Sabtu, 29 Agustus 2015

Kumpulan Teka Teki Riddle 4



Selamat kembali menguras pikiran di Riddle bagian 4 ini.

TV Masih Menyala

Aku mengundang dua temanku ke kamar apartemenku yang baru untuk menginap. Kami bertiga bermain game dan karena kelelahan aku tidur duluan. Ketika aku terbangun, sudah tengah malam. Kedua temanku sudah tak ada lagi di sana dan televisi masih belum dimatikan.

“Lho kemana mereka?” aku keheranan.

Aku lalu melihat kertas yang mereka tinggalkan di atas meja.

“Maaf bro. Kami berdua pulang. Aku udah kebelet boker nih dan nggak tahu cara menggunakan WC-mu. Besok pagi aku hubungin lagi ya.”

Ya ampuuuun .... dasar anak2 kampungan! Kebiasaan pakai toilet jongkok ya gini deh ....

Aku lalu mematikan game yang masih menyala di TV dan menggantinya ke acara berita.

“Berita malam ini: polisi mengumumkan pencarian atas pembunuh berantai yang lepas dari penjara. Ciri-cirinya adalah ...”

Haduuuuuh, pikirku. Jangan2 mereka sudah dibunuh sama pembunuh berantai? Ah, tapi kan mereka berdua, pasti aman.

Aku mematikan TV dan tak lagi memikirkannya. Aku segera ke kamar mandi untuk menggosok gigi, kemudian mematikan semua lampu dan pergi tidur.

Milyader yang Bodoh

Seorang milyuner setiap tahun memberikan hadiah pada anak-anak penghuni panti asuhan. Ia sendiri tak memiliki anak sehingga ia ikut gembira melihat kebahagiaan anak-anak itu apabila ia datang memberikan kado.

Namun ada satu anak yang selalu menolak hadiah yang ia berikan. Pertama, ia memberikan kado sebuah jam tangan yang sangat cantik, tapi gadis itu menolak. Ia lalu memberikan sepatu yang indah mirip Cinderella, namun lagi-lagi ia menolak. Sang miluner lalu memberikan kemeja yang sangat mahal, namun lagi2 anak itu tak senang. Ia akhirnya memberikan sebuah kalung yang berhiaskan batu-batu indah dan hanya ada satu di dunia. Barulah gadis itu merasa bahagia. Milyuner itupun pulang dengan hati lega.



Keinginan Terdalam

Tiba-tiba seorang jin muncul di hadapanku.

“Aku akan mengabulkan satu permintaanmu. Namun hanya satu, ingat itu!”

Aku segera berpikir dengan keras.

“Hanya satu? Wah, aku harus pintar2 memilih.”

“Kekayaan? Jangan!”

“Terkenal? Jangan!”

“Kecantikan? Jangan!”

“Time travel? Jangan!”

“Bisa melihat masa depan? Jangan!”

“Bisa membaca pikiran orang? Jangan!”

“Suami super ganteng. Hmmm ... bisa sih. Tapi jangan itu lah ... Waduh, gimana ini aku tak bisa memutuskan ...”

“Bagaimana? Aku akan pergi sebentar lagi.” Kata jin itu.

“Aduh ... aduh ... jangan dong! Begini saja, dari list yang tadi aku ucapkan, kabulkan saja permohonan yang paling kuharapkan dari hatiku yang terdalam. Kau jin, jadi kau tahu segalanya kan?”

“Baiklah, aku akan mengabulkannya.”

Dan setelah beberapa lama, wajahku tersiram air keras.

Perampok yang Sial


Aku ada janji makan malam dengan pacarku. Namun setelah aku sudah mempersiapkan hidangan di atas meja makan, tiba-tiba teleponku berdering.

“Maaf ya Sayang, aku tak bisa datang. Ada janji dengan klien malam ini. Maaf ya.”

