Rabu, 28 Oktober 2015

Winner Mindset Revolution : 25 Pola Pikir Seorang Pemenang #1 - #5




Ada pemenang di dunia ini, dan ada pecundang. Apa yang membuat seseorang menjadi pemenang dalam kehidupannya? Apa yang membuat seseorang menjadi pecundang? Perbedaannya terletak pada sikap, pandangan, dan pola pikir.

    Biasanya, cepat atau lambat, Anda akan mendengar pecundang menyalahkan kegagalannya pada orang lain atau keadaan. Pola pikir yang menyalahkan orang lain atau keadaan atas kegagalannya adalah pola pikir yang diprogram untuk kalah.

    Mengapa? Karena itu adalah pola pikir fatalistik, yaitu pola pikir bahwa nasib berada di luar kendali, pada belas kasihan orang lain atau keadan di luar diri mereka. Ini adalah pola pikir yang telah menyerah atas kekuatan dan kemampuan sendiri.

    Menjadi pemenang membutuhkan kerja keras, ketekunan dan keyakinan dalam diri sendiri. Pola pikir pemenang adalah untuk mengambil tanggung jawab atas tindakannya, menyalahkan dirinya sendiri dan hanya dirinya sendiri karena kegagalan, untuk percaya bahwa takdirnya terletak seluruhnya di dalam dirinya sendiri, menolak setiap pemikiran bahwa nasibnya tergantung pada belas kasihan orang lain atau keadaan di luar. Pola pikir inilah yang merupakan salah satu yang diprogram untuk pemenang.

    Tulisan ini memaparkan apa saja perbedaan winner mindset dan loser mindset. Pola pikir seorang pemenang berbeda dengan pola pikir seorang pecundang. Dengan loser mindset, orang tidak akan bisa sukses. Namun dengan winner mindset, sukses akan bisa diraih. Pilihan berada di tangan Anda, apakah Anda ingin menjadi pemenang atau pecundang, menjadi kaya atau miskin, menjadi sukses atau tidak.

    Orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Pernyataan itu ada benarnya menilik data dan prediksi bahwa 50% uang yang beredar di dunia dikuasai oleh 1% populasi manusia, sedangkan 90% uang yang beredar di dunia dikuasai oleh 5% populasi. Jika uang yang beredar dibagikan ke semua orang di seluruh dunia, maka setiap orang akan mendapatkan USD 2.400.000 (sekitar Rp 24 miliar). Jika uang yang beredar dibagikan ke semua orang di seluruh dunia maka setelah 5 tahun komposisi penguasaan uang akan kembali seperti sebelumnya.

    Dari data tersebut dapat kita ketahui juga bahwa ternyata lebih banyak orang memperbutkan uang yang lebih sedukit, bahkan 90% populasi memperebutkan uang yang hanyaa 10%. Betapa menyedihkan!

    Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena menjadi miskin dan menjadi kaya itu bukan masalah seberapa banyak uang yang dimiliki namun masalah pola pikir atau mindset. Orang kaya memiliki cara pikir yang berbeda dari orang-orang miskin. Mereka berpikir secara berbeda tentang uang, keyaaan, diri sendiri, orang lain, dan kehidupan.

    Pelajari terlebih dahulu mindset apa yang Anda miliki sekarang. Bila ternyata Anda masih menganut loser mindset seperti yang dimiliki 90% penduuk dunia, segera ubah mindset Anda, menjadi winner mindset.

Diadaptasi dari buku Mindset Revolution karya Mario Seto

#1
Winner Minset: Berpikir Positif

“Seseorang tak lain adalah produk dari pikirannya sendiri. Apa yang dia pikirkan mengenai siapa dirinya akan menjadi seperti itulah dirinya.”(Mahatma Gandhi)

Orang yang paling berpengahuruh terhadap kesuksesan Anda sebenarnya adalah Anda sendiri. Anda harus mengembangkan mindset positif dalam menghadapi segala suatu. Minset ada menentukan bagaimana Anda memandang dan bereaksi terhadap tangan serta masalah

    Cara seseorang menanggapi situasi ditentukan oleh bagaimana caranya berpikir. Orang yang berpikiran positif akan menganggapnya sebagai sebuah tantangan, dan merupakan sesuatu yang harus ditaklukkan dan diatasinya. Dia akan melihatnya sebagai sebuah kesempatan untuk memperbaiki dirinya sendiri dan mempelajari sesuatu yang baru. Dia akan fokus pada solusi dan bukan masalah. Dia tidak akan mudah menyerah dan selalu berusaha mencari solusi.

    Saat Anda berpikir untuk memulai sesuatu, katakanlah sebuah bisnis, apakah Anda mengatakan pada diri sendiri kalau Anda pasti akan sukses atau Anda terus khawatir kalau Anda akan gagal? Kalauternyata Anda cenderung mengatakan yang kedua, maka Anda harus segera menghubah mindset Anda. Sayangnya banyak orang seperti anda. Mereka sendiri yang tidak ingin sukses. Alasannya sederhana, mereka mendorong diri mereka sendiri untuk menyerah bahwakan sebelum pertempuran dimulai. Akibatnya, mereka tidak berusaha sekseras yang sebenarnya bisa mereka lakukan, dan kurang bersemangat dalam mengerjakan sesuatu.

