Rabu, 28 Oktober 2015

Winner Mindset Revolution : 25 Pola Pikir Seorang Pemenang #21 - #25



Lanjutan sekaligus tulisan terakhir dari Winner Mindset Revolution #16 - #20


#21
Winner Mindset: Memberi Lebih

“Nilai seseorang terletak pada apa yang dia berikan dan bukan pada apa yang mampu dia ambil.” (Albert Einstein)

Memberi nilai tambah pada kehidupan orang lain adalah salah satu hal yang paling penting yang dapat Anda lakukan dalam kehidupan Anda. Mengapa menambahkan nilai untuk orang lain begitu penting? Menambahkan nilai adalah satu-satunya cara untuk membuat orang lain percaya pada Anda sebagai individu.

    Tak hanya itu, memberi nilai lebih pada segala sesuatu yang Anda kerjakan juga akan membantu Anda di aspek-aspek lain kehidupan Anda. Anda tidak boleh egois, tidak semuanya harus tentang Anda dan apa yang Anda inginkan. Mindset seperti itu menjauhkan Anda dari hubungan yang tidak sehat dengan orang lain.

    Dalam Hukum Timbal Balik (Law of Reciprocity), disebutkan bahwa Anda akan mendapatkan apa yang Anda berikan. Apapun yang Anda lihat di Alam Semesta melihat kita. Apapun sikap, perasaan, pikiran dan keinginan yang kita utarakan, tidak peduli apakah itu positif dan negatif, akan kembali pada kita.

    Mengapa bisa seperti itu? Karena semua hal di alam ini pada dasarnya tersusun atas kuantum yang memiliki pola getaran atau frekuensi tertentu. Pikiran, perasaan, tindakan, kemauan dan segala bentuk emosi kita memiliki frekuensi tertentu, sehingga apa yang kita “pancar-kan” akan ditangkap oleh mereka yang berada di sekitar kita. Dengan kata lain apa yang terjadi pada kita, adalah cerminan dari isi pikiran kita.

    Masing-masing dari kita semua adalah spesial dan unik, dan masing-masing dari kita semua memiliki sesuatu untuk ditawarkan kepada dunia yang tidak dimiliki orang lain. Dan kita harus memberi lebih dulu untuk menerima kemudian. Berikan lebih dan kita akan mendapat lebih lagi. Semakin banyak Anda memberi, semakin banyak Anda akan menerima. Untuk terus menerima, Anda harus terus memberi, memberi dan memberi. Anda memberi dulu baru Anda menikmati hasilnya.

    Bila Anda sudah terbiasa memberi, dan ingin merasakan kesuksesan yang lebih besar lagi, Anda bisa sedikit demi sedikit menambah pemberian Anda, bisa kuantitas atau kualitas. Apapun yang Anda berikan, dari sesuatu yang abstrak dan tidak memerlukan modal, seperti senyum, kasih sayang, kelembutan, keramahan, perhatian, sapaan, kata-kata yang memotivasi, ilmu pengetahuan, informasi atau waktu, sampai barang fisik, semua pasti dikembalikan pada Anda berlipat ganda.

    Orang-orang yang mampu memberi nilai tambah adalah mereka yang selalu bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana saya bisa memberikan yang terbaik dari saya?” dan bukannya “Apa yang akan saya terima?” Mereka mengetahui apa yang mereka lakukan dan apa kemampuan mereka. Mereka melakukan apa yang mereka sukai. Melakukan apa yang disukai akan memberikan nilai tambah secara alamiah.

    Nilai tambah juga bisa diberikan dengan terus belajar dan menambah pengetahuan, sehingga bisa melakukan segala sesuatu dengan lebih baik dari sebelumnya. Mereka juga mendorong orang lain untuk bisa memberikan yang terbaik untuk dunia ini. Karena untuk mendapatkan yang terbaik dari orang lain, kita harus membantu dan mendorong orang lain melakukan yang terbaik  yang mereka bisa.


Loser Mindset: Mengambil Lebih


    Ketidaktahuan orang tentang langkah menerima sukses sering menyebabkan mereka merasa tidak sukses dalam hidup ini. Menerima sukses merupakan satu langkah yang cukup sulit karena kebanyakan manusia memiliki bayangan di benak mereka bahwa “menerima kesuksesan” itu sama caranya seperti biasanya ketika mereka menerima benda apapun yang diberikan kepada mereka. Yaitu, dengan tangan menegadah ke atas menanti sesuatu diletakkan di atasnya. Karena telah meminta, mereka pikir langkah menerima sukses itu adalah dengan menunggu begitu saja.

