari.

Aku kemudian bertanya padaku bagaimana mengetahui mana yang kuda mana? "Ron jika kamu kusuruh loncat, apa yang kamu katakan?" dengan spontan kujawab, "Berapa tinggi Guru?" Beliau tersenyum, "Itulah tanda kamu kuda hitam, jika kuda putih dia akan bertanya kenapa harus meloncat, kuda cokelat akan beralasan yang intinya dia tidak mau meloncat, sementara kuda tua pura-pura tidak mendengarmu."

"Kamu seringkali mengajar kuda cokelat, kamu iba karena keinginan mereka belajar, berharap mereka bisa jadi kuda putih. Kamu tau itu, tapi kamu menutup mata karena iba. Kamu pernah merasa kesulitan untuk belajar, dan kamu tidak ingin mereka merasakannya."

Aku hanya diam sambil menundukan kepala, "Kebaikan bukan seperti itu Ron, kebaikan adalah ketika kamu membuat orang lain bahagia tanpa melukai dirimu sendiri."

Beberapa bulan telah berlalu sejak hari itu, tetapi baru hari ini aku memutuskan hanya akan mengajar kuda putih dan kuda hitam. Aku tidak ingin lagi merasakan sakit hati yang tidak perlu, atau harus kecewa dan merasa bodoh karena mengajar seseorang yang tidak mau berusaha belajar.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)