    Semakin Anda antusias, bergairah dan bersemangat terhadap sesuatu yang Anda inginkan, maka semakin lebih baik persaan yang Anda rasakan, dan semakin cepat pula Anda melihat perwujudan apa yang Anda inginkan.

    Mulailah dengan kebiasaan untuk menceritakan tentang hal-hal baik kepada setiap orang yang Anda temui dalam hidup Anda. Pastikan mindset Anda bisa terisi oleh nilai-nilai kehidupan dari persepsi positif Anda untuk membangun pertahnan mental Anda yang kuiat dan solid.

    Jangan ganggu ketenangan batin Anda dengan persoalan kecil. Jangan lupa untuk selalu berpikir dan berprasangka baik terhadap siapapun dan apapun. Lebih baik Anda berpikir positif tentang orang-orang lain, sambil menjaga diri sendiri dari segala sabotase ahl-hal negatif yang mungkin bisa muncul dari luar diri Anda.

    Anda harus membuat semua orang di sekitar Anda mersakan damai dan nyaman. Sebab, rasa nyaman dan damai itu akan mengantar energi baik ke dalam batin Anda, sehngga batin Anda semakin damai, nyaman dan bahagia.

    Lihatlah semua sisi kehidupan dari persepsi positif dan wuudkan polah diup yang optimis; berpikirlah tentang hal-hal baik dan wujudkan pikiran jernih; bekerjalah hanya untuk halhal terbaik dan wujudkan karya-karya terbaik; berharaplah hanya pada hal-hal terbaik dan wujudkan suasana batin yang damai.

    Jadilah pribadi yang selalu antusaias membantu kesuksesan orang lain, seperti Anda membantu diri Anda sendiri untuk meraih sukses. Sebab, saat Anda mau membantu orang lain meraih sukses, maka energi positif akan menyriam batin dan pikiran Anda dengan kekuatan damai, nyaman dan bahagia.

    Ketika Anda berpikir secara positif tentang berbagai hal dalam kehidupan Anda, Anda akan memperoleh kekuatan lebih untuk bertindak. Ketika Anda yakin masalah tak akan menghambat Anda dan jika akan mendapatkan kekuatan untuk mengusahakan rencana-rencana Anda berhasil dan mewujudkan tujuan Anda. Anda tak akan dilemahkan oleh keraguan, kebimbangan dan depersi, namun dipenuhi dengan vitalitas dan semangat untuk bertindak.

Loser Mindset: Berpikir Negatif

    Salah satu ciri loser minset adalah cara berpikir yang negatif. Orang orang seperti ini memandang segala sesuatu yang terjadi pada mereka dari negatifnya saja tanpa melihat ada yang positif di sisi lainnya.

    Berpikir negatif bagaikan penyakit yang menggerogoti jiwa manusia. Membuat manusia menjadi pesimis, tak bersemangat menghadapi tantangan kehidupan. Mereka tidak berusaha atau bekerja keras karena dalam pikiran mereka apapun yang mereka kerjakan tidak akan berhasil.

    Sikap negatif itu mengalahkan diri sendiri. Kita tidak akan menemukan solusi untuk masalah-masalah kehidupan dengan mencari seseorang atau sesuatu untuk disalahkan. Mereka yang mengatakan, “berpikir positif itu tidak cocok untuk saya,” sudah terbalik menerapkannya. Bukan caara berpikir positif yang harus menyesuaikan diri dengan mereka, tetapi merkalah yang harus menyesuaikan diri dengan selalu berpikir positif. Mereka seharusnya berusaha mengahrgai apa yang sudah mereka miliki, bukannya mengeluh tentang apa yang belum mereka miliki.

    Bila kegeagalan menghampiri mereka, mereka merasa tertekan, jiwa dan raga mereka. Pikiran negatif tidak hanyam nehambat kesuksesan tetapi juga menyebabkan terjadinya penurunan daya kekebalan tubuh. Jadi bukan hanya penyakit fisik langsung yang mereka rasakan akibat stres, seperti penyakit jantung, namun juga ppenyakit-penyakit lain akibat penurunan daya tahan tubuh.

    Apakah Anda mengenal seseoarng yang selalu berpkikiran negatif. Sudah berapa lama dia seperti itu, satu tahun, dua tahun atau lima tahun? Pernahkan Anda berpikir betapa besar kerugian orang itu dalam hidup. Karena dia lebih banyak menghabiskan banyak waktunya untuk berpikir negatif, mengeluhkan segala sesuatu, tidak mamu berusaha lebih keras agar lebih berhasil dalam hidup, darpiada waktu untuk berbahagia. Kebahagiaan dan pikiran negatif tidak mungkin muncul dalam waktu bersamaan. Bila dia menghabiskan hidupnya untuk berpikir negatif maka dia telah mengurangi waktunya sendiri untuk berbahagia, untuk bekerja keras memperoleh kesuksesan dan kekayaan.

