Minggu, 23 Agustus 2015

Hipokondria


Jika sebelumnya di blog ini aku pernah membahas Munchausen Syndrom dimana seseorang berbohong tentang memiliki penyakit untuk mendapat perhatian dari orang lain maka berbeda halnya dengan kondisi psikologis satu ini.

Pernah mendengar istilah, "Penyakitmu itu hanya ada di pikiranmu." ? Kalimat ini sebenarnya ditujukan untuk mereka yang memiliki Hipokondria. Perbedaannya dengan Munchausen  Syndrom adalah mereka yang memiliki Hipokondria benar-benar percaya bahwa diri mereka sakit.




Hypochondria atau Hipokondria adalah suatu gangguan somatoform dimana individu terpreokupasi ketakutan mengalami suatu penyakit serius yang menetap terlepas dari kepastian medis yang menyatakan sebaliknya.
Orang-orang yang mengalami penyakit hipokondria biasanya akan menganggap dirinya terkena kanker otak saat terserang pusing atapun menyangka bahwa dirinya terkena gejala kanker jika terkena batuk, meskipun masih dalam tahap yang ringan.

Individu yang di diagnosis menderita hipokondria akan disibukkan dengan rasa takut yang luar biasa, dimana dirinya merasa memiliki penyakit serius yang mendasarinya. Padahal tidak ada dasar organik yang bertanggung jawab sepenuhnya atas keluhan mereka yang membenarkan bahwa mereka memiliki penyakit serius.

Namun ketakutan memiliki penyakit serius tersebut akan bertahan di pikiran mereka, meskipun tidak ada kepastian medis yang menemukan bukti dari keluhan yang mereka rasakan. Ketakutan ini dapat mengganggu kegiatan yang biasanya individu tersebut lakukan sehari-hari.

Penderita hipokondria juga, tidak secara sadar berpura-pura akan simptom fisiknya. Mereka umumnya mengalami ketidaknyamanan fisik, sering kali melibatkan sistem pencernaan atau campuran antara rasa nyeri dan sakit. Tidak seperti gangguan konversi atau gangguan somatisasi, hipokondria tidak melibatkan disfungsi tubuh ekstrim atau gejala medis.

Sebaliknya, orang dengan hipokondria salah menginterpretasikan atau melebih-lebihkan reaksi tubuh yang biasa, sehingga orang yang mengembangkan hipokondria sangat peduli, bahkan benar-benar terlalu peduli, pada simptom dan hal-hal yang mungkin mewakili apa yang ia takutkan. Meski prevalensi hipokondria masih belum diketahui, gangguan ini tampak sama umumnya diantara pria maupun wanita.


 
Gangguan hipokondria umumnya muncul pada masa dewasa awal, dan cenderung memiliki perjalanan yang kronis. Biasanya Paling sering bermula antara usia 20 dan 30 tahun, meski dapat muncul di usia berapapun.

Penderita hipokondria akan menjadi sangat sensitif terhadap perubahan ringan dalam sensasi fisik, seperti denyut jantung yang tidak teratur, berkeringat, batuk yang tidak sering, setitik rasa sakit, sakit perut, sebagai keyakinan mereka.

Padahal kecemasan akan simptom fisik dapat menimbulkan sensasi fisik tersendiri-misalnya, keringat berlebihan dan pusing, bahkan pingsan, mereka juga melihat kemungkinan untuk dapat mengobati penyakitnya sangat rendah dan melihat diri mereka lemah dan tidak dapat mentoleransi upaya fisik. Hal ini cenderung menciptakan lingkaran setan (vicious cycle).

Selain itu, Penderita hipokondria akan menjadi marah saat dokter mengatakan bahwa ketakutan mereka sendirilah yang menyebabkan simptom-simptom fisik tersebut. Mereka sering “belanja dokter” dengan harapan bahwa seorang dokter yang kompeten dan simpatik akan memperhatikan mereka sebelum terlambat.

