Rabu, 20 Mei 2015

Memilih untuk Tidak Jatuh Cinta

Katanya untuk membuat seseorang mencintaimu buatlah dia tertawa,
tetapi setiap dia tertawa akulah yang jatuh cinta.


Hari ini aku membaca buku Raditya Dika yang berjudul Koala Kumal, buku terbaru karyanya. Awalnya aku tidak berniat membacanya karena banyak komentar negatif terhadap buku ini. Entah Jodoh atau Kutukan, akhirnya buku ini tiba ke tanganku bulan lalu melalui orang lain dan ternyata aku menyukai buku ini.

Beberapa kisah dalam buku ini membangkitkan banyak kenanganku, terutama masa-masa kecil dan saat masih duduk di bangku SMA. Dari salah satu kenangan itu, ada sebuah kenangan yang seolah terlupa atau memang sengaja dilupakan, kemudian aku berpikir untuk menulisnya.

Saat itu aku telah memasuki tahun akhirku di SMA, seperti anak seumurku lainnya aku mempersiapkan UAN. Saat itulah terselip sebuah kisah yang sempat terlupakan.

Ada seorang gadis yang lebih muda dariku 2 tahun, seorang junior yang satu sekolah denganku. Parasnya cantik, kulitnya putih dan memiliki kepribadian menarik. Tidak heran begitu banyak siswa sekolahku dan sekolah lain berusaha mendapatkan hatinya.

Kami berdua sangat dekat, aku mengenalnya sebelum dia masuk ke SMA kami. Dia adalah adik sepupu sahabat karibku, aku sering bertemu dengannya saat bermain ke rumah sahabatku.

Suatu hari, ketika siswa kelas satu dan dua boleh pulang sedangkan para anak kelas 3 harus mendapat pelajaran tambahan untuk menghadapi UAN, aku duduk di bawah pohon dekat lapangan basket. Aku duduk sendiri, menikmati angin yang berhembus lembut. 

"Sendiri aja ko?" suara lembutnya membuyarkan lamunanku, "Nggak, ini sama teman udaraku, kamu nggak bisa lihat?" Kami berdua lalu tertawa kecil. Sebut saja namanya Selly (bukan nama sebenarnya).

"Belum pulang Sel?" dia kemudian duduk disampingku, "Di rumah nggak ada orang ko, jadi nunggu ko Weng aja." kepalanya kemudian menyandar di bahuku, dia sudah biasa melakukannya tetapi saat itu terasa begitu berbeda.

"Sekarang lagi ada pacar nggak ko?" pertanyaan itu seperti menghujam hatiku, "Nggak, lagi konsen ujian." (Klasik) Selly menghela nafas panjang mendengarnya, "Kenapa nanya gitu?" dia hanya mengelengkan kepalanya pelan dan masih menempel di bahuku.

"Aku berpikir, aku tidak bisa jatuh cinta ko." suaranya terdengar sangat pilu saat itu, "Kenapa?" Dia menegakan kepalanya, melihat ke langit biru. "Aku tidak yakin kenapa.."

"Mungkin karena aku dibesarkan dengan film Disney ko, dimana para wanita mendapatkan pria impiannya. Aku berharap bisa mendapatkan yang sama." Dia melihat ke arahku kemudian mengalihkan pandangannya, "Tetapi setiap pria yang kutemui terlihat bodoh dan brengsek, jelek juga."

"Semua? Aku juga?" aku memasang wajah memohon, "Kau tidak bodoh ko, tapi aku tidak bisa bilang kau tidak jelek dan brengsek." aku membantahnya, "Hanya karena aku tidak kemana-mana dengan kuda putih bukan berarti aku brengsek." dia tersenyum melihatku, "Bagaimana dengan bagian jeleknya?" Aku hanya bisa menyilangkan tangan di dada, "Aku tidak memiliki pembelaan untuk itu." Kami kembali tertawa kecil bersama.

"Kenapa sulit menemukan pria yang seperti itu ko?" Aku berpikir sejenak sebelum menjawabnya, "Sel, jika kamu dibesarkan dengan film disney, sebagian besar pria dibesarkan dengan film porno. Itu membuat mereka brengsek dan seringkali mengedepankan nafsu daripada cinta."

Wajahnya sama sekali tidak menampakan keterkejutan ketika mendengarnya, "Apa kau sama seperti itu ko?" Aku mengelengkan kepala, "Aku dibesarkan oleh film disney juga, aku masih menunggu wanita yang datang mencocokan kakiku dengan sepatu kaca yang dibawanya." Dia tertawa terbahak-bahak mendengarnya, melihatnya perasaan lama itu datang kembali. Bel berdering saat dia masih asik tertawa, "Aku harus masuk kelas Sel." Dia mengangguk.

