Rabu, 20 Mei 2015

Synesthesia Kemampuan Melihat Bau, Mendengar Warna






Masih ingat dalam pelajaran Bahasa Indonesia kita dikenalkan dengan Sinestesia? Sebuah bentuk Metafora yang merupakan ungkapan menghubungan satu indera dan indera yang lain, misalnya Suaranya terang sekali, Rupanya manis, dan Namanya harum.

Di dunia ini ada sebuah kondisi yang mirip dengan hal tersebut pada manusia, kondisi mental ini disebut Synesthesia.




Bayangkan terlahir dengan kondisi seperti ini:
  • Setiap melihat angka tertentu, kamu melihat warna yang berbeda. Misalnya, angka 2 disertai warna biru, 4 merah, 8 ungu, dll.
  • Setiap mendengar nada tertentu, kamu melihat warna yang berbeda-beda.
  • Setiap mendengar/melihat hari (Senin, Selasa, Rabu, dll) melihat warna yang berbeda-beda.
  • Setiap menyentuh tekstur berbeda, kamu merasakan emosi yang berbeda. Kain jeans: “sedih”, sutera “damai”, lilin “malu”, dll.
Inilah dunia Synesthesia, suatu kondisi di mana persepsi tercampur-campur, angka dan warna, nada dan warna, bahkan emosi dan tekstur benda. Dan ini bukan “penyakit”, tetapi “kondisi” otak yang kebetulan dimiliki sebagian kecil manusia di dunia.

Jika seseorang mengatakan, minuman anggur rasanya persegi, angka lima kenyal seperti permen karet, hari Senin warnanya biru, atau nada-nada musik terlihat terbang di dalam ruangan. Paling-paling kita mengatakan, orang tersebut pengkhayal, pecandu ganja atau obat bius LSD atau bahkan orang yang tidak waras. Padahal, menurut penelitian para psikolog atau psikiater, satu dari setiap dua ribu orang, mengalami campuran persepsi semacam itu.

Orang-orang yang dapat melihat warna hari tertentu, atau merasakan keras atau lembeknya angka tertentu, digolongkan mengidap sindrom Sinesthesia. Sebetulnya fenomena kejiwaan ini sudah ditulis secara ilmiah sejak 300 tahun lalu. Ditulis, pada abad ke 17 ada seorang tuna netra yang menyatakan mampu mendengar penyakit cacar air, yakni seperti bunyi terompet. Akan tetapi, hingga akhir abad ke 19, tidak ada penelitian sistematis mengenai sinesthesia. Baru pada tahun 1883 ilmuwan Inggris, Francis Galton, melakukan penelitian dengan membandingkan persepsi para sinesthetiker yakni pengidap sinesthesia.

Galton menarik kesimpulan, bentuk sinesthesia paling umum, adalah fenomena mendengar warna. Memang kedengarannya amat janggal, warna dapat didengar. Hasil penelitian Galton cukup lama terlupakan dari dunia ilmu pengetahuan. Akan tetapi di akhir tahun 70-an, sinesthesia ibaratnya ditemukan kembali oleh Dr. Richard Cytowic, pakar ilmu saraf dan peneliti otak terkemuka, pendiri rumah sakit Capitol Neurology di AS.

Kasus sinesthesia pertamanya ditemukan secara tidak sengaja, pada tahun 1979. Ketika makan malam dengan seorang temannya, ia mendengar komentar, rasa ayamnya kurang banyak titiknya.Sebagai seorang dokter ahli saraf, Cytowic langsung bereaksi, dengan menanyai lebih jauh temannya tersebut. Dengan malu-malu, temannya mengakui, ia memiliki persepsi bentuk pada rasa makanan. Misalnya saja, ayam yang enak rasanya bentuknya terdiri dari banyak titik. Temannya juga mengeluh, banyak yang menyangka ia gila atau kecanduan narkoba, karena persepsinya yang tidak lazim itu. Ketika ditanyai lebih lanjut, temannya mengatakan ia merasakan persepsi bentuk dari rasa dimanapun ia makan. Ternyata kelainan itu sudah diidapnya sejak lahir. Temannya juga mengeluh, tidak ada satupun dokter menganggap fenomena itu sebagai penyakit. Dr.Cytowic langsung teringat pada penelitian Galton mengenai gejala sinesthesia. Ketika temannya diberitahu, bahwa ia tidak sendirian, karena cukup banyak yang mengidap sindrom Sinesthesia, barulah temannya merasa lega.

Cytowic mengatakan, ada orang yang memiliki persepsi angka lima kenyal seperti karet, atau musik karya Beethoven rasanya asin, atau masakan yang enak bentuknya persegi dan rangkaian kesan lainnya, yang bagi orang normal terdengar aneh. 

