Rabu, 03 Juni 2015

Siapa yang Memindahkan Kejuku? Who Moved My Cheese?

Salah satu buku terbaik yang pernah kubaca tentang perubahan bisa dibilang adalah buku berjudul Who Moved My Cheese. Bukan hanya menjelaskan bagaimana menghadapi perubahan dengan baik melalui kisah yang sederhana tetapi juga bagaimana menyikapi kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam perubahan itu dengan cara yang mudah.

Tentunya saat ini cukup sulit menemukan buku ini dengan bahasa Indonesia yang baik, atau terlalu sedikit waktu untuk membaca buku itu. Maka dalam tulisan kali ini, aku merangkum buku tersebut menjadi lebih sederhana tanpa mengurangi inti dari kisah tersebut.

Who Moved My Cheese?
 
 Who Moved My Cheese? Buku yang ditulis oleh Spencer Johnson, mengisahkan 4 karakter tokoh, Sniff, Scurry, Hem, dan Haw yang mencari cheese di Maze yaitu suatu labirin yang gelap dan sering menyesatkan. 
 
Sniff, si tukang endus dan Scurry, si tukang lacak mulai berlari cepat menyusuri lorong. Dengan menggunakan instingnya, mereka memilih metode trial and error. Sering kali mereka tersesat ke jalan yang salah, tapi mereka terus mencoba mencari jalan yang lain. Sedangkan Hem dan Haw dengan kemampuan berpikir dan belajarnya juga berusaha mencari cheese yang lezat. 
 
Akhirnya keempatnya menemukan tumpukan cheese di suatu tempat bernama Cheese Station C. Mereka sangat bersuka cita dan mulai menikmati kelezatan Cheese tersebut sepuasnya. Setelah itu, setiap hari mereka rutin mengunjungi Cheese Station C. 
 
Sniff dan Scurry selalu bangun pagi menuju tempat itu, melepas sepatu, mengikat keduanya dan menggantungkan di lehernya, dan sebelum menikmati cheese, mereka memeriksa tempat itu apabila ada perubahan. 
 
Hem dan Haw mula-mula juga selalu bangun pagi namun lama kelamaan karena mereka sudah tahu jalan menuju cheese itu, mereka mulai bangun siang dan berjalan santai. Hem dan Haw merasa bahagia dan puas dengan tempatnya yang baru sehingga mereka menjadi arogan.

Suatu hari mereka berempat menemukan bahwa Cheese Station C kosong. Cheese telah hilang!! Sniff dan Scurry tidak kaget dengan kenyataan itu karena mereka sadar bahwa cheese itu lama-lama akan habis karena setiap hari dimakan.
 
 Mereka siap dengan keadaan yang tak terelakkan ini. Segera saja Sniff dan Scurry memakai sepatu dan langsung berlari mencari cheese yang baru. Mereka melihat bahwa Cheese Station C telah berubah, maka merekapun memutuskan untuk berubah. 
 
Beda sekali dengan reaksi Hem dan Haw dalam menghadapi ini. Mereka kaget, marah, dan berteriak keras Who Moved My Cheese? Hem menilai keadaan ini tidak adil karena mereka merasa berhak menikmati cheese itu selamanya dan menyalahkan orang lain yang telah memindahkan cheese itu.
 
 Sedang Haw mulai berpikir, bagaimana hal ini bisa terjadi. Mereka berdua takut, bagaimana mereka akan bisa hidup tanpa cheese itu. Ada apa sih?! Mana Cheese nya? Siapa sih yang memindahkan Cheeseku? Kembalikan Cheese nya dong? Hem berseru sambil marah-marah.
 
 Haw juga tidak bisa percaya kalau cheese mereka telah hilang. Kedua kurcaci ini tidak tahu berbuat apa. Mereka berdiri saja, tidak bisa bergerak seperti patung. Haw menyarankan, mungkin sebaiknya kita berhenti menganalisa situasinya dan pergi saja mencari Cheese baru. Tapi Hem tidak setuju, pokoknya aku akan menyeledikinya hingga tuntas.

Di lain tempat, Sniff dan Scurry masih berlari kesana kemari tanpa kenal lelah mencari cheese yang baru. Berulang kali mereka melewati jalan buntu dan memasuki tempat yang kosong, tidak ada cheese. Tapi mereka terus mencoba. Akhirnya mereka sampai di suatu tempat bernama Cheese Station N yang berisi cheese. Cheese di situ ternyata lebih lezat dari cheese di tempat yang lama. Mereka menikmatinya dengan puas.

Hem dan Haw masih terus mendatangi Cheese Station C dan berharap cheesenya kembali. Tapi harapan mereka sia-sia. Hem diam dan putus asa. Sedang Haw mulai tidak tahan dengan keadaan seperti itu dan mencoba mencari cara untuk bisa menemukan cheese itu.
 
 Keduanya lantas memahat dinding tempat itu, ternyata cheese yang dicari tetap tidak dapat ditemukan. Haw mengajak Hem mencari cheese yang baru di luar. Tapi Hem menolak karena dia masih yakin cheesenya akan kembali dan berpikir bahwa belum tentu mereka akan memukan cheese di luar sana. 
 