    Orang-orang yang berpikiran negatif menciptakan dunia negatif untuk mereka sendiri. Misalnya, Anda berpikiran bahwa orang-orang sekarang kasar-kasar dan sepertinya Anda selalu menemui mereka setiap hari, maka itulah yang akan Anda temui setiap hari. Misalnya, Anda sedan berada di kafe memesan minuman. Setelah mencatat pesanan Anda, pelayan yang melayani Anda itu menghela napas panjang sambil berlalu dari hadapan Anda. Anda yang berpikiran negatif akan segera menyimpulkan kalau si pelayan itu kasar, padahal itu mungkin saja dia sedan kecapekan karena saat itu kafe sedang sangat ramai. Karena peasaan Anda sudah tidak enak karena itu, maka ketika pesanan datang dan ada sedikit saja yang tidak berkenan di hati Anda, Anda bisa marah-marah. Tentu saja pelayan itu pun akan terpancing dan mungkin kehilangan keramahannya. Kejadian itu membenarkan pendapat awal Anda bahwa orang-orang sekarang kasar-kasar dan Anda menemuinya setiap hari, dunia Anda adalah dunia yang dipenuhi orang-orang kasar. Anda tidak menyadari kalau sebenarnya Anad sendirilah yang menciptakan dunia kasar itu dengan pikiran negatif Anda.


#2
Winner Mindset: Berani Mengambil Risiko
“Untuk menang Anda harus mengambil risiko kalah.” (Jean-Claude Killy)

Pola pikir seorang pemenang adalah berani mengambil risiko demi kemajuannya sendiri. Tanpa mengambil risiko tersengat listrik, Thomas Alva Edison mungkin tak akan pernah menemukan bola lampu moder pertama yang bisa berfungsi dengan baik. Tanpa mengambil risiko ditolah, Anda mungkin tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan impian Anda, atau tidak akan pernah menemukan pasangan hidup Anda sekarang.

    Mengambil risiko mungkin berkonnotasi negatif bagi kebanyak orang. Itu dianggap berani kehilangan sesuatu atau menghadapi bahaya tertentu. Megambil risiko mungkin memang berbahaya tetap tanpa mengambil risiko, ada bahaya yng lebih besar yaitu kita tak akan perna maju.

    Orang kaya berani mengambil risiko karena mereka percaya bahwa semakin besar risiko, semakin besar pula imbalan yang akan mereka peroleh. Keberanian mengambil risko yang menjadi alasan mengapa Bill Gates, Paul Getty, Henry Ford dan John Rockefeller menjadi orang-orang terkaya di dunia.

    Selalu ada risiko dalam udsaha apapun, dan orang-orang sukses denagn winner mindset berani mengahadinya. Tetapi bukan hanya modal keberanian yang diandalkan, mereka membuat perhitungan yang tepat dan bekerja keras agar berhasil mencapai tujuan dengan risiko yang harus dihadapinya tersebut.

    Harus selalu ada manajemen risiko yang baik dalam usaha apapun. Pertama-tama memperhitungkan risiko. Mengambil risiko itu seperti terjuun payung. Anda perlu memiliki keberanian untuk mengambil langkah pertama untuk terjun ke bumi. Tetapi sebelum anda melakukan itu dan menuikmati nikmatnya melayang-layan di udara, Anda perlu memeriksa peralatan Anda dan memastikan parasut akan terbuka. Bijaklah dalam mengambil risiko. Pertimbangkan dengan seksama perluang kebarhisalannya dan apa yang Anda pertaruhkan. Jika sesuatu berjalan salah, seharusnya tidak menghancurkan Anda secara emosional, finasial atau fisik.

    Mengambil risiko juga berarti berurusan dengan kemungkinan kegagalan. Memiliki rencana cadangan dapat meningkatkan kesempatan Anda tetap berhasil. Orang-orang dengan winner mindset juga berani  mengambil risiko kegagalan. Walaupun gagal mekukan sesuatu yang sudah dierancanakan, mereka masih menjadi pemenang karena telah memperoleh pelajaran berharga dalam proses percobaan pencapaiannya dan telah menggunakan segala kemampuan untuk keberhasilannya.

    Ada kepuuasan tertentu ketika mengetahui kalau Anda sudah berani melangkah untuk mencapai cita-cita Anda dan menghadapi seala rintangan, tidak peduli apakah Anda berhasil atau tidak. Penyesalan karena tidak pernah mencoba biasanya jauh lebih sulit untuk dihadapi daripada kegagalan.

    Winner mindset tidak memberi tempat bagi alasan-alasan tak masuk akal untuk tidak menghadapi risiko. Memang banyak berbagai perimbangan untuk tidak melangkah,  namun pola pikir pemenang akan selalu meluangkan waktu untuk memikirkan nmana pertimbangan yang nyata dan logis.


Loser Mindset: Takut Mengambil Risiko

    Ketakutan datang dalam banyak bentuk, tetapi bisa digambarkan sebagai suatu pperasaan yang tidak menyenangkan dalam menghadapi risko atau bahaya. Rasa takut ini berfungsi untuk membuat kita waspada dan siap beraksi saat menghadapi masalah tertentuyang sudah diperkirakan. Namun rada takut berlebihan malah bisa merugikan kita.