Seseorang yang mempunyai kondisi Synesthesia memiliki koneksi antar-bagian otak yang lebih kuat, khususnya wilayah otak yang mengatur tentang bahasa dan warna. Dengan semakin kuatnya koneksi antar-bagian otak tersebut, memunculkan efek pelatuk dimana satu aktivitas di bagian otak akan memicu terjadinya pergerakan aktivitas di bagian otak lain.

Dengan begitu, setiap mendengar nada tertentu seseorang akan melihat warna yang berbeda-beda, atau tiap seseorang melihat angka tertentu, akan selalu ada warna berbeda yang menyertai angka-angka tersebut.

Pada kasus lain, “Bau yang dicium memiliki bentuknya sendiri-sendiri, contohnya kotak untuk wangi udara segar, bau kopi adalah bulat, dan bau manusia adalah bulat dan kotak."

Pengidap Synesthesia di dominasi kaum wanita, sekitar 90% dikarenakan Synesthesia diyakini bersifat turunan dan terjadi karena kelainan pada kromosom X. Sebagian besar orang Synesthesia cerdas dan kidal.

Dalam sudut pandang dunia NeuroScientist, Synesthesia juga dibahas dengan menarik. Seperti dikutip dari Buku The Tell-Tale Brain karya VS Ramachandran, seorang NeuroScientist terkemuka di dunia.

Otak adalah salah satu organ yang paling sedikit dimengerti manusia. Sulitnya karena, otak tidak bisa diteliti dalam keadaan mati. Dan umumnya manusia hidup (dan sehat) agak keberatan kalo otaknya dibuka-buka. Karenanya dalam neuroscience, seringkali pengertian tentang cara kerja otak didapat dari kasus medis, misalnya kasus stroke, tumor otak, kecelakaan dengan cedera kepala, dll. Ketika ada bagian otak tertentu yang rusak, barulah ilmuwan mempelajari apa efeknya terhadap persepsi dan perilaku. Hanya belakangan saja ditemukan teknologi MRI, brain scan, dll. tetapi ini semua masih harus dikombinasikan dengan kasus-kasus medis. VS Ramachandran adalah salah satu neuroscientist yang bekerja dengan banyak pasien, dan kemudian menulis buku tentang penemuannya tentang otak dari pengalaman beliau.
 
Ada 2 kesalah-pahaman umum tentang indera dan persepsi:
  • Kita melihat dengan mata, mendengar dengan telinga, dll.
  • Penglihatan, pendengaran, dll adalah fungsi “tunggal”

Kekeliruan pertama, kita tidak pernah melihat, mendengar dengan indera kita, tetapi dengan OTAK. Mata, telinga, lidah, dll hanya menerima input (visual, audio, rasa, dll), di mana input ini dikonversi lagi menjadi sinyal-sinyal listrik, untuk kemudian DIREKONSTRUKSI di dalam otak. Semua persepsi kita bukanlah persepsi “langsung”, tapi sudah melalui proses panjang yang berjalan sangat cepat, sampai kita tidak menyadarinya.

Dengan kata lain, apa yang kita “lihat”, “dengar”, bisa saja berbeda dengan apa yang masuk ke mata dan telinga kita! Hebat yah?

Buktinya adalah kasus-kasus gangguan penglihatan bahkan kebutaan ketika bola mata kondisinya baik, yang disebabkan stroke, atau tumor otak.

Kekeliruan kedua, penglihatan bukanlah sebuah fungsi “tunggal”, layaknya sebuah kamera digital yang langsung menangkap semua gambar dalam satu layar. Neuroscience menunjukkan bahwa penglihatan terbagi menjadi banyak fungsi yang ditangani bagian otak berbeda. Ada bagian otak yang mengurusi warna, ada yang mengurusi gerakan, ada yang mengurusi pencahayaan, bahkan ada yang mengurusi bagian “mengenali obyek”. Ada banyak kasus pasien yang sesudah cedera otak kehilangan penglihatan untuk warna, atau tidak mampu melihat “gerakan”, atau bahkan tidak bisa mengenali benda, walaupun bola matanya normal. Dan ini semua karena salah-satu fungsi penglihatan terganggu, di dalam otak.

Synesthesia, adalah kondisi dimana persepsi seseorang “tercampur”. Melihat angka disertai warna, mendengar musik disertai warna, atau tekstur benda tertentu menciptakan “rasa di lidah” yang berbeda. Dan semua ini bukan imajinasi, tetapi benar-benar dirasakan.

Menurut VS Ramachandran, kondisi ini relatif baru-baru ini diakui dunia medis. Dahulu seringkali kondisi ini dianggap gangguan jiwa, schizophrenia, atau sekedar mencari perhatian. Melalui berbagai metode tes yang jenius, Ramachandran membuktikan bahwa fenomena ini riil, tidak dibuat-buat.

