Minggu, 23 Agustus 2015

Mengenal Somnambulisme atau Tidur Berjalan


Jika kita menonton banyak film, mungkin kita akan menemukan adegan seseorang berjalan dalam kondisi tertidur. Pertama kali aku melihat fenomena ini adalah dari film Donal Bebek. Kupikir itu hanya terjadi di film saja ternyata seperti Insomnia, Hypersomnia ada juga gangguan tidur seperti itu dan dikenal sebagai Somnambulisme.

Somnambulisme adalah gangguan tidur sambil berjalan (Sleep Walking). Gangguan perilaku ini terjadi dalam tahap mimpi dari tidur. Selama fase ini, tubuh melepaskan zat kimia yang melumpuhkan tubuh. Namun mereka yang berjalan sambil tidur tidak memiliki pemicu kimia tersebut, sehingga bisa jalan-jalan. Kebayakan somnambulisme terjadi pada anak-anak karena system syaraf mereka belum sepenuhnya berkembang.
 
Penderita somnambulisme disebut juga sleep-walker.

Meskipun sepertiga kasus ini memiliki dasar keluarga (familial basis), penyebab pastinya belum diketahui (Fauci A.S., et.al., 2008). Namun menurut Ackroyd G (2007) ada empat faktor yang menjadi penyebab, yaitu:

1. Genetika

Somnambulisme lebih sering terjadi pada kembar monozigot dan sepuluh kali lebih sering didapatkan jika suatu first-degree relative memiliki riwayat somnambulisme.

Dilaporkan pula adanya peningkatan frekuensi alel DQB1*04 dan *05.

Gen-gen DQB1 juga terlibat di dalam narcolepsy dan gangguan lain dari pengendalian motorik selama tidur, misalnya: gangguan perilaku Rapid Eye Movement (REM behavior disorder).

2. Lingkungan

Beberapa kondisi yang merupakan penyebab somnambulisme antara lain:
1. Kurang tidur (sleep deprivation)
2. Jadwal tidur yang tidak teratur/kacau (chaotic sleep schedules)
3. Demam (fever)
4. Stres atau tekanan (stress)
5. Kekurangan (deficiency) magnesium
6. Intoksikasi obat atau zat kimia, misalnya:
a. alkohol,
b. hipnotik/sedative (misal: Zolpidem),
c. antidepresan (misal: bupropion, paroxetine, amitriptyline),
d. neuroleptik (misal: lithium, reboxetine),
e. minor tranquilizers,
f. stimulan,
g. antibiotik (misal: fluoroquinolone),
h. medikasi anti-Parkinson (misal: levodopa),
i. antikonvulsan (misal: topiramate),
j. antihistamin.

3. Fisiologis

Panjang dan kedalaman SWS (slow wave sleep), yang lebih besar pada masa anak-anak awal (young children), merupakan faktor yang meningkatkan frekuensi parasomnia pada anak-anak.

Kehamilan dan menstruasi meningkatkan frekuensi pasien dengan parasomnia (salah satunya adalah: somnambulisme)

4. Berhubungan dengan Kondisi Medis

Beberapa kondisi medis yang berhubungan dengan somnambulisme antara lain:
a. Aritmia
b. Chronic paroxysmal hemicrania
c. Migraine
d. Fever
e. Gastroesophageal reflux
f. Nocturnal asthma
g. Nocturnal seizures
h. Obstructive sleep apnea
i. Gangguan psikiatris, seperti: posttraumatic stress disorder,
panic attack, dan dissociative states.
j. Hipertiroidisme

Pemicu

Menurut Prof.DR.dr. S.M. Lumbantobing, Sp.S(K), Sp.KJ. (2004), somnambulisme dapat dipicu oleh berbagai keadaan, seperti:
1. Deprivasi (kurang) tidur.
2. Demam.
3. Stres.
4. Medikasi (misalnya: fenotiazin, kloralhidrat, lithium).
5. Gangguan lain yang menyebabkan terbangun dari tidur (arousal),misalnya: OSA (Obstructive Sleep Apnea), kandung kencing penuh, suara keras.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)