Kamis, 24 September 2015

Kumpulan Teka Teki Riddle 7

http://3.bp.blogspot.com/-dFtLDKIyaiE/VcycJRo3nnI/AAAAAAAABww/fAUtIzx0lEg/s1600/url.jpg 

 Tidak terasa, sudah sampai  koleksi ke 7. Selamat memutar otak dan menikmati kumpulan Riddle kali ini.



Nyonya yang Malang

Seorang aparat kepolisian di Australia mewawancarai wanita Indonesia yang melapor ke kepolisian karena suaminya meninggal secara mendadak di dalam mobil, ketika mereka melintasi sebuah terowongan angker di Australia.

“Bagaimana suami anda meninggal, nyonya?” tanya aparat kepolisian tersebut.

“Aku… aku tidak tahu, Pak. Saat itu kami tengah mengalami momen yang amat indah, dan suamiku yang menyetir. Ketika tiba-tiba saja wajahnya mendadak berubah biru dan ia seperti orang yang sesak nafas. Aku panik sekali dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku yang duduk di sebelah kirinya merasa takut dan memegang erat tangannya. Mobil itu tak terkendali dan akhirnya menabrak tebing sekeluarnya dari terowongan. Ketika kulihat, suamiku sudah meninggal”

Sang polisi memeriksa mobil tersebut dan menemukan sesosok pria terbujur kaku di dalam mobil. Ia juga memeriksa, di kaca belakang mobil terdapat goresan tajam.

“Ah, nyonya yang malang.” ujarnya sambil berlalu.
Kasir
Aku menyadari ada yang aneh tentang kasir di supermarket itu. Saat itu jam 2 siang, namun ia tidak menyapa semua orang dengan ucapan “Selamat siang”. Ia hanya mengucapkan selamat siang ada orang2 dewasa saja. Sedangkan ia menyapa anak kecil dengan “Selamat pagi” dan manula dengan “Selamat sore”. Padahal ini jam dua siang! Benar-benar kasir yang aneh.

Aku belum dewasa. Umurku baru 16 tahun. Dan akupun tak bisa dianggap anak-anak lagi. Aku penasaran dengan ucapan ia akan menyapaku. Maka akupun berjalan ke arahnya. Ia menatapku dan mengucapkan, “Selamat malam.” 

Jalan Gunung yang Gelap

Di gunung yang gelap seperti ini, hanya ada cahaya bulan dan lampu dari rumah-rumah pribadi yang menerangi jalan. Karena sudah terlalu larut malam, akupun mengendarai mobil dengan cepat agar segera sampai ke rumah. Lagipula jalanan sangatlah sepi pada jam-jam segini.

Tiba-tiba seorang pria melompat di hadapanku.

Akupun menginjak rem tepat waktu. Pria itu selamat dan berada di seberang jalan sekarang. Namun agar tidak terlibat masalah, akupun segera menginjak gas dan kabur secepatnya dari tempat itu.

Aku melirik ke jendela spion. Tampak mata pria itu dengan marah menatapku. Hei, itu kan bukan salahku? Dia yang tiba-tiba melompat ke tengah jalan.

Rumah Berhantu

Aku pergi ke sebuah taman bermain saat liburan musim panas bersama pacarku. Aku tertarik dengan sebuah wahana bernama” Rumah Berhantu”. Karena aku sangat suka dengan hal-hal berbau horor, akupun mengajak pacarku masuk ke sana (karena aku takut masuk sendirian hahaha).

Di dalam “rumah hantu” itu ternyata sangat gelap sehingga cukup membuatku ketakutan. Akupun segera menggandeng tangan pacarku dan mulai berjalan.

Isi rumah hantu itu sangat standar, hanya boneka-boneka menakutkan. Namun tetap saja suasana yang menyeramkan membuatku merinding. Bahkan aku hampir menangis dibuatnya. Untunglah pacarku sangat perhatian dengan menepuk punggungku untuk menenangkanku.