Belum ada penjelasan yang 100% pasti tentang kondisi ini. Salah satu hipotesa terkuat adalah adanya “cross-wiring” dua area otak yang bertanggung-jawab untuk persepsi yang berbeda. Area otak untuk “angka” dan area otak untuk “warna” ternyata memang posisinya bersebelahan, sehingga Ramachandran menduga adanya “sambungan” di antaranya untuk sebagian orang. Maka tidak heran ada orang yang melihat angka DAN warna secara bersamaan. Sama halnya dengan bentuk sinestesia yang lainnya (bagian otak untuk “pendengaran” juga dekat posisinya dengan bagian “warna”). Sekali lagi, ini belum menjadi penjelasan definitif dan satu-satunya.

Tentang KENAPA ada kondisi ini, Ramachandran belum bisa menjawab pasti, selain indikasi bahwa Synesthesia adalah kondisi genetis, bisa diturunkan. Tetapi yang menarik adalah dugaan adanya hubungan dekat antara synesthesia dan kreativitas!

Banyak penulis buku, pujangga, penulis puisi di dunia yang ternyata diduga memiliki Synesthesia. Dan tidakkah menarik jika dipikirkan, bahwa dunia kreatif penuh dengan metafora yang unik?

“Kepribadiannya seperti matahari”

“Pertemuan itu terasa manis”

“Hujan hari itu bagaikan tangisan yang pahit”

Kemampuan bermetafora di atas umum dijumpai di antara penulis/seniman berbakat. Mungkinkah synesthesia ada hubungannya dengan kreativitas, dengan memungkinkan otak manusia memiliki kemampuan berpikir metafora? Dan synesthesia adalah kondisi ekstrim dari hubungan antar bagian otak di balik kreativitas? Belum ada jawaban yang pasti untuk ini.

Yang menarik, banyak Synesthes (istilah untuk pemilik kondisi ini) yang menolak untuk “disembuhkan”. Ada beberapa kasus di mana obat antidepressant ternyata menghilangkan synesthesia secara temporary, dan hal ini dianggap suatu “kehilangan” oleh pengguna obat tersebut. Menurut mereka, dunia menjadi “hambar” ketika kondisi mereka “sembuh”. Bagi mereka, kondisi ini tidak mengganggu sama sekali, karena sudah terbiasa bertahun-tahun, dan kita yang tidak memiliki kondisi ini tidak bisa membayangkan sama sekali seperti apa rasanya.

7 komentar:

  1. namanya sinestesia ya
    kemarin ada berita wanita di amrik atau dimana
    yang jatuh ke jurang cedera otak dan jadi bisa melihat warna suara
    meskipun dia jd amnesia

    BalasHapus
  2. Iya, bisa karena kecelakaan bisa karena bawaan lahir :)

    BalasHapus
  3. kak tau drama korea girl who sees smell nggak? itu dia kena sindrom sinestesia bukan sih?
    tapi dari deskripsi yang kakak jelasin di sini dan yang di drama agak beda. eh atau emang sinestesia kayak gitu, aku nggak tau. contohnya ada adegan anjing yg hilang terus dia liat 'bau' anjing itu dan ngikutin jejaknya terus akhirnya ketemu. dia juga pernah nangkep penjahat karena nyium bau salon tempat si penjahatnya abis mencuri. dia dapet kekuatan ini setelah 6 bulan koma dari kecelakaan. pas bangun mata kirinya berubah warna jd biru terus bisa liat bau.
    terus karakter yang satunya dia krn kehilangan adiknya terus dia jd depresi dan pingsan, terus dia udah dinyatakan meninggal secara klinis selama 10hr. pas bangun dia kehilangan rasa sakit, indera pengecap, perasa, hampir semua. dia makan banyak juga nggak kenapa. aku nyari penyakitnya itu tapi gk nemu. di dramanya sempet disebut sih nama penyakitnya dia tapi nggak dijelasin secara khusus. kakak tau nggak nama penyakitnya? terus dia bisa disembuhin atau nggak? apa yg bikin dia jd kayak gitu deh? ada nggak cara biar bs nggak ngerasain sakit?
    aku kl nggak salah pernah baca artikel yg hampir sama tapi dia sindrom nggak punya rasa takut.

    BalasHapus
  4. Dita : Ya, di drama korea itu terinspirasi dari Synesthesia ini tetapi ditambahkan bumbu fiksi. Jadi tidak persis sama :)

    Kalau yang diderita pria itu namanya Analgesia
    http://shujinkouron.blogspot.com/2015/05/analgesia.html

    Ada lagi di drama itu namanya Prosopagnosia
    http://shujinkouron.blogspot.com/2015/05/prosopagnosia-atau-buta-wajah.html

    Untuk nggak punya rasa takut nama Urbach Wiethe
    http://shujinkouron.blogspot.com/2015/01/urbach-wiethe-kondisi-tanpa-rasa-takut.html

    BalasHapus
  5. aah gitu ya kak?
    makasih banyak kak penjelasannya :)

    BalasHapus
  6. Makasi banyak susah bgt nyari info tentang ini!!

    BalasHapus
  7. Sama-sama semoga bermamfaat :D

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)