    Perasaan takut telah menjadi salah satu penghambat terbesar bagi kemajuan manusia. Sebagai manusai, Anda akan selalu merasa taku.. tapi Anda harus sangat berhat-hati tidak untuk membesar0besarkannya sehingga bisa merugikan dan memengaruhi tindakan dan keputusan Anda. Ini adalah ketakutan tak berdasar yang ada di dalam pikiran Anda yang merusak kepercayaan diri Anda, menentukan siapa Anda, dan membahayakan semua harapan keberhasilan Anda.

    Ketakutan dapat nyata atau imajiner, dan Anda mengalami ahl itu karena kesalahpahaman atau kesalahan dalam menilaisuatu situasi. Hal itu menyebabkan Anda mersasa cemas dan ketiadkamanan. Anda menjadi tidak dapat berpikir logis. Ketakutan memaksakan pembatasan pada potensi dan ekmampuan Anda.

    Mindset miskin ditandai dengan ketakutan uintuk mengambil risiko. Mengapa banyak orang takut mengambil risiko> ini bisa disebabkan banyak alasan, antara lain tida igin keluar dari zona kenyamanan, takut ditolak, takut terluka, takut perubahan, atau takut menghadapi t\ketidakpastian saat mengambil risiko, keinginan menghindari konflik, takut gagal, atau kurangnya keyakinan dalam diri kita sendiri.

    Sebenarnya tidak ada salahnya tetap bersda di zona aman, namun kebanyakan orang terlena dengan zona keynyamanan mereka dan lupa bahwa dengan meninggalkan zona tersebut mereka bisa lebih maju, lebih kaya dan lebih sukses.

    Zona nyaman ini biasanya terbventuk atas kesuksesan di masa lalu. Terlalu lama berada di zona nyaman itu akan membentuk kebiasaan-kebiasaan yang berhasil unntuk kesuksesan di masa lalu. Nmamun dunia yang penuh dinamika dan selalu berubah membutuhkan inovasi dan kreativitas. Kita tidak akan bisa maju mengikuti perkembangan zaman hanya dengan berada di zona nyaman terus-menerus.

    Takut terhadap perubahan yang akan terjadi ketika mengambil risiko tertentu juga bisa menjadi penghambat kejuan seseiorang. Mengapa banyak ari kita takut akan perubahan?  Karena perubahan seringkali memaksa kita meninggalkan kebiasaan dan keyakinan lama.

    Kita takut akan perubahan karena kita takut terhadap sesuatu yang tidak pasti. Kita tidak yakin ke mana perubahan akan membawa kita. Yang kita tahu, itu tidak akan menyebabkan kita pindah ke zona yang tidak diketahui. Jika kita tidak siap untuk menerima perubahan, kita tidak akan pernah tahu apakah perubahan itu baik atau tepat bagi kita.

    Kita menghindari perubahan karena kita telah merasa cukup nyaman di zona nyaman kita. Kita tidaingin mengambil risiko dan berspekulasi untuk keluar dari zona nyaman dan akrab dengan kita ke wilayah yang masih asing. Kita merasa perubahan tidak terjadi jika kita mengambil risiko. Zona nyaman ini kita rasakan jauh lebih mudah untuk dipertahankan walupun sebenarnya bukan tempat yang menyenangkan dan tidak membawa kita ke manapun. Padahal untuk membuat kemajuan, kita harus bergerak untuk membawa erubahan positif. Perubahan positif hanya mungkin terjadi jika kita melepaskan diri sepenuhnya dari rasa takut terhadap perubahan.


#3
Winner Mindset: Antusias

“Tiada hal lain yang mudah menular seperti antusiasme. Antusiasme dapat menggeser batu dan melembutkan kebrutalan. Antusiasme adalah bakat ketulusan, dan kebenaran tidak mencapai kemenangan apapun tanpa antusiasme.” (Edward Balwer-Lyffon)

Ada dua aspek penting dari antusiasme pada winner mindset. Antusiasme adalah bahan bakar yang mendorong orang-orang sukses untuk mengambil tindakan yang diperlukan sehingga mereka dapat mencapai tujuan. Antusiasme juga akan membuat komunikasi dengan orang lain jauh lebih efektif.

    Pengetahuan, pendidikan dan penaglaman merupakan aspek penting dalam mencapai tujuan, tetapi antusiasme yang merupakan keuatan yang menodorong dilakukannya tindakan tertentu dengan berberkal tiga hal tersebut. Jadi mengapa dua orang dengan pengetahuan, pendidikan dan pengalaman yang sama mencapai tingkat kesuksesan yang berbeda bisa disebabkan oleh perbedaan tingkat antusiasmenya.

    Antusiasme mudah dibangkitkan ketika seseorang terinspirasi oleh keinginan yang membara terhadap sesuatu. Karena itu, ketika Anda menetapkan tujuan untuk diri sendiri, anda perlu memastikan bahwa Anda bersemangat atau ansuias, tentang tujuan-tujuan ini. Tanpa antusiasme,  sangat tidak mungkin Anda dapat mengambil tindakan yang konsisten yang akan dibutuhkan untuk mencapai tujuan Anda. Dengan menjaga antusiaspe Anda tetap tinggi, Anda akan dapat mencapai tujuan Anda dengan cepat.