Aku mengambil napas lega ketika kami akhirnya keluar. Akupun melepaskan tangan pacarku dan merasa malu karena bertingkah seperti anak kecil di dalam sana tadi. Untung saja aku memiliki pacar yang sangat baik.
Kamar Mandi Umum
Aku pergi ke sebuah toilet umum. Ternyata toilet itu bergaya Jepang (toilet jongkok). Aku merasa agak tak nyaman, namun apa boleh buat, aku menggunakannya juga.

Seperti layaknya toilet umum, ada banyak coret-coretan di sana. Aku membaca coretan di depanku yang tertulis di pintu.

“Lihat ke kanan!”

Hah, memang ada apa di kananku?

Aku menoleh ke sebelah kananku dan melihat tulisan lain,

“Lihat ke kiri!”

Aku segera menoleh ke arah kiriku dan di sana terdapat tulisan lain, “Lihat ke atas!”

Aku segera mendongak ke atas. Ternyata di atas juga terdapat sebuah grafiti lain.

“Jangan menoleh ke belakang!”

Dengan gemetar aku mulai menoleh ke belakang dan di sana ...

.

.

.

.

.

.

Ternyata tak ada apapun. Aku mengambil napas lega. Huh, ternyata cuma ulah orang iseng. 
Anggur
Sepasang pria dan wanita mengalami kecelakaan di jalanan yang sepi. Kedua melaju berlawanan arah, dan entah karena kesalahan siapa, keduanya bertabrakan. Untunglah kedua orang itu tak mengalami luka apapun.

“Ah mobilku!” sang gadis keluar dari mobilnya dan mendapati bagian depan mobilnya penyok serta mengeluarkan asap.

“Nona, anda tak apa-apa?” seorang pria keluar dari mobilnya dan terkesima melihat kecantikan gadis itu.

“Aku sih tak apa-apa tapi mobilku ... aduuuuh ...”

“Nona, tenanglah. Kurasa ini kehendak Tuhan agar kita bertemu di kecelakaan ini. Jangan pikirkan mobilnya. Yang penting kita baik-baik saja.”

“Kurasa kau benar.” Gadis itu berpikir sebentar. “Mungkin ini adalah sebuah mukjizat kita dipertemukan di sini tanpa sedikitpun mengalami luka. Oh ya, ini masih ada satu mukjizat lagi ...”

Gadis itu menoleh ke kursi belakang mobilnya dan mengeluarkan sebotol anggur.

“Lihat, botol ini sama sekali tak pecah walaupun mobil kita bertabrakan. Ini adalah salah satu bukti Tuhan menginginkan kita agar merayakan pertemuan ini.”

“Ya, tentu saja!” seru pria itu dengan bersemangat.

Ia juga mengambil dua buah gelas dari kursi belakang.

“Mari kita bersulang atas perlindungan Tuhan sehingga kita selamat tanpa luka apapun.”

Pria itu menerima gelas dan bersulang dengan gadis itu.

Pria itu segera meneguk anggur dalam gelasnya hingga habis, namun gadis itu hanya diam saja.

“Anda tak ikut minum, Nona?” tanya pemuda itu dengan heran.

“Tidak,” gadis itu tersenyum, “Aku menunggu polisi saja.” 
Cermin di Lift

Aku berkunjung ke apartemen temanku yang sangat percaya takhyul. Ia bercerita tentang urban legend yang berkaitan dengan cermin. Ia mengatakan apabila kita menghadapkan dua cermin dan kita berkaca di cermin itu, maka kita akan membuka gerbang dunia lain. Ah, omong kosong, pikirku.

Namun begitu aku hendak pulang dan berada di lift apartemennya (ia mengantarku turun), aku menyadari bahwa ada cermin besar di bagian belakang elevator, menghadap ke punggungku.

“Hei, ayo kita coba buktikan perkataanmu tadi.” kataku.

“Apa maksudmu?” tanyanya.

Aku mengeluarkan sebuah cermin rias dari tasku dan menghadapkannya ke cermin di belakang kami.