Dengan mengamuk, aku membanting telepon itu ke lantai dan mulai makan malam sendirian dengan kesal.

Tiba-tiba lampu di rumahnya padam.

Aku menjerit ketika aku merasakan ada seseorang yang mencengkeram pundakku. Rampok! Ada rampok masuk ke rumahku! Aku segera mengayunkan garpu ke arah belakangku untuk membela diri. Aku mendengar suara tubuhnya jatuh ke lantai dan segera bangkit dari kursiku. Aku langsung berlari keluar rumah (untung saja aku hapal letak perabotan dan pintu depan rumahku). Setibanya di luar aku langsung memanggil polisi dan beberapa saat kemudian mereka datang.

Aku tak berani masuk karena masih ketakutan dan membiarkan para polisi sendiri yang mengeceknya ke dalam.

“Wah Nona, anda berani sendiri. Anda sudah berhasil meringkus perampok itu sendirian. Kami menemukannya sudah tewas di ruang makan dengan garpu menancap di lehernya. Ia pasti mati kehabisan darah.”

“Syukurlah. Apa ada barang-barang saya yang coba diambilnya, Pak?” tanyaku.

“Kami menemukan barang berharga ini di saku perampok itu.”

Namun aku hanya kebingungan karena barang itu bukan milkku. Pasti perampok itu sudah beraksi di tempat lain sebelum masuk ke rumahku. Untunglah aku sudah membunuhnya! 
Mayumi
Aku punya seorang teman bernama Mayumi. Saat itu saat aku masih SMP, terjadi banyak kasus pem-bully-an di sekolahku. Bahkan aku menjadi salah satu korbannya. Beruntung ada teman sekelasku yang bernama Mayumi. Mayumi tak hanya cantik, namun juga cerdas dan jago olahraga. Ia cukup populer di sekolahku.

Walaupun aku sering didiamkan oleh teman-teman sekelasku, Mayumi selalu saja mengajakkku bicara. Hampir tak ada yang mau berbicara denganku, namun Mayumi berbeda. Ia selalu saja tersenyum padaku.

Sayang sekali Mayumi harus pindah sekolah karena ayahnya ditugaskan ke kota lain. Setelah ia pergi, teman-temanku mulai mau berbicara dan berteman denganku. Ini semua pasti karena Mayumi berbicara dengan mereka sebelum ia pergi. Terima kasih, Mayumi. Aku akan sangat merindukanmu.  
Bunga Krisan

Di kotaku sedang terjadi pembunuhan beruntun yang teramat kejam. Beberapa anak SD ditemukan tewas dengan cara yang sadis. Anak-anak ini sepertinya disiksa sebelum akhirnya dibunuh. Aku tak habis pikir, siapa yang tega melakukan kejatahan sekeji ini? Penjahatnya hingga kini belumlah ditemukan.

Walaupun aku tak kenal anak-anak ini, aku bersimpati dengan mereka. Pada hari Minggu aku memutuskan mengunjungi makam mereka untuk meletakkan karangan bunga. Aku membawa bunga krisan putih. Di Jepang bunga ini disebut “shiragiku” dan melambangkan rasa duka cita. Lagipula warna putihnya kurasa cocok dengan kepolosan anak-anak yang meninggal ini.

Namun setibanya di sana, aku melihat seorang ibu lain sedang menaruh bunga juga di atas makam mereka.

“Maaf,” tanyaku, “Apa anda mengenal anak-anak ini?”

Ibu itu mengangguk dengan mata sembab, “Ya, mereka satu sekolah dengan mendiang anak saya. Namun ia meninggal bunuh diri karena terus dibully. Karena itu, saya tahu perasaan orang tua anak-anak ini.”

