Minggu, 23 Agustus 2015

Stress Cardiomyopathy Patah Hati yang Mematikan






Patah hati bagi sebagian orang bisa jadi sesuatu yang fatal. Stress Cardiomyopathy atau yang pertama kali disebut Takotsubo Cardiomyopathy dan populer disebut Broken Heart Syndome atau Sindrom Patah Hati.

Sindrom patah hati (broken heart syndrome) umumnya lebih sering menyerang perempuan, yaitu suatu kondisi yang mana otot jantung untuk sementara melemah dan pembuluh darah tidak dapat merespons secara normal.

Sindrom ini awalnya dikenal sebagai takotsubo cardiomyopathy, tapi saat ini ada beberapa istilah yang menunjukkan kondisi ini seperti stress cardiomyipathy atau sindrom balon apikal (apical ballooning syndrome). Pertama kali dideteksi oleh para peneliti Jepang pada awal 1990-an, sindrom ini sampai sekarang masih menjadi sebuah misteri bagi kebanyakan kalangan medis. 
 
Menurut penjelasan Mayoclinic.com, kondisi  ini disebut Takotsubo cardiomyopathy karena ada kaitannya dengan cerek atau pot yang dipakai seorang nelayan Jepang untuk menangkap gurita. Ketika para dokter mengambil gambar foto sinar X dari pasien yang mengalami broken heart syndrome, bagian jantungnya menyerupai pot yang digunakan nelayan Jepang tersebut.


Sindrom ini tak bisa dianggap enteng karena dapat memicu produksi hormon stres seperti adrenalin sehingga melemahkan sebagian fungsi otot jantung untuk sementara bahkan mengalami kerusakan (cardiomyopathy).

Sindrom patah hati biasanya terjadi setelah seseorang terutama kaum perempuan mengalami peristiwa yang menegangkan atau menyedihkan, seperti kehilangan pasangan, diagnosis medis yang menakutkan, kehilangan banyak uang atau faktor psikologis misalnya stres. Namun penyebab pastinya sampai saat ini belum diketahui dengan pasti.

Gejala yang muncul biasanya mirip dengan serangan jantung seperti nyeri dada, sesak napas, detak jantung cepat dan lemah. Tapi tidak ada penyumbatan di pembuluh darah jantung dan tidak mengalami kerusakan yang permanen, karenanya pasien akan sembuh dalam waktu beberapa minggu. Kondisi inilah yang membedakannya dengan serangan jantung.

Umumnya tidak ada pedoman dalam menangani sindrom patah hati. Perawatan yang diberikan mirip dengan serangan jantung sampai dokter mendapatkan diagnosis yang tepat. Sebagian besar pasien akan tetap di rumah sakit sampai sembuh.

Dokter spesialis jantung, Dr Zulkeflee Muhammad dari National Heart Institute  Malaysia, mengatakan, dari 3.400 kasus serangan jantung diperkirakan sekitar tiga persen di antaranya disebabkan broken heart syndrome.


"Walau begitu, sindrom ini bisa pulih tanpa menimbulkan cedera pada otot jantung," ungkap Dr Zulkeflee.

Ia menambahkan, terkadang sulit untuk menentukan apakah seorang pasien mengalami serangan jantung atau stress cardiomyopathy sebab gejalanya bisa serupa.

"Tetapi, pada stress cardiomyopathy, angiogram menunjukkan tidak adanya penyumbatan pada arteri dan scan (magnetic resonance imaging/MRI) akan menunjukkan tidak adanya kerusakan permanen," ujarnya.

"Kondisi ini berbahaya dan bisa menjadi fatal, tetapi dapat dipulihkan. Mereka yang dirujuk ke rumah sakit biasanya dirawat selama sepekan. Dalam empat minggu, mereka benar-benar akan benar-benar pulih dan kembali menjalani kehidupan normal," ujarnya.

Kondisi ini jarang menjadi fatal selama pasien mendapatkan perawatan medis, bantuan pernapasan dan alat bantu kritis lainnya dalam 48 jam pertama.

Lalu apa saja peristiwa yang dapat membuat seseorang mengalami broken heart syndrome?

"Stres emosional yang akut seperti mengalami kejadian tabrakan hebat, kehilangan orang tercinta, kehilangan pekerjaan, mengalami perceraian, memiliki atasan yang buruk, menjadi korban bencana alam hebat seperti tsunami atau gempa, merupakan faktor pemicu pada orang dewasa. Bahkan, pesta kejutan ulang tahun pun bisa menyebabkan broken heart syndrome," kata Dr Zulkeflee.

Ia menambahkan, tingkat hormon stres pada seseorang yang mengalami broken heart syndrome tercatat 34 kali lebih tinggi dibandingkan pasien yang mengalami serangan jantung.

Sejumlah gejala umum yang dikenali saat seseorang mengalami serangan jantung di antaranya adalah napas yang tersengal-sengal, sakit dan rasa tidak nyaman pada dada.

"Kasus ini terjadi manakala otak menginstruksikan jantung untuk berhenti. Pada mereka yang mengalami stress cardiomyopathy, selang 48 jam pertama adalah masa kritis karena kemungkinan buruk bisa terjadi," tambah Dr Zulkeflee.

Ia menyatakan, kasus stress cardiomyopathy jarang terjadi di negara-negara Barat karena di sana tersedia sistem dukungan yang baik bagi mereka yang mendapat musibah kehilangan orang tercinta atau korban kecelakaan.

"Di negara-negara Timur, ketika seorang perempuan kehilangan suaminya atau ketika seseorang kehilangan orang tercinta, mereka harus berjuang mengatasi situasi itu sendirian. Ini dapat memicu pelepasan hormon stres yang sangat besar dalam tubuh dan menyebabkan timbulnya stress cardiomyopathy," ujarnya.

Dr Zulkeflee juga menyarankan, bagi mereka yang merasakan sakit pada daerah dada atau merasakan tidak nyaman untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

"Semakin dini Anda berkonsultasi, semakin baik buat Anda. Namun, harus diketahui bahwa stres yang dialami dari hari ke hari tidak menyebabkan broken heart syndrome. Penyebabnya adalah stres emosional dan fisik yang akut," terangnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)