“Hei, jangan macam-macam!” katanya ketakutan.

“Ah, kau ini percaya sekali dengan takhyul.”

“Pokoknya tanggung sendiri resikonya. Aku nggak mau ikut campur!”

Aku berkaca di cermin yang kupegang.

“Pokoknya urban legend itu mengatakan jangan menoleh ke cermin yang ada di belakangmu, atau kau akan melihat sesuatu yang sangat menakutkan!”

“Ah, masa?” Dengan iseng aku menoleh ke belakang dan kecewa.

Di sana hanya ada refleksi wajahku dan punggung temanku itu.

“Ah, payah! Seram apaan? Nggak ada apa-apa, cuma bayangan normal.”

Pintu lift terbuka dan saat aku berjalan keluar, aku menyadari sesuatu.

“Oya, sepertinya tadi kacamataku ketinggalan di kamarmu.”

“Kamu ini pelupa sekali. Itu kan kacamatanya kamu pakai?”

“Oh ya?” aku segera memegang kacamataku yang memang sedang kupakai.

“Mungkin ini efek samping permainan kaca tadi: kamu jadi orang bego!”

“Ah, sialan kamu! Ya sudah, ketemu besok lagi ya?”

Aku melambai ke temanku itu, namun entah mengapa aku masih merasa tidak nyaman semenjak turun dari lift tadi. 


Anastesi

Aku pergi ke dokter gigi saat itu dan ia memberikanku obat anastesi. Ia mengatakan bahwa aku tak boleh makan apapun sebelum efek anastesi obat tersebut hilang. Namun sepulang dari dokter gigi, aku mendapatkan undangan jamuan makan di restoran. Tentu saja aku tak bisa menolaknya bukan?

Begitu aku mencoba mencicipi makanan dan minuman itu, barulah aku mengerti kenapa si dokter melarangku makan. Rupanya obat bius itu mematikan seluruh saraf di mulutku. Aku tak bisa merasakan apapun, termasuk rasa makanannya. Ah, sampah! Padahal hidangannya adalah steak yang kelihatannya amat lezat. Namun apa boleh buat, aku terus saja makan dan makan walapun itu berati aku hanya terus mengunyah dan menelan tanpa bisa merasakan apa yang aku santap.

Namun setelah efek obat bius habis, aku mulai merasa kesakitan.

Ledakan

Hari itu, di kelas IPA, seorang guru mengadakan praktikum dan menyuruh anak-anaknya berpindah ke laboratorium biologi. Namun celakanya, gas yang ada di ruangan itu bocor dan meledak. Akibatnya, seluruh siswanya berserta sang guru IPA pun tewas dalam tragedi mengerikan itu. Seluruh tubuh mereka hangus, remuk berceceran, bahkan ada yang hanya tertinggal tulangnya saja.

Namun di sinilah ditemukan sesuatu yang ganjil. Ada 40 siswa di kelas itu dan 1 orang guru, sehingga jumlah korban seluruhnya ada 41. Namun dari jumlah jenazah yang ditemukan (diidentifikasi berdasarkan catatan gigi mereka), ditemukan 42 jenazah. Ada 40 jenazah siswa yang masih kecil dan 2 jenazah dewasa.

Bekendara Tengah Malam

Aku iseng-iseng mengadakan perjalanan tengah malam dengan mobilku untuk mengecek sebuah tempat yang katanya berhantu. Tempat itu adalah sebuah jalan sepi yang jarang dilalui orang. Karena aku tak begitu mengerti jalan, akupun mengajak salah seorang temanku. Benar, jalan itu memang sangat sepi. Sepanjang perjalanan, hanya ada sebuah mobil melintas di depan kami, menuju ke arah yang sama.

“Hei, kita tidak tersesat kan?” kataku pada temanku.

“Huh, aku juga tak pernah ke sini, namun jalan ini pasti ada ujungnya kan?”

“Lihat, itu ada sesuatu. Seperti papan peringatan!”