Aku merasa ikut sedih mendengar cerita ibu. Di satu demi satu makam ia menaruh “sayuri” atau bunga lily kuning. Ah, bukannya warna bunga itu terlalu terang dan mencolok? Tapi biarlah, pendapat orang kan beda-beda. 
Balas Dendam
Seorang ayah kehilangan anak semata wayangnya karena dibunuh perampok. Penjahat itu tertangkap, namun ayah itu tak puas dengan hukuman penjara seumur hidup yang diterima sang pembunuh. Ia menginginkan pembunuh itu mati. Namun sang ayah tak mampu berbuat apa-apa sebab selain sang penjahat sudah mendekam di balik jeruji, umur sang ayah juga sudah tua dan renta.

Suatu hari, ketika sedang berjalan-jalan di toko barang antik, ia melihat buku yang katanya mampu memanggil jin. Sang ayah sebenarnya tak percaya, namun ia akhirnya tetap membelinya untuk mencobanya. Siapa tahu jin ini bisa membantunya membalas dendam.

Ia kaget begitu jin yang dipanggilnya dengan buku itu benar-benar datang.

“Apa yang kau inginkan?” tanya jin itu.

Sang ayah menjawab, “Aku ingin kau membunuh pria yang sudah membunuh anakku!”

“Baiklah, namun jasaku tidaklah gratis. Aku ingin meminta sesuatu darimu sebagai imbalan.”

“Apa yang kau inginkan?”

“Aku ingin kematianmu!”

Ayah itu sama sekali tak takut. Ia tak punya siapa-siapa lagi. Istrinya sudah meninggal puluhan tahun lalu dan anak satu-satunya juga sudah meninggal. Tubuhnya sendiri sudah renta dan sering sakit-sakitan, jadi ia tak kehilangan apapun jika ia mati.

“Baiklah!” kata ayah itu setuju.

Beberapa hari kemudian janji jin itu terbukti. Sang ayah melihat dari berita bahwa pria yang sudah membunuh anaknya telah ditemukan mati di penjara dengan cara disiksa dan sangat menderita. Sang ayah sangat puas mendengar berita itu.

Jin itu kemudian datang untuk menagih janjinya. “Aku sudah melakukan apa yang kau inginkan. Sekarang aku menginginkan upahku.”

“Baiklah, aku sudah siap mati.” Ayah itu memejamkan matanya, namun tak terjadi apa-apa.

“Aku sudah mengambilnya.” Kata jin itu sambil tertawa dengan mengerikan.

Sang ayah membuka matanya. Jin itu tak tampak lagi dan sang ayah keheranan.

“Hei, tunggu! Kenapa pergi? Aku kan masih hidup?” 
Hati-hati ada Pembunuh Berkeliaran

Aku baru saja mau tidur ketika aku mendengar suara bel. Siapa sih malam2 begini? Aku bangun dari tempat tidur dan membuka pintu (pintu apartemenku ada rantai di dalamnya jadi tak membuka sepenuhnya). Ada polisi ternyata di luar.

“Ada apa Pak?”

“Mohon berhati-hati, Pak.” Kata polisi itu. “Wanita di kamar sebelah ditemukan terbunuh. Kami mendapat beberapa informasi mengenai pelakunya. Pertama, korban membiarkannya masuk ke dalam kamarnya berarti dia mengenal korban. Kedua, korban sempat melukai tangan kanan pelaku saat berkelahi dengannya. Dan ketiga, handphone milik korban kemungkinan besar diambil oleh pelakunya. Harap anda tetap waspada.”

Aku mengangguk dan polisi itu pergi. Saat menutup pintu, aku berharap mereka segera menangkap pelakunya. Kasihan, wanita di sebelah adalah wanita yang ramah.
Nenek Bungkuk
Suatu malam aku pulang dari konser. Awalnya aku bersama dua temanku, namun mereka sudah pulang sendiri-diri.

Malam ini sangat sepi hingga membuatku ketakutan. Tiba-tiba aku merasa ada yang menepuk pundakku.

Aku menoleh dan melihat seorang nenek yang sudah tua dan bungkuk. Mungkin ia berumur sekitar 80 tahunan. Apa nenek ini tersesat ya, pikirku.

