Jumat, 07 Agustus 2015

Masalah M.O.S. Masa Orientasi Siswa di Indonesia

Sekolah adalah Pembentuk Karakter Kedua setelah Keluarga


Beberapa waktu lalu sempat heboh kondisi MOS di Indonesia yang kembali memprihatinkan, di banyak media sosial maupun secara offline banyak yang menanyakan pendapat tetapi aku memilih diam dulu. Kita bisa berdiskusi hanya ketika orang mau mendengarkan, saat itu juga pembahasan berat sebelah.

Opini milikku mungkin akan jauh berbeda dengan yang sudah-sudah, jika suara lain mengatakan bahwa MOS adalah bentuk kegiatan yang sia-sia maka aku berpikir sebaliknya.

Mari kita teliti kembali, jika seseorang sekolah hingga tingkat SMA, setidaknya dia akan mengalami MOS sebanyak 2 kali. Dalam satu angkatan untuk sekolah berukuran sedang, bisa ada sekitar 250 hingga 300 siswa. Yang berkesempatan menjadi anggota OSIS dan melakukan MOS di tahun berikutnya hanya sekitar 20 hingga 30 orang saja.

Aku sendiri 4 kali menjadi panitia penyelenggara MOS diantaranya 2 kali sebagai kepala acara. Untuk mencapai hasil yang optimal aku mempelajari bahwa apa sebenarnya fungsi dari MOS dan perbandingan antara di Indonesia dan Luar Negeri.

Di Indonesia, MOS dikenal masih bersifat primif bahkan mempermainkan siswanya bahkan terkadang ada kekerasan fisik terjadi. Sekarang jika memang benar hal itu tidak bermamfaat, apakah tradisi ini dipertahankan selama puluhan tahun tanpa alasan?

MOS di Indonesia sebenarnya lebih mencerminkan budaya dan sejarah negara kita sendiri. MOS merupakan cara memperkenalkan anak-anak yang baru tumbuh atau memasuki jenjang sosial yang baru tentang dunia sosial yang sebenarnya.

Mengapa mereka menggunakan pakaian yang memalukan? Itu untuk menimbulkan rasa empati. Ketika mereka ditertawakan, ditonton oleh banyak orang karena menggunakan atribut yang memalukan mereka diajari untuk memahami dengan merasakan langsung.

Apakah menyenangkan diperlakukan demikian? Jika tidak, maka di dunia sosial jangan melihat seseorang dari pakaiannya, karena kita tidak tau seperti apa dia sebenarnya.

Malu, sakit hati, kesal tetapi kau harus melakukannya jika ingin bersekolah di sana. Itu mengajarkan bahwa mencapai sebuah tujuan tidak mudah, tetapi memang pantas untuk diperjuangkan.

Jika wanita rambutnya dipermainkan dengan diikat sedimikian rupa, itu menunjukan bahwa kecantikan adalah bagaimana merawat diri. Mengajarkan pentingnya kebersihan, perawatan dan kerapian bahwa rapi itu indah.

Lalu soal senioritas, banyak yang berkomentar bahwa apa pentingnya senioritas? Hanya karena duluan saja sudah sombong. Justru yang berkata demikianlah yang sombong, memang benar bahwa senioritas tidak menjamin apapun apalagi junior.

Tujuan dari senioritas adalah membiasakan dirimu di lingkungan kerja. Jika kita bekerja dengan orang lain, apalagi dimulai dari bawah selalu ada atasan. Orang yang posisinya diatasmu belum tentu lebih pintar, kuat, atau hal lain yang membuatmu tidak hormat padanya tetapi kau harus belajar menghormatinya karena itulah kunci kerjasama untuk menghasilkan hasil yang baik.

Banyak lagi kegiatan yang jika dilihat dari mata telanjang terkesan omong kosong, tetapi sebenarnya penuh makna. Namun akan sangat panjang jika dijelaskan satu persatu.

Apakah semua ini dipahami penyelanggara MOS? Tentu tidak. Sama halnya dengan tidak semua perusahaan memiliki atasan yang cerdas begitu juga penyelenggara MOS, kebanyakan dari mereka hanya balas dendam dan tidak mengerti arti MOS itu sendiri. Disitulah sebenarnya peran Guru Pembina dibutuhkan.

Lalu kenapa tidak meniru MOS yang ada di luar negeri? Alasannya sederhana, Indonesia belum siap untuk hal tersebut. Di luar negeri, kebanyakan yang melakukan MOS modern atau cerdas adalah negara yang menanamkan etika sosial dan hal-hal yang diajarkan saat MOS itu pada tingkat SD atau pendidikan di rumah.

Indonesia dulunya juga mengarah kesana, ketika SD lebih menekankan pelajaran moral namun perlahan-lahan pelajaran moral dikikis karena dianggap tidak dibutuhkan seiring bergantinya kurikulum.

Intinya adalah MOS tetap harus ada, namun pemahaman serta pelaksaannya lebih baik lagi. Penyelanggara MOS yaitu para anggota OSIS sebaiknya diberikan pemahaman terlebih dahulu sebelum melakukannya pada siswa baru sehingga tidak melenceng perbuatannya hingga ada tuduhan perkosaan, pelecehan dan sebagainya.

Ingat itu bukan kesalahan MOS tetapi karakter oknum siswa tersebut.

Ya, kira-kira seperti itu opiniku terhadap kasus ini. Sudah dijawab ya. :)

2 komentar:

  1. Point pentingnya lagi mungkin MOS itu ngajari tentang kekeluargaan dan tanggung jawab. Sekarang aja baru ngerasa efek positifnya. Dulu suka kesal kalau harus ikut dihukum gara-gara kesalahan anggota lainnya, padahal dengan gitu kita di ajarin bust saling bantu. Hehe, gak ngerti juga kenapa setiap tahun di permasalahin tentang hal yang sama, coba aja mereka bisa liat dari sisi yang lain. Bagusnya mereka berusaha biar MOS-nya jadi lebih bermanfaat daripada debat kusir di berbagai media, hehe...

    BalasHapus
  2. Ya, makanya ada hukum kolektif dalam MOS, tidak ada "bukan urusan saya" atau "bukan masalah saya."

    Maksudnya mengajarkan bahwa sosial itu saling terkait, seperti kisah perangkap tikus yang pernah dipublikasikan di blog ini.

    Iya, sebaiknya lebih diperbaiki itu memang penyelanggaranya. Agar bisa lebih baik dalam melaksanakan dan memberikan mamfaat pada penerima MOS itu sendiri :)

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)