    Antusiasme juga memiliki dampak kuat pada pikiran orang-orang yang merasakannya. Antusiasme itu juga menular, dan sehingga orang lain yang tertular antusiasme seseorang akan memberikan tanggapan yang sama anusiasnya.

    Pada pengecara yang paling sukses itu bukan mereka yang tahu paling banyak tentang hkum, tetapi  mereka yang mampu memengaruhi hakim dengan keyakinan mereka dalam kasus mereka, dan mereka yang memiliki kapasitas besar untuk mengekspresikan diri dengan antusias. Para motivator paling sukses juga selalu menyampaikan materinya dengan penuh antusiasme sehingga para pendengarnya akan ikut termotivasi.

    Salah satu orang terkaya di dunia, Sir Rhichard Bnranson yang tidak memiliki ijazah pendidikan tinggi, m ampu membangun kerajaan bisnisnya karena antusiasmenya mampu meyakinkan banyak orang. Dia mampu menarik investor besar untuk mempertaruhkan uang mereka di perusahan operator selluernya dan maskapai penerbangannya, dia mampu menarik penyanyi terkenal untuk bergabung dengan perusahan rekamannya yang baru didirikannya.

    Memproykesikan antusiasme adalah salah satu cara terbaik untuk memengaruhi orang lain. Ketika diperknalkan kepada orang lain, seseorang dengan winner mindset merasa memiliki kesempatan besar untuk meanmpilkan diri dengan tingkat antusiasme yang baik. Ketika berjabat tangan dengan orang lain, dia menmpatkan kehangatan dan antusiasme dalam jabat tangan tersebut. Dia menghidupkan antuisas-amenya dan mengatur suaranya asehingga membuat orang lain merasa kalau dia senang berbicara dengan mereka.

    Saat becakap—cakap dengan orang lain, seseorang dengan winner mindset mengarahkan percakapan ke topik yang menarik ekpada orang yang dia ajak bicara. Menindaklanjuti dnegan pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat perhatian terfokus pada orang lain. Mendengarkan mereka dengan penuh perhatian. Kemudian, saat percakapan berubah menjadi kepentingan dia atau bisnisnya, orang yang dia ajak bicara akan jauh lebih cenderung untuk mendengarkan apa yang dia katakan.

    Setiap orang pasti akan mudah sekali membangkitkan antusiasme ketika harus melakukan sesuatu yang mereka senangi. Tetapi bila harus melakukan sesuatu yang mereka senangi. Tetapi bila harus melakukan seseuatu yang tidak disukai, antusiasme akan sulit sekali dibangkitkan. Tetapi dengan kekutan mengolah perasaan dan pikiran, antusiasme bisa dimunculkan dalam situasi apapun, dalam situasi yang sulit dan tidak menyenangkan sekalipun. Jadi untuk mendapatkan winner mindset, anda hanya harus berusaha menemukan ahl-hal yang bagus dalam setiiap situasi dan menggunakan hal-hal bagus itu untuk melewati bagian yang sulit. Antusiasme bisa diolah dan dilindungi dari badai emosi yang punya potensi merusak.


Loser Mindset: Apatis

    Kurangnya motivasi dan antusiasme menunjukkan ketiadaan atau kurangnya keinginan dan minta. Ini adalah alasan utama kegagalan dan kehidupan yang begitu-begitu saja. Orang  kurang antusias biasanya pasif, menyalahkan segala sesuatu dan semua orang untuk keadaan mereka, dan sering datang dengan banyak alasan mengapa mereka tidah harus atau tidak bisa melakukan sesuatu.

    Kurangnya antusiasme dapat terjadi di mana-mana, di rumah, di tempat kerja, dalam hubungan, dalam mengejar tujuan dan dalam segala bidang. Hal ini sering membawa ketidakpedulian, ketidakbahagiaan dan ketidakpuasaan.

    Kurangnya antusiasme bisa disebabkan oleh kurangnya keyakinan pada kemampuan sendiri, takut gagal atau karena kegagalan di masa lalu, rendah diri, kurangnya minat, takut terhadap paa yang mungkin dikatakan orang lain, kebiasaan menunda-nunda,kemalasan, tidak ada kesaran akan pentingnya dan kegunaan dari tujuan, perasaan atau keyakinan bahwa ada hal yang lebih penting lain yang harus dilakukan, tidak memiliki waktu untuk memempelajari tujuan lebih mendalam, terlalu stres atau gugup, atau tidak adanya rangsangan atau insentif yang cukup.

    Alasan yang disebutkan di atas dapat melumpuhkan antusiasme dan alasan untuk tidak bertindak. Kadang-kadang, orang menunjukkan ledakan singkat antusiasme atau semangat. Mereka mulai melakukan sesuatu dengan antusias, tapi kehilangan minat dan motivasi setelah beberapa saat, karena mereka merasa sulit untuk mempertahankannya.