Tiba-tiba sang nenek berkata sambil mendongak, “Wajahmu tampak sangat pucat.”

Hah, pucat apanya, pikirku. Aku sehat-sehat saja kok. Mata nenek itu seperti menatap kosong sehingga akupun ketakutan.

Aku segera berlari meninggalkan tempat itu. Sial besok besok lagi jangan lewat ke situ. Ada nenek aneh! 

Permintaan

Seorang gadis merasa sangat putus asa dengan kuliahnya yang tak kunjung selesai. Tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki muncul di hadapannya dan berkata.

“Aku akan mengabulkan apapun permintaanmu.”

Gadis itu tak punya keinginan lain selain segera lulus kuliah.

Setelah gadis itu lulus dengan nilai yang sangat memuaskan, namun kini ia mendapat masalah baru. Ia tak kunjung mendapat pekerjaan. Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki, “Aku akan mengabulkan apapun permintaanmu.”

Gadis itu mengatakan ia menginginkan pekerjaan supaya bisa menghidupi dirinya sendiri. Setelah beberapa lama gadis itu akhirnya mendapat karier yang sukses.

Beberapa tahun kemudian, lagi2 gadis itu didera masalah hidup. Ia hingga sekarang belumlah mendapat pasangan hidup. Laki-laki itu kembali datang dan mengatakan, “Aku akan mengabulkan apapun permintaanmu.”

Namun gadis itu sama sekali tak menjawab.

Kertas Tisu

Istriku sedang marah padaku sebab aku ketahuan berselingkuh. Ia sudah mendiamkanku selama 2 minggu dan aku bahkan sudah pisah ranjang dengannya (walau masih serumah). Aku sendiri tak mampu meminta maaf dengannya. Mungkin masalah utama kami selama ini adalah sulitnya kami untuk saling berkomunikasi.
Suatu pagi aku ke kamar mandi sebelum berangkat kerja dan ketika menarik tisu toilet, aku menemukan tulisan tangannya. Sepertinya ia menulis di atas gulungan tisu toilet ini dengan kertas. Akupun semakin menariknya untuk dapat membaca baris demi baris yang dituliskannya.
Dari: Mami
Aku ingin kau membayarnya.
Aku tak mau memaafkanmu.
Apakah kau pikir segalanya dapat kembali seperti semula?
Faktanya kau berselingkuh.
Namun kemudian aku kembali teringat.
Hari-hari yang dulu kita lalui bersama sangatlah indah.
Kau sangat penting bagiku.
Apalagi dengan kehadiran putri tercinta kita.
Aku tak bisa membiarkan hubungan kita berakhir.
Aku benar-benar mencintaimu dan ingin memaafkanmu.
Teruntuk: Takashi
Mataku langsung berlinang air mata. Ternyata Mami mau memaafkan perbuatanku demi anak kami. Aku membuka pintu dan terkejut melihat istriku ternyata sudah berada di depan pintu. Akupun langsung memeluknya dengan erat.

Masalah di Tengah Gunung



Saat berkemah bersama seorang temanku, aku mengabaikan nasehat dari temanku yang sudah terbiasa naik gunung. Akibatnya kami berdua terjatuh dari sebuah tebing dan terpisah dari temanku. Saat itu sudah malam sehingga aku tak bisa melihat apapun. Kaki kiriku terluka, namun selain itu, aku tak mengalami luka yang parah. Mustahil bagiku untuk mencoba memanjat tebing di depanku, jadi aku memutuskan masuk ke hutan untuk mencari pertolongan.

