Rabu, 19 Agustus 2015

Hari Kemerdekaan dan Bendera yang Hilang

Bermimpilah setinggi langit, Jika engkau jatuh maka kau berada di bintang-bintang,
Soekarno - Presiden Pertama RI


Kutipan itulah yang membuatku tidak bisa melupakan Presiden Pertama RI sekaligus pejuang kemerdekaan Indonesia, Bapak Soekarno.

Sebenarnya aku bukanlah orang yang nasionalis apalagi seorang patriot. Kalau ikut lomba 17an pun hanya makan kerupuk dan tarik tambang saja. Setiap tahunnya, di hari yang sama itulah aku bertanya, Apakah indonesia sudah merdeka?

Pertanyaan ini pertama kali kupikirkan saat duduk di bangku SMP, karena guruku mengatakan sesuatu yang sumbernya sampai hari ini masih tidak jelas.

Indonesia Tanah Airku, Tanah sewa Air masih beli. Begitulah kalimat itu terlontar dari mulut beliau. Ketika anak murid yang lain tertawa mendengarnya, di kepalaku hanya terngiang pertanyaan itu.

Seiring berjalannya waktu, pertanyaan itu semakin lama semakin kuat apalagi setelah mengenal dunia politik serta sistem pemerintahan negeri ini. Bisa dibilang perjuangan para pahlawan zaman dulu lebih mudah melawan penjajah, karena memiliki musuh dan tujuan yang jelas. Sekarang, negeri ini harus melawan bangsanya sendiri yang terpecah belah karena kepentingan elit politik.

Jadi apakah kita sudah merdeka?

Hal yang cukup menarik perhatianku sejak lama adalah setiap rumah di Indonesia diwajibkan memiliki bendera merah putih, dan setiap menjelang hari kemerdekaan selalu ada pemberitahuan keliling untuk menaikan sang saka merah putih di depan rumah. Kenapa harus diingatkan dulu baru memasang? Kenapa tidak ada inisiatif untuk memasangnya sendiri?

Tahun ini yang kupikir akan sama ternyata sedikit berbeda. Intruksi pemasangan bendera adalah H-3 jadi tanggal 14 Agustus bendera mulai terlihat disepanjang rumah hunian. Semua berjalan baik-baik saja sampai Hari Kemerdekaan tiba.

Ketika keluar pagi hari untuk mencari seonggok bubur, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Pada saat pulangpun aku merasa ada sesuatu yang kurang tetapi kutepis pikiran itu. Hal ini terus mengangguku hingga sore harinya ayahku bertanya padaku, "Nak, benderanya kau taruh mana? Kau masukan ke rumah kah?"

Aku dengan wajah bingung, "Tak ada masukan bendera." Hening sejenak lalu bapak dan anak inipun tersadar, bendera mereka telah dicuri orang.

"Siapa yang curi bendera? Patriot sekali, mau di bawa lari ke jalan atau gimana?"
"Kamu pergi cari sana, Bapak ada urusan."

Sambil mengerutu akhirnya aku pergi mencari ke sekeliling komplek rumahku. Sebenarnya tidak sulit jika aku melihat bendera kami, karena ada tulisan besar nama ayahku di tiang bendera itu. Setiap aku bertanya pada tetangga yang aku dapat hanya tawa mereka yang terbahak-bahak.

Ya,ya aku mengerti. Pasti mereka berpikir orang gila mana yang mencuri bendera. Aku sendiri berpikir itu tidak masuk akal. Akhirnya aku memilih untuk pulang saja. Dalam perjalanan pulang, aku melihat tiang bendera yang mirip sekali dengan milik kami, jadi aku mendekati rumah tersebut.

Aku memperhatikan bagian yang harusnya ada nama ayahku, terlihat bagian itu baru saja dikikis dengan pisau atau benda tajam lainnya. Aku memanggil keluar pemilik rumah untuk bertanya, awalnya dia mengelak tetapi akhirnya mengaku juga bahwa dia memang mengambil tiang bendera ini.

Alasan dia melakukan ini ternyata jauh dari patriot, bapak ini kehilangan benderanya. Dia lupa dimana terakhir kali dia meletakan bendera merah putihnya. Akibatnya dia tidak bisa memasang bendera di depan rumahnya. Dia kemudian ditegur oleh orang pemerintah saat berkeliling, sampai diancam akan dibawa ke polisi jika tidak segera menaikan bendera di depan rumahnya.

Dia juga tidak ingin "membuang" uang untuk membeli bendera bersama tiangnya sehingga dia berpikir lebih baik dia mencuri.Entah bagaimana mencuri itu lebih baik.  Hasilnya kejadian ini terjadi.

Bapak ini sama sekali tidak meminta maaf dan mengatakan untuk bawa pulang saja benderanya, tidak ada tanda-tanda menunjukan rasa bersalah juga tetapi aku terlalu malas untuk berurusan dengan orang seperti ini. Aku pulang sambil membawa benderaku, dan saat itu aku merasa bahwa merebut kembali bendera merah putih ini ternyata membawa sebuah perasaan yang memuaskan.

Apakah kalian juga mengalami kejadian yang tak terlupakan di Hari Kemerdekaan tahun ini?

2 komentar:

  1. Dengan atau tanpa bendera, hidup masih akan tetap sama Ron...
    Rasa bangga itu tidak akan memberikan apa-apa untuk kehidupan yang lebih baik
    Negeri ini masih jauh dari merdeka

    BalasHapus
  2. Benar kak, Itulah yang kadang membuatku agak berat ketika dituntut patriot.

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)