Jumat, 28 Agustus 2015

Kumpulan Tabu dan Kepercayaan Orang Tionghua #1



Jika anda seseorang yang tidak menyukai aturan atau larangan maka tumbuh besar dalam keluarga Tionghua yang masih memegang erat tradisi adalah neraka. Kehidupan robot mungkin jauh lebih baik karena hampir semua hal ada aturannya.

Aku memiliki seorang ayah yang sangat memegang kuat tradisi sementara kakek dari sebelah Ibu juga orang yang kental terhadap budaya. Jadilah kehidupanku selalu dipenuhi dengan berbagai tabu dan kepercayaan orang Tionghua. Sebenarnya banyak juga temanku yang keturunan Tionghua tetapi tidak banyak tau tentang tabu-tabu ini. Banyak juga yang bukan keturunan ingin mendengar tabu-tabu tersebut.

Berbeda dengan mereka yang hanya menuruti tanpa bertanya alasan dari tabu tersebut, sebagai orang yang logis aku menyelidiki sejarah dan alasan dari tabu-tabu tersebut, menurutku hal ini menarik bagi mereka yang ingin mengenal dan memahami alasan-alasan tabu-tabu ini. Jadi selamat menikmati, jika ada pertanyaan tentang tabu tertentu silahkan menulis di komentar. Aku akan berusaha menjawabnya.

Cermin

Jika anda melihat rumah-rumah Tionghua kuno, anda bisa melihat cermin berada di atas pintu masuk dan juga beberapa sudut yang tidak biasa diletakan cermin. Itu karena orang Tionghua percaya bahwa cermin dapat mengusir hantu.

Jika hantu melihat pantulan diri mereka di cermin mereka akan ketakutan pada rupa mereka sendiri yang buruk. Sayangnya hal itu tidak bisa digunakan untuk mengusir tamu yang menjengkelkan ya.

Cermin juga tidak baik dihadapkan di dekat tempat tidur, dikatakan bisa menganggu pernikahan. Sebenarnya ada alasan lain, tentu anda bisa terkejut jika bangun tengah malam dan melihat wajah anda sendiri di cermin, apalagi mereka yang imajinatif akan melihat sesuatu yang tidak-tidak.

Cermin juga disarankan tidak memantulkan jendela, apalagi jika pemandangan jendela itu buruk dan juga bisa membuat rasa khawatir karena sesuatu muncul dari jendela.

Mencuci

Orang Tionghua menyakini bahwa tidak boleh menjemur pakaian di tempat yang bisa dilihat orang atau mencuci sesuatu di depan rumah, baju misalnya.

Ada dua versi yang dipercaya yaitu mereka akan ikut mencuci keberuntungan rumah tersebut dan kedua bahwa dewa keberuntungan biasanya mendatangi rumah secara acak dan jika melihat halaman depan rumah anda licin dia akan meninggalkannya.

Sebenarnya secara logika, tidak sopan mengantung pakaian di tempat orang bisa melihatnya apalagi pakaian dalam bukan? Ini membuat pandangan orang negatif pada anda, dan juga siapa yang masih mencuci baju atau piring di depan rumah?

Belajar dengan Buku

Ada tiga larangan dalam membaca buku dalam tradisi Tionghua, pertama saat di toilet, saat makan dan saat di tempat tidur. Dipercaya jika melanggar ketiga hal tersebut akan membuat kemampuan belajar bukan hanya tidak bertambah tetapi menurun.

Ya, ada beberapa alasan. Membaca buku di toilet itu tidak sehat dan rentan terkena e-coli karena terlalu lama menghirup aroma kotoran. Membaca di meja makan juga tidak sopan dan membuat orang lain merasa tidak senang sementara di tempat tidur jika dilakukan pada malam hari dapat merusak mata.

Ada juga tabu khusus untuk mereka yang gemar berjudi. Mereka akan melarang anak mereka untuk membaca buku di depan mereka terutama pagi hari karena dalam bahasa Mandarin pengucapan "buku" memiliki bunyi yang sama dengan "kalah". Sehingga "belajar buku" memiliki arti "kalah berjudi".


Foto Bertiga

Orang Tionghua zaman dulu sangat takut untuk berfoto, karena mereka tidak  mengerti cara kerja kamera yang datang dari barat. Mereka berpikir bahwa berfoto dapat mengambil jiwa mereka. Setelah mengerti sistem kerja kamera, pihak cendekiawan yang mengatakan pertama kali bahwa kamera bisa mengambil jiwa mereka tetap bersikeras dan muncul tabu larangan foto bertiga.