Hutan sangat lebat namun akhirnya aku berhasil melihat sebuah cahaya. Ternyata ada sebuah pondok dan orang-orang yang tinggal di dalamnya segera menolongku. Keesokan harinya, tim pencari menemukan jenazah temanku. Tubuhnya hancur dan remuk, seakan dipukul oleh sesuatu yang sangat berat. Ia mati seketika dan di sampingnya terdapat bekas seretan yang sangat aneh.
Langkah Kaki
Kupikir aku sedang diikuti oleh seorang penguntit. Aku selalu pulang bersama teman-temanku. Namun Jumat malam, aku pulang terlambat dan tak ada seorangpun yang menemaniku.

Aku tahu seseorang sedang mengikutiku. Dari suara sepatunya, aku tahu bahwa ia memakai sepatu hak tinggi. Setiap kali aku berjalan, aku mendengar suara wanita itu mengikutiku. Tiap kali aku menghentikan langkahku, ia juga berhenti. Aku juga samar2 mencium bau parfumnya.

Apa yang bisa kulakukan? Aku akan membela diriku. Perlahan aku mengambil pisau cutter yang selalu kupersiapkan untuk berjaga-jaga. Dengan cepat aku berbalik dan menikam orang yang mengikutiku. Dengan sekejab pula aku secepatnya kabur. Aku menarik napas lega saat tiba di rumah.

Akupun membuka pintu dan mengucapkan salam, “Aku pulang!”

Namun tak ada jawaban.

Korban

Aku telah berkeliling dunia dengan kapal pesiar. Ketika melayari salah satu perairan paling berbahaya di dunia, kapal kami mengalami kecelakaan dan karam. Aku terlempar ke dalam lautan yang gelap. Entah bagaimana aku berhasil selamat dan setelah terombang-ambing selama beberapa hari, aku terdampar di sebuah pulau.

Ketika berjalan, aku menemukan sebuah tanda ditulis di atas pantai. Ketika aku mendekat, tanda itu terbaca: “TOLONG”.

“Berarti ada penumpang kapal yang selamat”, pikirku. Akupun menjelajahi pulau itu dan menemukan sebuah pondok kayu. Yang lebih membahagiakan lagi, ada seorang pria yang berbaju seperti kru kapal pesiar yang kutumpangi.

“Hei, apa kau salah satu penumpang yang selamat?”

“Ya, kau dari kapal pesiar itu kan? Syukurlah ada yang selamat!”

Kami kemudian berlindung di dalam pondok. Makanan di pondok mulai menipis dan tak ada seorang pun di pulau ini selain kami berdua, namun kami yakin tim penyelamat akan segera menemukan kami.
Diary
15 Desember

Bagaimana ya cara memulai diari ini? Aku dan adik perempuanku kehilangan orang tua kami gara2 kecelakaan mobil tahun lalu. Adik perempuanku mulai belajar di luar negeri musim semi ini. Jadi ini pertama kalinya aku akan melewatkan musim dingin dan Natal tanpa adikku. Omong-omong, adikku memberikanku diari ini sebagai hadiah Natal tahun lalu. Namun baru kali ini aku menulisnya untuk mengusir rasa kesepian karena kepergian adikku. Kurasa hanya itu yang bisa kutulis hari ini. Aku akan pergi tidur. Selamat malam, adikku.

16 Desember

Aku memegang pena, namun kesulitan untuk menulis. Bahkan jika aku mencoba menulis kenanganku bersama adikku, tanganku terasa sulit untuk kugerakkan. Aku benar2 merindukan adikku.

17 Desember

Aku diundang ke pesta Natal bersama-sama teman-temanku. Ah, seandainya adikku ada di sini pasti kami akan pergi ke pesta itu bersama-sama.

18 Desember

Wajah adikku tiba2 muncul di benakku. “Kakak, aku baik-baik di sini”, ia berkata begitu. Namun aku tidak. Aku benar2 merindukan adikku.

20 Desember

Aku menyesal aku tak membelikan kado untuk adikku tahun lalu. Aku tak punya uang saat itu. Aku benar2 merindukan adikku. Aku benar2 ingin bertemu dengannya.