    Jika Anda ingin meningkatkan kehidupan Anda, Anda perlu membangkitkan antusiasme. Anda perlu menyadari berapa banyak Anda aklah oleh ketidakhadiran antusasme, dan berapa banyak yang bisa Anda dapatkan dengan memiliki antusiasme.

    Anda perlu insentif dan dorongan untuk mengiti impian besar Anda, dan juga untuk kinerja tugas sehari-hari dan tugas-tugas ringan, jika tidak, kemalasan, tidak adanya ergi dan penundaan akan masuk.

    Namun demikian, penderitaan, merasa tidak nyaman dan pasif, bisa diolah untuk menghasil;kan antusiasme yang cukup untuk mengambil tindakan dan melakukan sesuatu untuk memperbaiki kondisi-kondisi tersebut. Ini akan membuat anda merasa jauh lebih baik, bahagia dan puas.

    Penundaan, kemalasan, ketidakpedulian dan paif menyebabkan ketidakbahagiaan, kelemahan dan kurangnya kepuasan, tetapi antusiasme bisa membawa rasa sukacita dan kekuatan. Dengan anusiasme, Anda dapat bertindak, melakukan sesuatu, mengalihkan pikiran Anda dari masalah, dan fokus mencari solusi dan mencapai kesuksesan.


#4
Winner Mindset: Think Big

“Bagaimana pun juga Anda harus berpikir, mengapa tidak berpikir besar saja?”(Donald Trump)

Seseorang dengan winner mindset tahu bahwa mereka harus berpikir besar untuk mencapai tujuan mereka karena tujuan mereka juga besar. Berpikir besar akan membawa mereka pada ide-ide besar, rencana besar dan kesuksesan besar.

    Mereka fokus dengan pikiran besar mereka dan melakukan apa yang harus mereka lakukan. Tidak seperti orang-orang dengan loser mindset yang hanya memikirkan tetapi tidak melakukan.

    Mereka yang berpikir besar ingin mencapai tujuan yang besar dan walaupun tujuan itu tidak juga tercapai namun setidaknya mereka mendapat kepuasan dengan melakukan apa yang mereka bisa.

    Berpikir besar adalah tentang melayani secara massal. Pola pikir jutawan adalah berpikir besar dan melayani sebanyak mungkin orang, sedangkan yang berpikir keecil hanya ingin melayani segelintir orang.

    Berpikir besar untuk menghasilkan uang yang besar, sedangkan berpikir kecil hanya untuk menghasilkan uang kecil. Bila Anda berpikir besa Anda akan menerapkan lebih banyak sumber daya dan fokus untuk menghasilkan kesuksesan yang lebhi besar.

    Berpikir besar memerlukan strategi besar dan keberanian untuk bersaing. Selain itu juga berani memikirkan sesuatu yang lain daripada yang lain atau yang sudah ada sebelumnya, membutuhkan kreativitas dan inovasi, dan yang terpenting ide-ide berani itu benar-benar dilakukan dan bukan hanya dipikirkan saja.

    Jika menyangkut kesuksesan, seharusnya orang tidak diukur dari gelar kesarjanaannya, jumlah uangnya atau latar belakang keluarganya, tetapi diukur dari besarnya pemikiran mereka. Seberapa besar kita berpikir menentukan ukuran prestasi kita.
    Jangan memnjual murah diri Anda. Ukur ukuran sejati Anda. Cobalah menentukan menentukan lima aset utama Anda, seperti pendidikan, pengalaman, kemampuan teknis, penampilan, keluarga bahagia, sikap, kepribadian dan inisiatif. Lalu di bawah aset-aset yang anda tulis itu, tulis tiga nama orang yang telah mencapai kesuksesan besar padahal dia tidak memiliki aset itu sebesar yang Anda miliki.

    Para pemikir besar biasanya menggunakan kata dan frase yang besar dan ceria untuk menggambarkan bagaimana perasaannya. Ketika seseorang bertanya, “bagaimana kabarmu hari ini>” mereka selalu menjawab dengan “Sangat bagus” atau “sangat luar biasa.” Katakanlah Anda merasa luar biasa pada setiap kesempatan, dan Anda akan benar-benar merasa luar biasa. Jadilah orang yang dikenal selalu merasa luar biasa. Itu akan membuat Anda mempunyai banyak teman.

    Orang-orang yang berpikir besar juga menggunakan kata dan frase yang positif, cerah, ceria, dan menyenangkan untuk menggambarkan orang lain. Mereka juga menggunakan bahasa yang positif untuk mendorong orang lain. Memuji orang lain setiap ada kesempatan, mengenai penampilan mereka, pekerjaan mereka, prestasi mereka, keluarga mereka dan lain-lain. Mereka juga memakai kata-kata positif untuk menjelaskan rencana kepada orang lain.

    Mereka selalu melihat apa yang bisa, bukan hanya apa yang ada. Visualisasi menambahkan, nilai pada segala sesuatu. Para pemikir besar selalu memvisualisasi apa yang dilakukan di masa depan. Mereka tidak terjebak dengan masa sekarang.