Mereka mengatakan bahwa pengambilan jiwa dapat terjadi hanya jika foto bertiga, jiwa orang ditengah akan diambil dan usianya menjadi lebih pendek.

Sebenarnya foto jumlah ganjil memang tidak baik secara feng shui karena energi yang tidak berimbang ketika manusia berjumlah ganjil berdekatan.

Bergoyang, Bergetar, Berguncang

Orang Tionghua juga memiliki aturan soal duduk, baik pria atau wanita yang sedang mengoyangkan kakinya seperti ada gempa maka akan dinilai buruk. Pria dianggap akan kehilangan rezeki sementara wanita akan kehilangan keanggunan.

Secara logika, ada benarnya. Apakah anda akan memperkerjakan atau berbisnis dengan pria yang bahkan tidak bisa duduk diam dengan tenang? Dalam sisi psikologis, orang ini tidak bisa dipercaya atau tidak merasa nyaman dengan anda. Sementara wanita yang berpakaian baik dan cantik juga akan hilang kecantikannya jika terus mengoyangkan kakinya. Bisa jadi merusak make upnya.

Mengoyangkan kaki juga tidak akan membuat anda kurus, malah terlihat seperti gejala parkinson.

Ular

Ular seringkali dianggap membawa petaka, karena itu kebanyakan orang Tionghua akan histeris ketika melihat ular masuk ke rumahnya (Hm.. siapa yang tidak?).

Ular seringkali dikaitkan dengan hal magis, dan orang Tionghua percaya bahwa sekali mereka memukul ular maka harus memukulnya hingga tewas karena ular makhluk yang pendendam, dia akan datang membalas dendam bersama kawanannya, begitu mitosnya.

Ya pada dasarnya ular memang bukan binatang jinak, jadi sebaiknya tidak mendekati makhluk ini apalagi jika jenis yang berbisa.

Tabu di Lautan

Salah satu pekerjaan yang paling berbahaya atau tinggi resikonya adalah pelaut dan orang Tionghua kuno sangat paham hal tersebut. Mereka memiliki beberapa tabu dalam berlayar terutama bagi nelayan.

Kata "terbalik","tenggelam" dan sejenisnya tidak boleh disebutkan selama berada di atas kapal. Jika makan ikan di atas kapal tidak boleh membalik ikannya tetapi mengangkat seluruh rangka yang tersisa baru makan daging di sisi lainnya.

Selain itu juga tidak boleh ada wanita di atas kapal, jika laut mengamuk bukan hal baru jika para pelaut akan melempar wanita ini ke dalam laut agar laut kembali tenang. Wanita yang dimaksud adalah seorang janda atau seseorang yang dalam masa berkabung.

Tidak boleh juga ada 7 laki-laki dan satu perempuan di atas kapal bersamaan, dewa laut akan mengira itu delapan dewa sahabatnya dan menarik mereka ke dalam laut.

Apa tabu ini benar? Kita lihat saja kasus Titanic yang diyakini tidak akan tenggelam itu.

Petanda Baik dan Buruk

Orang Tionghua sangat percaya dengan pertanda, sebuah pertanda di pagi hari bisa menjadi nasib seharimu itu baik atau buruk. Jika ada pertanda buruk, biasanya janji-janji penting akan segera dibatalkan dan diundur. Pihak yang memiliki tradisi sama akan memaklumi dan menyetujui keputusan itu. Tentu agak sulit di negara Indonesia.

Pertanda buruk yang bisa membawa kesialan sepanjang hari misalnya memecahkan piring, keramik, benda yang berbentuk ukiran sempurna, bahkan burung gagak hitam.

Anehnya melihat mobil jenazah atau peti mati saat berangkat kerja atau janji penting menandakan keberhasilan. Begitu juga jika menginjak kotoran atau dijatuhi kotoran burung menjadi berkah.

Aku tidak bisa menjelaskan hal ini, tetapi aku beberapa kali merasakan kebenaran tabu ini.

Sapu

Orang Tionghua terbukti sangat banyak memiliki waktu untuk menciptakan tabu sampai sapu juga memiliki tabu dan bukan hanya satu. Sapu selain sebagai alat bersih-bersih juga merangkap sebagai pembawa sial, entah siapa yang memulai pernyataan seperti itu.

Di yakini sapu tidak boleh di dekat pintu utama karena bisa mengusir dewa penjaga pintu dan membiarkan banyak makhluk jahat masuk ke rumah anda. Sapu juga tidak boleh menghadap ke atas karena akan menyapu langit mengakibatkan kehilangan rezeki. Dua sapu juga tidak boleh diletakan berdekatan karena akan membuat keluarga berbuat jahat dan menciptakan kekacauan rumah tangga.