21 Desember

Aku ingin bertemu dengan adikku. Aku akan mulai mengumpulkan uang untuk pergi ke Amerika Serikat sehabis Natal nanti.

22 Desember

Aku ingin bertemu dengan adikku.

Aku ingin bertemu dengan adikku.

Aku ingin bertemu dengan adikku.

Aku ingin bertemu dengan adikku.

Aku ingin bertemu dengan adikku.

23 Desember

Adikku meneleponku! Bahkan aku menerima kiriman kado natal darinya. Benar2 kejutan! Aku benar2 menyayangimu, adikku!

24 Desember

Aku sudah memutuskan akan menemui adikku! Aku bukan seorang kakak jika tidak memiliki adik! Ini akan menjadi tulisan terakhir di diariku.

25 Desember

Selamat Natal! Adikku menelepon lagi. Katanya ia sedang merayakan Natal bersama teman2nya. ia juga mengatakan ia akan kembali ke Jepang. Padahal aku hampir saja berangkat ke Amerika Serikat. Tapi tak apa. Aku bisa menggunakan uangnya untuk membelikan kado Tahun Baru untuk adikku.

27 Desember

Aku benar2 tak percaya ini! Berita di televisi mengatakan pesawat tujuan Jepang yang dinaiki adikku telah jatuh dan tenggelam di laut.


Sudah berhasil menjawab semuanya? Mari cocokan jawabanmu.

Kumpulan Jawaban

TV : Kedua temannya pulang saat dia tidur jadi ada kemungkinan pintunya tidak di kunci sementara ada pembunuh yang berkeliaran.

Milyader : Anak gadis itu tidak punya kaki dan tangan. Jika anda berhasil tidak menjawabnya maka itu bagus, karena ini salah satu tes psikopat.

Keinginan Terdalam : Kecantikan? Jangan. Keinginan terdalamnya jangan kecantikan.

Perampok yang Sial : Itu pacarnya yang ingin melamarnya dengan kejutan.

Mayumi : Mayumi adalah seorang psycho yang memaksa orang lain untuk tidak berteman dengan si aku.

Bunga Krisan : Ibu itu pembunuh anak-anak tersebut karena lily kuning berarti dendam, kebencian, kepalsuan. Yang ingin lebih jauh mengenal bahasa bunga silahkan baca ini Floriography Bahasa Bunga.

Balas Dendam : Aku ingin kematianmu, artinya si Ayah tidak akan pernah mati. Dia akan hidup sendirian selamanya.

Hati-Hati ada Pembunuh : Polisi itu pelakunya karena tau tangan pelaku terluka secara detail sementara korban telah meninggal.

Nenek Bungkuk : Nenek itu tidak bisa menepuk pundak si aku, yang dia bilang sangat pucat adalah sesuatu yang menepuk pundak si aku.

Permintaan : Setiap permintaan itu dibayar mahal, pertama dibayar dengan penglihatan karena itu dia hanya bisa mendengar laki-laki itu bukan melihatnya. Kedua dibayar dengan suara, maka ketika laki-laki itu datang ketiga kalinya, dia tidak bisa menjawab.

Kertas Tisu : Bacanya dari bawah ke atas, karena tisunya kan di gulung.

Masalah di Gunung : Si Aku jatuh menindih tubuh temannya, makanya kakinya hanya patah. Bekas seretan itu adalah kaki yang dia seret.

Langkah Kaki : Gadis itu buta, yang mengikutinya adalah Ibunya karena khawatir dia pulang sendiri tanpa teman-temannya.

Korban : Orang yang ditemui si Aku adalah Kanibal, tidak mungkin mereka baru terdampar tetapi sudah mendirikan pondok. Makanan yang mereka makan adalah pemilik baju yang dipakai si kanibal.

Diary : Tanggal ganjil adalah catatan tahun lalu, Tanggal Genap tahun ini.

1 komentar:

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)