Kamis, 06 Agustus 2015

Menulis dan Bercerita Horror



Ketika berbincang dengan seorang teman yang juga pembaca tetap blog ini, dia bertanya apakah aku tidak pernah berpikir untuk menulis cerita horror? Dia bertanya demikian karena membaca Gadis Kecil Berbaju Merah yang kutulis bulan Mei lalu, dia mengatakan bahwa kisah itu membuatnya kepikiran selama beberapa waktu tiap kali menuju parkiran.

Aku bercerita bahwa kisah itu tidak dibuat-buat, tetapi memang terjadi dan dia tertawa canggung mendengar itu.

Jika diingat lagi, saat masih remaja aku termasuk siswa yang sering menginap disekolah karena berbagai kegiatan, selain itu juga sering menginap di rumah teman. Sebab itulah aku lebih sering tidur di luar daripada di rumah sendiri.

Kala itu internet belum begitu mudah di akses disini, laptop juga masih sangat terbatas jumlahnya apalagi smartphone, sistem saat itu masih berbasis symbian. Itu sebabnya hiburan anak-anak remaja di malam hari tanpa televisi adalah penuturan kisah, tidak heran orang indonesia gemar berbicara menurut orang asing.

Waktu itu saat sedang musim panas, suhu pagi hari akan sangat tinggi dan bahkan di malam hari juga terasa gerah, padahal gurun saja mendingin pada malam hari bukan? Pada kala seperti itulah kisah-kisah horor menjadi kisah pengantar tidur sekaligus menyejukan tubuh.

Di tempat yang kental mistiknya seperti kota tempat tinggalku kisah hantu atau horror lebih sering dibicarakan dibandingkan gosip. Kami, yang belakangan kutau warga korea, china dan jepang juga percaya bahwa ketika kita menceritakan atau menulis kisah hantu, maka yang bersangkutan atau yang berada disekitar kita akan datang mendekat.

Energi hantu berlawanan dengan manusia, dalam ilmu metafisik tao, hantu memiliki energi yin atau dingin. Sehingga mampu mendinginkan suhu disekitar keberadaannya, tetapi jika yang berkumpul terlalu banyak dan membuat energi Yang atau panas manusia menurun dratis maka itulah yang disebut kerasukan.

Aku dikenal sebagai pencerita kisah hantu yang paling seram, biasanya mereka akan mengingatnya hingga berhari-hari bahkan berminggu-minggu, katanya sih karena gayaku bercerita membuatnya sangat nyata. Tentunya permainan intonasi saat bercerita horor sangat memainkan peran seperti musik latar di film horor.

Banyak yang mengira diriku adalah fans berat sesuatu yang berbau horor, sayangnya tidak. Aku berusaha menikmatinya tetapi aku sangat sulit mendapat kepuasan ketika menonton atau membaca genre horror sendirian. Aku lebih menikmati wajah ketakutan orang lain *senyum jahat*

Well, mungkin karena aku seseorang yang sangat berorientasi pada logika, membuatku sangat sulit untuk takut hal-hal seperti ini. Aku membaca banyak kisah, komik dan film horror sebelumnya. Bahkan komik sekelas karya Itou Junji sekalipun hanya membuatku mengantuk.

Hal lain adalah walaupun aku tidak takut, bukan berarti aku tidak bisa terkejut dan aku paling tidak suka jumpscare, jelas tidak baik untuk jantung.

Menanggapi pertanyaan temanku, sebenarnya aku lebih suka menulis genre thiller dimana tokoh utamanya adalah seorang penjahat yang sangat pintar, namun tentu saja cara kerjanya tidak ditulis dengan detail karena bisa menjadi buku petunjuk membunuh secara berantai.

Aku mempelajari banyak kondisi psikologis, dan melihat kondisi itu secara langsung. Sehingga tidak sulit untuk membuat kondisi-kondisi itu menjadi sebuah kisah menegangkan yang mencekam. Namun kembali lagi ke idealisme menulisku, aku lebih suka menulis sesuatu yang membuat pembacanya tersenyum dan menambah pengetahuan.

Namun, karena ada beberapa email yang meminta dan memberiku saran untuk menulis sesuatu yang berhubungan dengan horror atau thriller maka aku akan berusaha setiap malam jumat akan merilis sesuatu yang berbau hal tersebut, entah itu buku, manga, film, urban legend atau kisahku sendiri.

Aku belum menentukan nama serial ini, tetapi aku akan meminta bantuan seorang rekan yang ahli dibidang ini untuk memberikan masukan dan saran, serta jika bisa ikut berkontribusi di serial ini.