Loser Mindset: Think Small


    Kebanyakan orang beripikir kecil, mereka takut gagal atau takut risiko. Jika seseorang berpikir besar dia akan mencapai kesuksesan besar, tetapi jika dia berpikir sempit, dia akan terus menjalani kehidupan yang sama seperti yang dijalaninya sekarang, yaitu hidup yang biasa-biasa saja.

    Orang yang berpikir kecil adalah orang yang membiasakan diri untuk hidup apa adanya, menerima keadaan saat ini sebagai hasil akhir kehidupannya, tanpa mau berusaha mengembangkan talenta yang mereka miliki dengan berbagai alasan yang kelihatannya masuk akal.

    Saatt kita berpikir bahwa kita belum sukses, saat kita berpikir serba kekurangan, saat kita berpikir lemah, maka kita tidak akan pernah menghasilkan tindakan-tindakan yang besar. Bagaimana bisa, bagaimana kita akan melakukan tindakan yang hebat saat kita berpikir bahwa diri kita lemah.

    Memang ada keinginan untuk menjadi sukses atau menjadi kaya, namun keinginan tingal keinginan. Orang yang berpikir kecil tidak percaya pada dirinya bahwa mereka bisa melakukan sesuatu yang lebih besar dibandingkan yang dilakukannya ssekarang.

    Setiap orang bisa sukses dan menjadi orang yang luar biasa, tapi kebanyakan orang menganggap dirinya biasa saja, sehingga apa yang mereka hasilkan pun biasa saja. Jika orang yang berpikir kecil tidak puas dengan pekerjaannya, maka reaksi yang paling umum terlihat adalah mengeluh, marah-marah, atau menyalahkan orang lain. Namun orang yang berpikir besar yang tidak puas dengan pekerjaannya akan berpikir apa yang bisa dilakukan supaya dia bisa puas dengan pekerjaannya atau mencari pekerjaan ayng lebih sesuai. Orang yang berpikir besar selalu mencari solusi, bukan alasan.

    Adaperbedaan mencolok antara orang dengan pikiran besar dan orang dengan pikiran kecil. Mereka yang berpikir besar berusaha bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru, sedangkan yang berpikir kecil lebih suka tetap berada dalam kelompok kecil mereka selama ini.

    Perbedaan-perbedaan yang lain adalah: selalu berpikir untuk berinvestasi untuk menghasilkan dana lebih besar atau karir lebih cemerlang VS merasa sayang menghabiskan uang untuk investasi tanpa memikirkan keuntungan jangka panjangnya; membicarakan ide-idenya di depan orang lain dan berusaha mendekati kelompok yang semakin besar agar bisa menarik perhatian orang-orang yang berpengaruh VS menyimpan ide-idenya untuk diri sendiri, mungkin hanya menuliskannya dalam buku, berniat menerbitkannya tetapi tidak pernah dilaksanakannya; selalu berusaha lebih keras dan lebih keras lagi untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi adn lebih tinggi lagi VS tidak memaksakan diri bekerja dan mencapai yang lebih tinggi; berharap mencapai yang lebih baik dengan selalu melakukan hal-hl yang berbeda atau lebih baik VS selalu melakukan hal yang sama namun mengharapkan sesuatu yang berbeda; selalu menentang: diri sendiri untuk membuat capaian lebih tinggi VS sudah merasa puas dengan apa yang dihasilkan sehingga tidak lagi berusaha lebih keras untuk mencapai lebih baik; selalu mencari pengetahuan baru VS merasa sudah cukup tahu.


#5
Winner Mindset: Fokus Pada Solusi


“Kebanyakan orang menghabiskan lebih banyak waktu dan energi berkutat dengan masalah daripada berusaha untuk memecahkannya.”(Henry Ford)

Setiap orang memiliki pendekatan dalam menghadapi masalah. Ada yang fokus pada masalah atau alsan mengapa masalah muncul, dan ada yang lebih memilih untuk berpikir tentang kemungkinan solusi yang membantu mereka untuk memecahkan masalah.

    Orang-orang dengan winner mindset lebih memilih untuk mencari solusi daripada menyesali masalah yang sudah terlanjur muncul di hadapan mereka. Mereka yakin kalau setiap masalah pasti ada solusinya, tinggal bagaimana mereka berusaha keras mencari dan menemukan solusi terbaiknya.

    Orang-orang seperti ini segera mulai berpikir dengan berorientasi solusi begitu mereka sadar bahwa mereka tidak bisa mengubah fakta-fakta tertentu atau masalahnya dan hanya akan menghabiskan waktu saja jika hanya memikirkan kemungkinan alasan mengapa masalah itu muncul. Mereka mengetahui manfaat dari pemikiran terfokus solusi sehingga akan sibuk untuk memikirkan bagiman menyelesaikan masalah.

    Saat masalah muncul, winner mindset akan segera mencari jawaban dari pertanyaan berikut yang bisa membawa pada solusi terbaik, yaitu apa yang sedang terjadi, mengapa terjadi, bagaimana memperbaikinya, dan bagaimana mencegah masalah serupa di masa depan.