Diam-diam Haw juga didera rasa takut untuk memasuki tempat-tempat asing yang gelap dan menyesatkan. Tapi dia telah membayangkan bahwa di luar sana dia akan mendapatkan cheese yang lezat. Haw menertawakan kebodohannya. Mengapa dia hanya membayangkan tapi tidak berusaha keluar? Karena Hem tidak mau diajak, Haw pergi sendiri.

Di sepanjang perjalanan dia disergap rasa takut yang amat sangat. Ada kalanya dia ingin kembali ke tempat semula yang enak dan aman, tapi dia menyadari bahwa disitu tidak ada cheese lagi. Anehnya, semakin lama dia merasa langkahnya semakin ringan. Dia merasa nyaman telah terbebas dari rasa takutnya dan sangat menikmati saat melakukan hal-hal baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Di sepanjang jalan dia memberi tanda dengan menuliskan sesuatu di dinding. Dia berharap hal itu bisa dijadikan jejak yang dapat diikuti Hem, sahabatnya, jika Hem berniat menyusulnya.

Akhirnya dia sampai di Cheese Station N dan menjumpai Sniff dan Scurry yang tengah menikmati cheese. Haw begitu gembira dengan penemuannya dan bersama-sama Sniff dan Scurry menikmati cheese yang lezat. Haw hanya bisa berharap berharap Hem segera dapat melepaskan diri dari rasa takut dan segera bergerak ke tempat lain.

Who Move My Cheese? adalah cerita tentang perubahan yang terjadi pada suatu tempat dengan lorong-lorong yang ruwet di mana empat karakter mencari cheese.
 
Cheese ini adalah metafora tentang apa yang kita inginkan dalam hidup: pekerjaan, suatu hubungan, uang, rumah besar, kebebasan, kesehatan, pengakuan, kedamaian hati, atau sekedar aktivitas sederhana seperti lari pagi atau main golf, misalnya. Setiap kita boleh punya bayangan tentang apa itu cheese yang kita anggap patut kita dapat dan bisa membuat kita bahagia.

Empat karakter dalam cerita tersebut menggambarkan bagian dari kita yang sederhana dan yang kompleks. Si Tikus: Sniff dan Scurry dan Si Littlepeople: Hem dan Haw. Kadang kita bertindak seperti Sniff yang segera mencium adanya perubahan. Bisa jadi kita bisa seperti Scurry yang bisa segera bertindak begitu tahu ada perubahan. Barangkali kita lebih sering seperti Hem yang menyangkal dan menolak perubahan karena takut perubahan itu akan membawanya kepada situasi yang lebih buruk. Atau mungkin kita seperti Haw yang belajar beradaptasi karena melihat bahwa perubahan justru bisa membawanya kepada sesuatu yang jauh lebih baik!

Sebenarnya apa yang membuat kita takut untuk berubah? Ketakutan, pada porsi yang tepat, baik juga bagi kita, bisa membuat kita waspada, dan melakukan tindakan tertentu agar kondisi tidak menjadi lebih buruk. Tetapi terlalu ketakutan sehingga kita tidak berani melakukan apa pun tentu tidak baik. Jadi seperti Haw, pertanyaannya ketika kita ragu dan ketakutan untuk bertindak adalah What would you do if you weren't afraid?

Beberapa pembelajaran yang dapat di ambil dari buku ini adalah :

  1. Jangan pernah takut menghadapi suatu perubahan dalam hidup.
  2. Jika Anda tidak mau melakukan perubahaan, Pasti anda akan musnah atau akan terjebak di kondisi seperti itu terus.
  3. Satu hal yg sangat penting dari perubahaan Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.
  4. Perubahan akan terjadi, baik anda mngharapkan atau tidak. Perubahan akan mengejutkan apabila kita tidak menghendakinya & tidak menyadarinya.
  5. Saat anda berhenti dari rasa takut, pasti anda akan merasakan lebih baik.
  6. Dengan menaruh perhatian pada perubahan kecil sejak awal akan membantu anda beradapasi dengan perubahan yang lebih besar di masa yang akan datang.
  7. Cara yang cepat untuk berubah adalah dapat mentertawakan kebodohan diri sendiri, sehingga kita dapat merelakannya & cepat-cepat bergerak maju.

2 komentar:

  1. Saya pernah ngikutin training motivasi yang diadain HRD di kantor. Judulnya persis sama dan dengan video yang enak dinikmati dan dicerna. Pesan yang disampaikan bagus sekali. Menurut saya sih inti dan kesimpulan secara global adalah "kita harus keluar dari zona nyaman untuk sesuatu yang lebih"

    BalasHapus
  2. Iya, biasanya kalau untuk training ada videonya. :)

    Benar, terkadang yang buat orang kesulitan untuk meraih sesuatu yang dia inginkan itu adalah karena tidak bisa keluar dari zona nyamannya.

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)