Ciri-Ciri Diagnostik Hipokondria :

1. Orang tersebut terpaku pada ketakutan mengalami penyakit serius atau memiliki keyakinan bahwa orang tersebut memiliki penyakit yang serius. Orang tersebut menafsirkan sensasi tubuh atau tanda-tanda fisik sebagai bukti dari penyakit fisiknya.

2. Ketakutan terhadap suatu penyakit fisik, atau keyakinan memiliki suatu penyakit fisik yang tetap ada meski telah diyakinkan secara medis.

3. Keterpakuan tidak pada intensitas khayalan (orang tersebut mengenali kemungkinan bahwa ketakutan dan keyakinan ini terlalu dibesar-besarkan atau tidak mendasar) dan tidak terbatas pada kekhawatiran akan penampilan.

4. Keterpakuan menyebabkan distress emosional yang signifikan atau mengganggu satu atau lebih area fungsi yang penting, seperti fungsi sosial atau pekerjaan.

5. Gangguan telah bertahan selama 6 bulan atau lebih.

6. Keterpakuan tidak muncul secara eksklusif dalam konteks gangguan mental lainnya.


Faktor-Faktor Penyebab Gangguan

Pengetahuan tentang faktor penyebab dalam gangguan somatoform, termasuk hipokondria, cukup minim dibandingkan dengan banyak gangguan lainnya. Namun ada dua faktor yang dapat menyebabkan seseorang menderita gangguan hipokondria diantaranya faktor biologis dan faktor psikososial.

a. Faktor biologis

Ditemukan adanya faktor genetik dalam transmisi gangguan somatisasi serta adanya penurunan metabolisme (hipometabolisme) suatu zat tertentu di lobus frontalis dan hemisfer nondominan. Selain itu diduga terdapat regulasi abnormal sistem sitokin yang mungkin menyebabkan beberapa gejala yang ditemukan pada gangguan somatisasi, yang bisa berkaitan dengan hipokondria.

Selain itu, dapat pula diakibatkan oleh faktor kognitif, yaitu ketika tanda-tanda tubuh normal disalah tafsirkan sebagai tanda patologi organik yang serius. Sekarang ini banyak peneliti mengatakan bahwa kecemasan berhubungan dengan hipokondria.

Proses perhatian selektif dalam kecemasan kesehatan mungkin mirip dengan yang ditemukan pada gangguan panik. Asumsi ini mungkin merupakan manifestasi dari pengalaman di masa lalu maupun yang sedang berlangsung. Sehinggaseperangkat asumsi disfungsional tentang gejala dan penyakit tersebut, dapat mempengaruhi seseorang untuk menderita hipokondria.

b. Faktor Psikososial

a. Memiliki penyakit yang serius selama masa kanak-kanak

b. Memiliki riwayat keluarga hypochondriac

c. Pernah mengalami stres berat yang menyebabkan trauma (misalnya, kematian orang tua atau teman dekat)

d. Mengalami kekerasan fisik, seksual, trauma pada masa anak-anak

e. Mungkin terkait dengan gangguan kejiwaan lain, seperti kecemasan atau gangguan obsesif-kompulsif. Dengan kata lain, hipokondriasis dapat mengembangkan dari suatu gangguan atau menjadi tanda dari salah satu gangguan lain

f. Perkuatan yang diperoleh dari lingkungan sosial. Misalnya, karena mendapatkan pengalaman yang menyenangkan waktu menderita sakit, selanjutnya seorang anak mulai mengeluh menderita macam-macam penyakit setiap kali menghadapi tantangan hidup.

g. Menyaksikan kekerasan di masa kanak-kanak

h. Rejected children

i. Orang-orang yang memiliki riwayat kekerasan fisik atau seksual lebih mungkin untuk mengalami gangguan Hipokondria. Namun, ini tidak berarti bahwa setiap orang dengan gangguan hipokondria memiliki riwayat penyalahgunaan.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)