Setelah itu kami bertemu lagi beberapa hari kemudian saat aku belajar kelompong bersama Weng, sepupunya. Selly memang menumpang tinggal di rumah Weng selama sekolah sejak SMP.

Weng asik bermain game di ruang tamu, setelah kami selesai belajar. Aku hanya menontonnya bermain, Selly datang dan mengajakku berbincang di teras rumah.

"Masih ingat percakapan kita kemarin ko?" Dia tidak melihatku saat mengatakannya, "Kenapa? Ada seorang wanita yang membawa sepatu kaca kemana-mana?" Selly kembali tertawa kecil mendengarnya, "Kenapa ko tidak pernah serius?" Aku menghela nafas, "Hidup terlalu melelahkan untuk ditanggapi dengan serius."

"Aku berpikir sejak kemarin.." dia menahan kata-katanya, "Berpikir apa?" aku masih ingat bagaimana wajahnya memerah, "Mungkin dengan ko, bisa berhasil." Aku tau hari ini akan datang, aku memalingkan wajahku darinya. Kami berdua diam cukup lama.

"Kamu ingat beberapa tahun lalu? Saat kita cukup dekat dan berjalan bersama-sama di malam minggu?" Dia berusaha mengingatnya, "Hari itu aku tersenyum selama kita bersama, senyum itu tidak pernah terhenti. Saat itu aku baru saja ditinggalkan seseorang yang penting bagiku." Raut wajahnya menunjukan bahwa dia ingat, "Di akhir hari itu, kamu berkata padaku. Aku tidak akan pernah menjadi pacarmu, seleramu terlalu tinggi. Kita lebih cocok sebagai teman."

Dia hanya diam mendengarkan, "Kita sama-sama menyadari perasaan masing-masing, tetapi kamu belum siap untuk cinta dan aku tidak percaya cinta. Demi itu kita sama-sama memilih untuk tidak jatuh cinta." Aku mengulurkan tanganku, membelai lembut rambutnya. "Sekarang, kamu bingung tentang cinta dan aku tidak siap untuk mencintai. Aku tidak ingin kita terluka dan kehilangan hal yang penting, maka itu sekali lagi aku memilih untuk tidak jatuh cinta." Air mata yang telah ditahannya akhirnya jatuh, aku ingin memeluknya tetapi aku menahan diri, untuk kebaikan kami bersama.

Sejak hari itu, dia mengambil jarak denganku. Aku mengerti, tidak mudah untuk mengikis rasa. Setelah lulus aku juga disibukan dengan banyak hal.

Beberapa tahun yang lalu saat sahabatku ini menyelesaikan kuliahnya, aku mengunjunginya dan bertemu kembali dengannya. Dia telah tumbuh menjadi gadis yang cantik, dan anggun. Kami tidak banyak berbincang, di akhir pembicaraan kami dia hanya mengatakan, "Aku masih memilih untuk tidak jatuh cinta." Aku mendengar dari sahabatku, setelah bertahun-tahun masih tidak ada pria yang bisa membuka hatinya.

Kami bertemu lagi di pernikahan sahabatku, Aku menceritakan tentang kekasihku. Dia tersenyum tulus, "Aku harap kamu bahagia dengan pilihanmu ko, doakan aku juga untuk bisa bahagia ya. Keputusan kita hari itu, dapat kurasakan hari ini. Patah hati membuatku kuat dan dewasa, aku akan mengingatnya selalu." Itulah terakhir kali kami berbincang.

Ya, pada akhirnya kami tidak bersama tetapi kami belajar dan menyimpan banyak kenangan baik dan indah. Memang sulit memilih untuk tidak jatuh cinta, tetapi jika itu tepat maka hasilnya akan lebih baik. Tidak ada gunanya memulai hubungan yang kita tau akan berakhir, mencintai lebih baik dengan kesiapan bukan karena kesepian. Cinta bukanlah permainan, tetapi sesuatu yang penting untuk melengkapi hidup kita.

Semoga kamu menemukan Cintamu dan Bahagia. Aku baru saja menghubungi sahabatku, dan menanyakan kabar Selly, darinya kudapatkan bahwa dia telah memiliki pasangan yang baik dan berbahagia. Kuharap mereka terus bersama dan bahagia.

2 komentar:

  1. baca postingan ini terasa kayak baca cerpen...
    tapi bedanya 'based on true story"...
    nice post :)

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)