Sapu harus ditempatkan di balik pintu sehingga tidak terlihat, itulah cara tepat menyimpan sapu menurut orang Tionghua.

Logikanya meletakan sapu terlalu dekat dengan pintu utama selain tidak elok juga tidak sopan dan terkesan mengusir tamu atau tidak bersahabat. Sapu menghadap ke atas juga membuat debu atau kotoran yang baru di sapu menyebar kemana-mana dan bisa menyebabkan penyakit yang tentunya akan membutuhkan biaya penyembuhan.

Sementara dua sapu berdekatan mungkin agar tidak digunakan untuk berkelahi satu sama lain ketika terjadi emosi, itu alasannya sapu jangan berada di tempat yang bisa dilihat.

Dewa yang Marah

Orang Tionghua yang masih memegang erat tradisi sangat percaya dengan Dewa dan tata cara sembahyangnya juga lebih rumit jika dibandingkan dengan zaman sekarang. Hal yang paling ditakuti menyembah dewa adalah kemarahan Dewa.

Diyakini ada beberapa hal yang membuat dewa marah yaitu wanita yang "tidak suci" artinya wanita yang sedang hamil, baru melahirkan, sedang datang bulan atau masa berkabung. Selain itu juga orang yang tidak mencuci tangan setelah ke toilet atau belum mandi sebelum berdoa.

Menyapu saat orang berdoa juga akan membuat dewa marah karena merasa diusir. Selain itu memberikan daging anjing atau kerbau kepada Dewa akan membuat dewa marah.

Alasan logisnya adalah wanita yang di cap "tidak suci" adalah wanita yang sebaiknya berada di rumah dan beristirahat untuk kesehatan baik fisik maupun mental mereka. Hanya penyampaian orang zaman dulu lebih kasar.

Begitu juga kebersihan tubuh sangat penting untuk menunjukan niat kita berdoa dengan tulus, tindakan menyapu saat orang lain berdoa juga tidak sopan secara etika.

Sementara persembahan kedua hewan tersebut adalah tabu karena kerbau digunakan untuk mengarap sawah sementara anjing menjaga rumah. Orang Tionghua zaman dulu menghormati kedua hewan ini dan tidak memakan dagingnya.

Sensitif, Peka

Orang Tionghua sejak dulu juga melarang pembicaraan tertentu karena dapat menyinggung perasaan seseorang, yang paling utama adalah umur dan jumlah gaji.

Selain itu orang Tionghua juga melarang menggunakan kata kasar untuk mendeskripsikan fisik. Sehingga istilah-istilah halus banyak digunakan seperti montok untuk orang yang kelebihan berat badan, langsing untuk mereka yang terlalu kurus dan lainnya.

Dan Ibuku juga selalu mengingatkan jika ada wanita yang bertanya, "Apa aku terlihat gemuk dengan pakaian ini?" jawabannya selalu "Tidak".

Soal Angka

Orang Tionghua dan sebagian besar penduduk asia sudah terkenal dengan kepercayaannya terhadap angka. Yang terkenal tentu saja 8888, biasanya digunakan untuk plat mobil, nomor rumah, dan hal-hal penting lainnya.

Orang yang lebih pandai akan mengincar nomor 168 yang berarti "Kemakmuran seumur hidup".

Jika di barat angka 13 sangat menakutkan maka lain lagi untuk orang Tionghua, angka yang mengerikan adalah 4 yang artinya kematian. Ini sangat diyakini di China, Jepang dan Korea.

Sebenarnya ada dua kombinasi angka yang paling ditakuti orang Tionghua lebih dari angka 4, namun tidak banyak yang mengetahuinya yaitu 1616 yang artinya berkeping-keping, ini sangat tidak boleh di letakan pada plat kendaraan apalagi rumah. Yang paling mengerikan adalah 1458 yang artinya "tidak pernah makmur sepanjang hidup anda".

Rambut dan Kekayaan

Orang Tionghua memiliki kriteria sendiri untuk seseorang yang bisa kaya. Dulu dominan pria yang bekerja dan ada sebuah penilaian bahwa rezeki seorang pria bisa dilihat dari keningnya. Jika seorang pria menutup keningnya dengan rambut poni maka bekerja sekeras apapun dia tidak akan kaya.

Sampai disini, mari kita hitung berapa orang miliarder dunia yang menutup keningnya dengan poni? Tapi tidak hanya sampai di situ, kening pria tersebut haruslah rapi bersinar artinya tidak memiliki banyak kerutan.