Ruapnya apa yang kami lihat tak seusai dengan yang kami harapkan. Jalan itu ternyata buntu, berakhir di sebuah tebing yang cukup curam. Bahkan ada papan peringatan di sana.

“Ah sial, kok buntu?”

“Apa seramnya tempat ini? Ah sudah kita pulang saja. Tak ada apa-apa di sini.”

“Oke, aku setuju. Ayo kita segera pulang.”

Kamipun berbalik arah. Secepatnya kami ingin pergi dari tempat itu. 
Kamera Tua
Ayahku mewariskan sebuah kamera tua kepadaku. “Kamera tua ini ajaib,” ceritanya, “Kamera ini dapat menangkap wajah terakhir seseorang sebelum ia meninggal.”

Ayah menunjukkan sebuah foto yang diambilnya beberapa tahun lalu dengan kamera itu. Ia tampak sangat tua di foto itu. Beberapa minggu kemudian, ayahku benar-benar meninggal. Wajahnya tampak tua, sama seperti yang ada di foto itu.

Saat aku bercerita pada pacarku, ia hanya bertanya dengan heran. “Apa benar kata ayahmu itu?”

“Well, kalau begitu mari kita coba buktikan.”

Akupun memfoto “selfie” diriku bersama pacarku dengan kamera itu. Wajahku nampak tak apa-apa, namun wajah pacarku tampak berdarah.

“Ah, ini pasti kesalahan cahaya atau alat cetaknya.” kata pacarku sambil bergurau.

Beberapa hari kemudian, pacarku meninggal karena kecelakaan. Wajahnya berlumuran darah, sama seperti foto hasil jepretan kamera itu.

Aku sangat sedih, namun hidup harus berlanjut terus. Aku akan berusaha tegar untuk mendiang kekasihku itu. 

Kondisi Gawat Darurat

Aku segera bergegas dengan ambulanku ketika ada panggilan darurat. Seorang wanita menelepon dan mengatakan bahwa suaminya sedang tak sadarkan diri di ruang tamu mereka. Ketika ia sampai ke rumah itu, seorang wanita berumur 20-an tahun membuka pintu. Ia tampak memakai make up lengkap. Mungkin mereka akan pergi keluar, pikir sang paramedis.

“Syukurlah anda cepat datang. Suami saya tergeletak di dalam sana. Ia ... ia tak bernapas ...”

“Apa anda sudah melakukan tindakan P3K?”

“Ya, sebab saya seorang perawat. Namun ia tak kunjung sadar ...”

Aku segera menghampiri tubuh suaminya. Denyut nadinya suda h tak terasa lagi. Bibirnya tampak pucat, begitu pula wajahnya.

“Ba...bagaimana keadaannya?” tanya wanita itu dengan gugup.

Aku menoleh dengan wajah marah, “Jelas sekali anda berusaha membunuhnya!”

 Kecelakaan di Sekolah



Sore itu aku pulang sendirian dari sekolah. Aku melihat seorang anak sedang bermain di taman bermain di halaman sekolah dengan riang.

“Sore-sore begini?” pikirku, “Seharusnya anak-anak SD sudah pulang.”

Tiba-tiba terdengar suara “Buk!” yang amat keras. Anak itu rupanya terjatuh dari salah satu mainan di taman bermain itu.

Aku segera menghampirinya. Nampak tangannya memar dan tangan satunya sedang memegangi tangannya yang memar itu. Ia berjalan terpincang sebelum akhirnya duduk dengan kesakitan di atas ayunan.

“Apa kau baik-baik saja?”

“Tangan dan kakiku sakit sekali.” katanya sambil menangis.

Aku segera menggendongnya ke klinik sekolah. Ia sesekali menjerit ketika aku tanpa sengaja menyentuh bagian tubuhnya yang terasa sakit. Untung saja perawat masih belum pulang dan ada di klinik saat itu.

“Tolong anak ini,” kataku, “Anak ini terjatuh tadi.”

