Jumat, 21 Agustus 2015

Vinyl Piringan Hitam yang Menjadi Legenda



Vinyl atau piringan hitam adalah salah satu benda yang menarik untukku. Aku berasal dari zaman dimana Vinyl dan Tape masih aktif dipakai sebagai hiburan, kakekku senang memutar musik klasik di sore hari saat minum teh dengan media piringan hitam ini.

Vinyl biasanya termasuk hobi koleksi, di Indonesia saat ini kembali populer. Berkat Vinyl musik dapat disampaikan ke berbagai belahan dunia pada masanya, banyak peran penting lainnya juga dalam sejarah piringan hitam ini.

Bisa dibilang hobi ini cukup mahal tetapi aku perlahan-lahan mulai mengoleksi musik-musik terutama musik Blues serta Pop dan Rock klasik seperti The Beatles, Elvis dan lainnya.

Mari mengenal sejarah piringan hitam.



Pada tahun 1930, RCA Victor meluncurkan komersial vinil. catatan long-playing pertama, dipasarkan sebagai "Program Transkripsi" cakram. Cakram ini revolusioner yang dirancang untuk pemutaran di 33 ⅓ rpm dan ditekan pada 12" diameter disc plastik fleksibel. Dalam buku Roland Gelatt ini “The Fabulous phonograph”, penulis mencatat bahwa pengenalan awal RCA Victor disc long-play adalah kegagalan komersial untuk beberapa alasan seperti kurang terjangkau, peralatan pemutaran konsumen yang handal dan kewaspadaan konsumen selama depresi besar.

Dimulai pada tahun 1939, Columbia Records melanjutkan pengembangan teknologi ini. Dr Peter Goldmark dan stafnya melakukan usaha maksimal untuk mengatasi masalah merekam dan memutar ulang alur sempit dan mengembangkan murah, sistem pemutaran konsumen yang dapat diandalkan.

Pada tahun 1948 piringan hitam mulai dikenal. Ada tiga ukuran piringan hitam dalam hitungan rpm (rotation per minute) yaitu 78, 45, 33 1/3. Piringan hitam 78 dan 45 untuk plat berdiameter 25 cm, sedangkan 33 1/3 untuk plat berdiameter 30 cm. 78, 45, 33 1/3 rpm maksudnya adalah, setiap satu menit piringan hitam itu berputar sebanyak angka yang menjadi ukurannya (78, 45, 33 1/3). Semakin besar diameter platnya, semakin kecil ukuran untuk memutarnya.

Belakangan kecepatan 78 mulai tidak digunakan lagi pada produksi piringan hitam ini sejak sekitar tahun 60an dan hanya kecepatan 45 dan 33 1/3 saja yang masih digunakan untuk memutarnya. Plat berukuran 30 cm dengan kecepatan 33 1/3 yang biasa disebut Long Play (disingkat LP), plat ukuran sedang 25 cm juga dengan kecepatan 33 1/3 masih termasuk Long Play tapi biasanya berisi 4 buah lagu di tiap sisinya, plat ukuran 18 cm dengan kecepatan 45 atau 33 1/3 juga, berisi 1 buah lagu di tiap sisinya disebut Single Player dan yang berisi 2 buah lagu di tiap sisinya disebut Extended Player.

Para musisi pada tahun 1950-1970an pun banyak yang merekam lagu-lagu mereka ke dalam piringan hitam. Namun biasanya mereka hanya merekam single saja kedalam piringan hitam yang berukuran 78 atau 45. Jadi kebanyakan hanya terdapat dua lagu, masing-masing satu lagu di side A dan side B. 
 
Hal itu dikarenakan pada masa itu biaya untuk merekam lagu terbilang mahal, lagipula seorang penyanyi atau sebuah grup musik biasanya hanya mempunyai satu atau dua lagu yang terkenal, maka dari itu mereka lebih memilih membuat single. Jadi kalaupun mereka membuat album, album hanya bisa direkam di piringan hitam berukuran 33 1/3, biasanya sisa lagu yang lain yang selain single hanya filler.

Di Indonesia sendiri, piringan hitam mulai digunakan sebagai alat perekam sekitar tahun 1957. Pada masa itu di Indonesia, piringan hitam termasuk mahal, ditambah lagi dengan alat pemutarnya, jadi tidak semua orang di Indonesia memilikinya. Itulah salah satu faktor yang menyebabkan piringan hitam kurang terkenal di Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)