Alasannya adalah pria yang memiliki banyak kerutan di dahi adalah orang yang emosional, jika bukan karena usia. Ketika kita marah, dahi akan mengerut dan terbiasa marah akan memberikan kerutan permanen. Orang yang emosional tentunya sulit untuk membangun kekayaan dengan baik.

Bintit

Tau mata bintit? Orang Tionghua percaya bahwa seseorang yang pergi mengintip tubuh orang lain maka matanya akan bintitan. Kenyataannya bintit disebabkan pembengkakan kelenjar di mata, yang kau dapatkan dari mengintip adalah mata lebam karena tonjokan.

Melahirkan

Orang Tionghua kuno sangat melarang hadirnya pria dalam proses bersalin, karena menyakini wanita hamil memiliki energi negatif yang besar dan akan dikeluarkan saat melahirkan.

Tentunya hal ini tidak berlaku saat ini.

Tabu dalam Mengandung

Wanita hamil dalam tradisi Tionghua akan menjalani begitu banyak hal yang ditabukan, aku tidak mengetahui semuanya karena belum menikah jadi aku hanya mengingat sebagian besar yang disampaikan saat sepupuku sedang hamil.

Tidak boleh makan yang mentah atau dingin, tidak dijelaskan alasannya tetapi jelas untuk menjaga suhu janin serta makanan dingin atau mentah seringkali mengandung bakteri.

Tidak boleh minum obat terutama yang berhubungan dengan perut, misalnya obat pencernaan. Diyakini ini bisa menyebabkan bayi cacat, tentunya tabu ini kini didukung dengan informasi medis bahwa minum obat selama proses kehamilan memang harus sangat di kontrol oleh dokter.

Tidak boleh makan daging kelinci, domba dan kepiting. Diyakini jika makan daging kelinci maka anaknya akan sumbing, daging domba bisa menyebabkan epilepsi sementara daging kepiting menyebabkan terjadinya komplikasi saat melahirkan atau membuat anaknya menjadi pembangkang. Ibuku mengatakan bahwa dia melanggar tabu ini, dia sering makan daging kepiting diam-diam karena itu aku sangat tidak patuh di tahun-tahun awal kelahiranku tapi siapa anak balita yang tidak demikian?

Banyak juga hal yang tidak boleh dilakukan oleh wanita hamil. Jika menjahit bisa menyebabkan anaknya memiliki keanehan di bibir. Jika mengikat benda dengan tali bisa menyebabkan tali pusarnya melilit leher bayi hingga meninggal. Memalu paku di dinding bisa membuat keguguran.

Memperbaiki kompor, mengecat atau pindah rumah juga tidak boleh karena bisa membuat roh bayi sangat marah. Tidak boleh datang ke pernikahan dan perkabungan.

Jika diteliti lebih jauh, wanita hamil dalam tradisi Tionghua bisa dibilang hampir selalu salah dalam melakukan apapun apalagi zaman dulu diyakini bahwa wanita hamil mengeluarkan energi dingin. Jika dia berjalan di dekat sumur yang sedang di gali maka sumur itu akan kering, jika dia melihat ayam mengerami telur maka telur-telur itu tidak akan menetas. Jika melihat ulat sutra maka ulat itu tidak pernah akan membuat sutra.

Mendengar hal ini jelas mereka yang lahir dalam keluarga Tionghua terutama yang masih memeluk tradisi harus memahami bahwa Ibunya mungkin melewati begitu banyak hal demi dirinya bisa lahir dengan baik.


2 komentar:

  1. orang dulu punya banyak banget tabu, atau kl org aku bilang pamali.
    kayak nggak boleh motong kuku malem2 atau duduk di depan pintu. ya itu logis sih.
    cuma yg aku nggak ngerti alesannya itu perawan nggak boleh makan bakal telor atau telur yg belum jadi yg masih di perut ayam betina. katanya kl makan itu bisa nggak punya anak nantinya.
    ada penjelasan ilmiahnya nggak sih? aku pernah melanggar makan itu, tapi pernah juga pas mau makan agak ragu.
    banyak juga tabu yg ngelarang anak perawan makan ini itu, aku mikirnya orangtua jaman dulu bikin alasan itu karena makanan itu enak dan dia nggak mau bagi anaknya aja .-.

    BalasHapus
  2. Ya tabu dan pamali adalah hal yang sama beda penyebutan saja.

    Kebanyakan tabu seperti itu dibuat karena kurangnya pengetahuan terhadap sesuatu hal yang berkaitan dengan tabu tersebut jadi tidak ada penjelasan ilmiahnya :)

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)