Pada akhirnya, akankah aku menulis cerita horror? Sebenarnya aku sudah pernah menulisnya, dalam balutan kombinasi action namun terhenti di bab 3 karena kurangnya waktu kala itu. Jadi tunggu saja malam jumat kalian lebih seru dengan kisah-kisah menyeramkan ya. :)

13 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Yup, I'm agree...
    menurutku menuliskan episode-eposide thriller memang lebih menarik daripada hanya sekedar horror belaka
    tapi buat nonton genre yang satu itu kadang suka nyerah, hehe

    BalasHapus
  3. Iya, menurutku lebih menarik membuat sesuatu yang bersifat membuat pembaca penasaran, menegangkan daripada ketakutan yang bersifat sementara :)

    Benar, jauh lebih sulit dan ceritanya sangat kompleks, dan juga sulit dibuat kisah pendek.

    BalasHapus
  4. pernah nulis cerita gitu sampe bab 3, apa gak cape pikiran? soalnya pernah nyobain sih, tapi di tengah2 mendadak ilang fokus, istirahat dan pas mau ngelanjutin lagi udah susah nyambunginnya hehe... ngerasa kaya roket gagal :D

    BalasHapus
  5. Kalau untuk Horror Action ya, yang berhubungan dengan hantu. Tiap babnya punya hantu yang berbeda, jadi 1 bab sekitar 18-22 halaman A4 dengan spasi 1,5. Tidak begitu sulit sih karena sebelumnya sudah dibuat plot untuk 11 Bab.

    Sedangkan untuk Thriller yang pernah buat sama teman, bab-bab awal justru lebih mudah karena masih menjelaskan tentang kedalaman karakter dan plot, bagian tengah dan penyelesaian biasanya yang sulit karena itu kebanyakan novel thriller yang kubaca memang awalnya menarik namun pertengahan ke akhir itu dingin. Tidak heran kalau novel-novel karangan Agatha Christie, Sidney Sheldon masih banyak beredar dan digemari hingga sekarang karena memang sulit dicari pengantinya.

    Mungkin yang bisa mengantikannya ya sekelas Stephen King :)

    BalasHapus
  6. Hmm, butuh sangat banyak hal buat bisa jadi se-luar biasa itu, hehe...
    anyway, setiap orang pasti punya fantasi dan jalur pikiran yang berbeda. Semoga aja, siapa tau kalau dapat terus dikembangin, cek n ricek sana sini, bisa muncul sebagai "sesuatu" yang baru :)
    Menulis juga terkadang bukan untuk mencari pembaca, mengumpulkan banyak penggemar, tapi lebih kepada kepuasan hati, pelampiasan emosi dan pengosongan pikiran yang ditimbuni oleh berbagai macam hal.

    BalasHapus
  7. Benar banget, aku sendiri banyak menulis hanya untuk mendapat tidur yang nyenyak karena kalau belum ditulis belum keluar dari kepala suara-suara yang menceritakan kisah itu, hehe.

    Memang lebih ke aktualisasi diri, kepuasan dan hobi untuk genre tulisan tertentu. Menurutku pribadi, Thriller adalah hal yang paling sulit ditulis kedua, setelah komedi karena menulis komedi cerdas yang tidak garing atau mainstream sangat sulit :)

    BalasHapus
  8. yup, yup, setuju...
    jadi ingat temen aku pernah bilang, orang cenderung suka nulis cerita sedih tapi paling susah nulisin tentang cerita bahagia dan lucu, kenapa? apa bedanya? toh keduanya juga perlu emosi kan?
    entah, mungkin seperti jawaban kamu tadi atau juga karena kenyataan yang menyakitkan yang paling membekas, who knows? :D

    BalasHapus
  9. Menarik sekali perkataan temannya, aku baru sadar juga bisa seperti itu. :)

    Ya, alam bawah sadar mungkin tetapi walaupun aku sangat menyukai menulis non-fiksi atau sesuatu yang logical, aku juga bisa menulis fantasy yang diluar logika biasa. Tapi mungkin karena fantasi yang baik sebenarnya harus didasari wawasan yang mendukung agar cerita itu mudah diterima dan dicerna ya :)

    BalasHapus
  10. Iya, happy writing Ron :)
    Selalu di tunggu postingan & karya terbarunya...

    BalasHapus
  11. Iya, Terimakasih Kak Dhyna :)

    BalasHapus
  12. aku bukan pecinta horror tapi ya nggak anti juga sih. kalo nonton film horror bareng2 aku nggak seberapa takutnya.
    kenapa ya kalo pas nonton film horror atau thriller, nonton berdua atau lebih, orang yang diajak nonton itu nggak begitu takut filmnya jadi aku yang takut. tapi kalo nonton sama yang penakut aku jadi nggak takut malah kadang suka ngeledekin mereka. kira-kira penyebabnya kenapa ya?

    BalasHapus
  13. Itu karena terbawa suasana saja, haha

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)