“Ya, aku kenal anak ini. Dia memang sangat nakal.” ia memeriksa kondisi anak itu, “Tampaknya lukanya cukup parah. Tulangnya patah. Bisakah kau bantu aku dengan pergi ke ruang guru dan memanggil ambulan?”

“Tentu saja.” aku kemudian meninggalkan anak itu bersama suster dan beberapa saat kemudian sirine ambulan terdengar. Aku melihat ketika paramedis membawa anak itu di atas sebuah tandu.

“Bagaimana kondisi anak itu? tanyaku.

“Apa anda yang tadi memanggil kami?”

Aku mengangguk.

“Untung saja anda cepat memanggil kami. Kedua tulang kaki dan kedua tulang tangannya patah. Bila terlambat dibawa ke rumah sakit bisa gawat.”

Akupun mengangguk kembali dan saat aku melihat ambulan itu pergi, bulu kudukku mulai berdiri dan akupun bergegas pulang.

Mata yang Menakutkan

Aku tinggal sendirian di sebuah apartemen studio [sebuah apartemen dengan hanya satu kamar yang luas tanpa penyekat.

Kamarku terletak di lantai 12 dan aku sangat menyukainya sebab pemandangannya sangatlah bagus.

Aku sedang menata rambutku di cermin besar yang ada di kamarku ketika kejadian menakutkan itu terjadi. Aku melihat wajah seorang wanita di belakangku.

Wanita itu berambut panjang seperti Sadako dan memiliki tatapan mata yang sangat mengerikan.

Akupun menoleh secara refleksi ke arah belakangku, namun tak ada apapun di sana. Aku hanya melihat pemandangan yang indah dari jendelaku.

Apa aku tadi salah lihat? Tidak, aku tadi jelas melihatnya.

Wanita itu jelas sedang menatapku dari belakangku.

Apa ... apa itu hantu?

Tiba-tiba terdengar suara, “Braaak!!!”

Jantungku terasa berhenti berdetak ketika mendengar suara itu. Apa itu suara mobil atau sepeda?

Aku juga mendengar suara sirine dari kejauhan.

Ah, itu semua tidak penting, pikirku. Aku baru saja melihat hantu! Hantu ternyata benar-benar ada!

Bagaimana? Sudah berhasil menemukan semua jawabannya? Mari cocokan disini.



Kumpulan Jawaban

 Nyonya yang malang : Nyonya itu membunuh suaminya, di dalam terowongan yang gelap tidak mungkin dia melihat wajah suaminya membiru. Dia telah dibunuh sebelum kecelakaan itu terjadi.

Kasir : Ya, sederhana saja. Si Aku akan segera meninggal.

Jalan Gunung yang Gelap : Jalan itu gelap, seharusnya dia tidak bisa melihat tatapan mata pria itu.

Rumah Berhantu : Dia sedang berpegangan tangan, seharusnya pacarnya tidak bisa menepuk-nepuk pundaknya.

Kamar Mandi Umum : Tulisan pertama lihat ke kanan berubah menjadi lihat ke atas.

Anggur : Gadis itu menjebak si Pria, ketika polisi datang si wanita bisa menuduh pria mengendarai dalam keadaan pengaruh alkohol.

Cermin di Lift : Pantulan dirinya di lift tidak memakai kacamata.

Anastesi : Si Aku tidak sengaja mengigit lidahnya sendiri.

Ledakan : Rangka Tulang manusia yang biasanya ada di Lab biologi itu seharusnya dari manekin tetapi ternyata dibuat dari tulang manusia asli.

Berkendara Tengah Malam : Mobil yang melewati mereka, antara hantu atau jatuh ke jurang.

Kamera Tua : Dia juga akan meninggal tidak lama lagi.

Kondisi Gawat Darurat : Jika wanita itu benar melakukan pertolongan maka ada bekas lipstik di bibir suaminya.

Kecelakaan di Sekolah : Perawat itu mematahkan satu tangan dan satu kaki si anak.

Mata yang Menakutkan : Itu sebenarnya bukan hantu tetapi seorang wanita yang loncat dari lantai di atasnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)