Jumat, 28 Agustus 2015

Kerang Rebus dan Kerang Mutiara



Saat itu aku masih duduk di bangku SMP, aku mencapai titik terendah dalam hidupku untuk pertama kalinya. Aku merasa hidupku sia-sia karena harus menerima hal-hal yang seharusnya tidak pantas kudapatkan.

"Kekuatan yang besar datang dengan tanggung jawab yang besar." kira-kira seperti itulah yang terjadi. Banyak tanggung jawab yang tidak umum dimiliki anak seusiaku yang harusnya menikmati masa mudanya.

Kala itu aku pulang ke rumah dengan perasaan kesal dan mengurung diri di dalam kamar, berencana untuk tidak masuk sekolah esok harinya. Ibuku bertanya apa yang terjadi padaku, tetapi aku tidak mau menjawabnya. Tidak akan ada yang mengerti situasiku saat itu begitu pikirku.

Aku bisa memahami jika orang lain tidak bisa mengerti diriku, sebagian besar dari mereka iri dan ingin menjalani yang kualami. Menurut mereka harusnya aku bahagia menjalaninya, tetapi tidak semua orang menginginkan sebuah posisi yang diinginkan banyak orang bukan?

Aku berpikir jika aku bisa berkata "Tidak" maka aku tidak perlu begitu menderita, hal-hal yang menurutku sia-sia dan tiada artinya. Jika dipikir kembali, aku benar-benar anak muda yang punya pikiran rumit.

Esok harinya, ayahku sudah siap dengan peralatan pancingnya membangunkanku dari tidur dan mengajakku memancing. Dia menarikku ke kamar mandi dan menunggu di depan kamar mandi sampai aku selesai. Dia melakukan itu tanpa banyak dialog diantara kami.

Aku tidak mengerti apa yang terjadi tetapi ikut saja apa yang dikatakan ayahku, kami menuju laut hari itu dengan motor bututnya. Kami menyewa kapal dan pergi memancing tidak begitu jauh dari laut, hal itu membuat suasana hatiku cukup membaik. Ayahku menyadarinya dan baru menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

Aku menceritakan semuanya dan ayahku hanya diam mendengarkan. Setelah aku selesai bercerita, kami makan siang dengan lauk yang kami beli sebelum menaiki kapal. Kerang rebus masak pedas dengan nasi.

Ketika kami selesai makan, ayahku menceritakan sebuah kisah yang tidak pernah kulupakan. Dia pertama kali mendengarnya dari seorang pelaut saat dia masih bekerja di kapal.

Suatu hari kerang-kerang yang masih muda mulai belajar mencari makanan sendiri, ketika mereka mencari makan maka mereka harus membuka cangkang mereka. Setiap kali mereka makan, akan ada pasir yang masuk ke dalam cangkang mereka dan itu sangat menyakitkan.

Sebagian besar kerang akan segera memuntahkan pasir itu, sementara beberapa kerang akan melakukan hal yang berbeda.

Beberapa kerang akan menerima pasir yang masuk dalam cangkang mereka, tentunya itu menyakitkan sampai mereka menangis. Tapi mereka menghadapi rasa sakit itu dengan kasih serta kepandaian. Air mata mereka dialirkan ke pasir itu, dan perlahan rasa sakit berkurang.

Bertahun-tahun kemudian kerang-kerang yang bertahan ini akan dipajang di toko-toko dengan harga yang mahal sementara yang memuntahkannya hanya akan menjadi makanan seperti makan siang kita karena pasir yang mereka hadapi itu telah berubah menjadi butiran indah mutiara.

Semua orang tidak ingin tersakiti, terbebani dan menerima sesuatu yang buruk tetapi jika kamu bisa mengasihinya dan cerdas dalam menghadapinya maka hal-hal buruk itu akan menjadi pengalaman tak ternilai yang menjadi mutiara dalam dirimu.

Kisah ini sebenarnya menyampaikan "Apa yang tidak membunuhmu, membuatmu lebih kuat." dan kisah ini mengubah hidupku sejak itu, dan kuharap juga bisa memberikan perubahan dalam hidup kalian.

Catatan : Beberapa tahun lalu aku membaca ternyata kisah ini populer di internet karena seorang trainer bernama Jamil Azzani juga mendengarkan kisah yang mirip dari Ayahnya. Aku kemudian mencari tau asal sebenarnya dari kisah tersebut dan menemukan ada kisah yang hampir sama pernah disampaikan oleh Mencius kepada murid-muridnya lebih dari ribuan tahun lalu tetapi asal sebenarnya tidak diketahui, sebenarnya yang penting adalah maknanya bukan? :)

2 komentar:

  1. Bener banget tuh, what doesn't kill you makes you stronger.
    Btw, emang mancing di tengah laut gitu ga mabok ya?

    BalasHapus
  2. Waktu itu angin lautnya bagus jadi nggak banyak ombak cuma memang nelayan ga bisa melaut dalam kondisi gitu.

    Mabuk sih pasti cuma nggak parah, haha.

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)