Kamis, 04 Juni 2015

Hancurkan Rasisme dengan Menjadi Seperti Panda

Hancurkan Rasisme jadilah seperti Panda, 
Dia hitam, Dia Putih, Dia Asia dan Dia Mengemaskan

Jika kalian membaca tentang penulis, kalian akan menemukan ada bagian bahwa aku seringkali di identikan dengan Panda. Hal itu mulai terjadi sejak populernya Kungfu Panda yang pertama, cara Jack Black membawakan karakter Po sangat mirip dengan gayaku sehari-hari, dan juga ciri fisiknya tetapi bukan itu yang ingin kubahas saat ini.

Beberapa tahun lalu, saat aku sedang berkeliling di pusat perbelanjaan. Aku melihat disebuah toko baju, ada sebuah kaos dengan motif seperti gambar di atas. Aku langsung merenung dan memandangi gambar itu, sampai mbak penjaga tokonya mendatangiku dan bilang, "Untuk ukuran mas nggak ada, maaf."

Rasisme adalah suatu masalah yang masih saja sering terjadi, Di Indonesia sendiri masalah rasisme juga cukup tinggi, lebih luasnya adalah SARA.

Aku sendiri sering mengalaminya baik di dalam maupun luar negeri, untungnya kalau di dalam negeri seringkali bisa kita anggap sebagai senda gurau tetapi memang ada beberapa stereotype yang tidak pernah hilang dan menurutku tidak masuk akal.

Cina itu semuanya kaya

Hm, jujur sih banyak juga loh keturunan tionghua yang hidupnya pas-pasan dan bahkan hidup susah. Banyak keturunan tionghua yang jadi pedagang karena tidak memiliki pendidikan untuk bekerja di kantor.

Cina itu semuanya pelit

Ini juga aneh, pelit itu tidak tergantung ras tetapi pandangan ekonomi. Itu enci-enci yang hobi belanja bagian mananya yang pelit coba?

Kalian tentu sudah tidak asing jika tinggal di Indonesia dengan hal-hal seperti itu, setiap suku dan ras memiliki stereotypenya sendiri. Ini juga tidak bisa dihindari ketika bersosial di forum internasional, ketika aku salah sedikit menulis grammar, "Bukankah seharusnya orang asia itu pintar?" Ini seringkali juga dibuat Meme.

Banyak juga yang berpikir semua orang asia itu orang cina atau korea, temanku yang asli orang korea sering dianggap orang cina, sementara aku seringkali dianggap orang korea.

Sering juga orang memanggilku gendut, eh tapi itu bukan karena rasis ya, hehe. Ya intinya tulisan singkat ini adalah bukankah dunia lebih indah jika kita menerima perbedaan tanpa melecehkannya. Kita sama-sama manusia yang hidup di dunia ini, sama-sama punya perasaan. Bukankah kita sebenarnya satu keluarga?

Stop Rasis, untuk dunia lebih baik :)



4 komentar:

  1. Bener juga ya, Panda itu berwarna hitam, campur putih, dan lainnya.

    Kalo gue sih lebih menghargai orang, walaupun dari segi fisik dia agak sedikit punya kekurangan, tetapi kita sesama manusia harus saling menghargai.

    Kalo orang Indonesia pasti selalu ingat, Bhinneka Tunggal Ika, berbeda beda tapi tetap satu :)

    BalasHapus
  2. baru-baru ini sepertinya berbuat rasis sedang menjadi gaya hidup bagi sebagian orang :)

    BalasHapus
  3. Setujuuu banget! Stop Rasis! yang cuma bikin sempit hati dan fikiran...:)

    BalasHapus
  4. @Afif : Ya, slapstik juga sebaiknya dihindari untuk hubungan sosial yg sehat :)

    @Jarwadi : Benar, seolah-olah menjadi sebuah hiburan :)

    @Kak Tia : Bagus banget nih Kak Tia :D

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)