    Semua orang dikelilingi masalah setiap hari, namun mereka yang berorientasi solusi bisa lebih cepat memecahkan masalah. Mereka terbiasa menghadapi pertanyaan-pertanyaan sulit yang tidak ingin ditanyakan atau dijawab kebanyakan orang dengan pemikiran yang pragmatis dan langsung pada persoalan. Mereka tahu kita tidak ada jalan lain selain menghadapi dan menyelesaikan masalah itu. Mereka adalah orang-orang realis. Sulit menjadi orang realis, namun itulah yang diperlukan untuk menghadapi realisme.

    Sikap positif pada winner mindset bisa terlihat pada kata-kata atau pemikirannya ketika dihadapkan pada suatu masalah. Kata-kata pertama atau pemikiran pertama yang muncul adalah, “Apa solusi terbaiknya” atau “Bagaimana cara terbaik menanganinya?”

    Mereka adalah orang-orang yang biasa mengubah kekhawatiran menjadi kepedulian terhadap masalah dengan cepat. Mengkhawatirkan masalah memang wajar terjadi saat pertama kali dihadapkan pada suatu masalah. Namun kekhawatiran itu tidak sampai berlarut-larut sehingga menghabiskan energi dan waktu dengan sia-sia.

    Kepedulian berbeda dengan kekhawatiran. Kekhawatiran hanya akan menganggu proses pencarian solusi sedangkan kepedulian membuat kita lebih fokus. Kekhawatiran membuat kita hanya terfokus pada diri sendiri, sedangkan kepedulian ada di luar diri sendiri. Kekhawatiran melumpuhkn perencanaan, kepedulian membantu terbentuknya rencana. Kekhawatiran mengaburkan pandanga, kepedulian memperjelas pandangan. Kekhawatiran cenderung membuat kita menyerah, kepedulian mempertebal tekad untuk terus mencari solusi. Kekhawatiran itu melebih-lebihkan masalah, kepedulian langsung menunjuk pada ini masalah.


Loser Minset: Fokus Pada Masalah


    Orang-orang dengan loser mindset menghabiskan banyak waktu mengkhawatirkan tentang sesuatu dan membesar-ebsarkan masalah. Mendekati masalah dengan berorientasi pada masalah mungkin bisa membantu jika kita mencoba untuk menghindari masalah yang sama atau kesalahan di masa depan, tetapi untuk memecahkan masalah, kita hanya membuang banyak waktu kita yang berharga dengan pendekatan itu, terutama saat diperlukan solusi cepat untuk masalah yang akan datang. Banyak orang yang mempunya pola pikir dengan berorientasi pada masalah akan membayangkan semua konsekuensi negatif yang mungkin harus mereka hadapi atau semua kesalahan yang mungkin mereka lakukan, ketika mencoba untuk menyelesaikan tugas. Mereka akan berbicara tentang situasi sulit yang hanya akan meningkatkan rasa takut tentang tugas atau masalah yang akan datang.

    Mereka akan menanyakan pertanyaan-pertanyaan ayng seharusnya tidak ditanyakan pada diri sendiri, antara lain:
1.    salah siapa sehingga masalah muncul?
2.    mengapa orang-orang mengacaukan semuanya?
3.    mengapa orang-orang bisa menjadi sangat tidak kompeten?

Untuk menghindari pola pikir berorientasi masalah dan menggantinya denagn pemikiran berorientasi solusi, pertama-tama Anda harus mengetahui apakah orientasi Anda adalah masalah atau solusi. Caranya dengan memperahtikan pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri saat menghadapi suatu masalah. Misalnya Anda diharuskan mengerjakan suatu tugas, bila Anda mengajukan pertanyaan berikut, berarti anda merupakan orang dengan orientasi masalah. Contoh pertanyaan itu antara lain:
1.    Mengapa asya harus melakukan tugas ini?
2.    Apa alasan saya harus belajar hal ini?
3.    Mengapa saya bahkan menghabiskan waktu dengan ini?

Bila memang pertanyaan semacam itu yang berulang-ulang terlintas di kepala Anda, maka hindari pertanyaan yang terutama terfokus pada alasan atau pada maaslah pada umumnya. Pertanyaan untuk “mengapa” hanya akan membuang-buang waktu penting Anda yang seharusnya bisa diinvestasikan untuk memecahkan masalah yang diperlukan.

Mempertanyakan dan memperjelas pentingnya solosi atau tugas yang harus dikerjakan akhirnya akan menghapus akar penyebab dari setiap pertanyaan yang berorientasi masalah. Dengan menjelaskan alasan mengapa tugas perlu dilakukan dapat secara efektif mengubah fokus i\kita dari masalah ke solusi.

    Langkah terakhir untuk mendapatkan keuntungan dari pemikiran berorientasi solusi dadalah beratanya pada diri sndrii pertanyaan-pertanyaan yang berbeda mengenai bagaimana Anda dapat memecahkan suatu tugas atau masalah, antara lain:
1.    Bagaimana saya bisa memecahkan masalah atau tugas ini?
2.    Apa yang akan menjadi langkah pertama untuk memecahkan masalah ini?
3.    Apa jenis persiapan yang diperlukan untuk tugas ini?

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)