    Sayangnya, lebih banya orang yang lebih senang menerima sesuatu tanpa memberi imbalan atau pengganti apapun untuk apa yang diterimanya itu. Mereka menciptakan ketidakseimbangan nilai dalam kehidupan mereka. Walaupun mereka mungkin meeumkan cara untuk mendapatkan sesuatu tanpa memberi imbalan-misalnya, dengan mengeluhkan makanan di sebuah restoran (meski sebenarnya makanan itu tidak bermasalah) untuk mendapatkan pengembalian uang mereka atau mendapatkan makanan gratis, dengan memeras sebanyak mungkin saran gratis dari konsultan atau tenaga profesional lain, menuntut diskon pada semua barang yang mereka beli. Hutang nilai yang mereka buat dengan melakukan ini memang akan mendapat imbalan, tetapi imbalan itu tidak akan membuat mereka lebih kaya.

    Orang-orang seperti itu hanya fokus pada “mengambil” di setiap aspek kehidupan mereka, apakah itu dalam pekerjaan, bisnis mereka, atau hubungan pribadi mereka. Mereka berusaha untuk mengambil sebanyak mungkin tanpa memberikan penggantinya, dan kemudian mereka akan mendapati kalau mereka malah mendapatkan lebih banyak masalah.

    Orang-orang itu cenderung menjadi proyektor. Misalnya, menjadi orang yang menganggap semua orang itu tidak jujur karena mereka sendiri tidak jujur. Mereka menganggap semua orang sama seperti mereka. Walaupun mereka tidak menyadari kalau merekalah yang sebenarnya tidak jujur. Mereka menjadi orang munafik yang naif.

    Ada orang-orang yang mengatakan kalau semua pemilik bisnis itu tidak jujur, atau megnatakan semua orang menipunya. Kenyataanya, kebanyakan merekalah yang tidak jujur. Mereka menipu perusahaan-perusahaan dengan memeras sebanyak mungkin hasil dari mereka tanpa mereka membayarnya.

    Mereka menganggap bisnis yang mencari keuntungan adalah salah. Tetapi jika pemilik bisnis tidak mencetak profit, bagaimana mereka dapat menghidupi keluarga mereka? Bagaimana mungkin bisa dikatakan adil bagi seseorang untuk menuntut pemilik bisnis yang menghabiskan banyak waktu, uan dan sumber-sumber lain untuk menciptakan bisnis yang memberikan hasilnya dengan cuma-cuma?

    Banyak orang lebih suka mengeluh tentang berbagai hal daripada memperbaikinya. Padahal dengan memperbaiki keadaan, mereka sedang memberi nilai tambah. Juga banyak orang lebih suka mencari-cari kesalahan daripada mencari kebaikan, atau melihat apa kerugian yang mungkin mereka alami daripada melihat apa yang bisa mereka berikan. Padahal dengan memberi sedikit lebih dari yang diharapkan, mereka menghormati diri sendiri dan sedang memberi nilai tambah.

    Coba bayangkan ini! Seorang karyawan hanya mengerjakan sedikit mungkin pekerjaan, hanya minimum dari yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugasnya dalam pekerjaan, bahkan mungkin lebih sedikit lagi daripada yang diperlukan jika dia bisa. Lalu sebuah posisi lebih tinggi dalam perusahan dibuka, dan atasan sedang mencari orang dalam perusahaan untuk mengisinya.

    Bila Anda adalah sang atasan itu, siapakah yang akan Anda promosikan? Orang yang memberi kontribusi terbanyak kepada perusahaan dan selalu bekerja melebihi yang diharapkan? Atau orang yang hanya cukup memenuhi tugasnya asja dan tak pernah memberikan kontribusi lain?



#22
Winner Mindset: Disiplin

“Disiplin adalah jembatan antara tujuan dan pencapaian.” (Jim Roth)
Disiplin diri adalah salah satu kunci utama untuk mencapai tujuan apapun dan mewujudkan impian apapun. Disiplin identik dengan pengedalian diri, disiplin membuat kita dapat mengontrol pikiran, kebiasaan, dan emosi.

    Ada banyak prinsip sukses, tetapi tanpa disiplin diri, tidak satupun dari prinsip itu akan bermanfaat. Disiplin diri adalah kunci untuk kebesaran pribadi. Ini adalah kualitas ajaib yang membuka semua pintu untuk kita, dan membuat segalanya menjadi mungkin. Dengan disiplin diri, orang dengan kemampuan rata-rata dapat maju sejauh dan secepat bakat dan kecerdasannya membawanya. Sementara tanpa disiplin diri, seseorang dengan bakat, latar belakang pendidikan dan kesempatan besar jarang akan maju di atas rata-rata.

    Sebenarnya apa manfaat disiplin? Bila kita menerapkan disiplin diri dan melakukan hal-hal yang kita tahu harus kita lakukan, kita tidak hanya akan mencapai sukses pribadi dan profesionalisme yang lebih besar, tetapi kita juga akan merasakan kepuasan batin.

    Bila kita terus disiplin hari demi hari, minggu demi minggu untuk membuat keputusan yang baik dan melakukan hal-hal yang kita tahu harus kita lakukan, maka kebanggaan diri, rasa percaya diri, kemampuan diri, dan semua nilai positif dalam diri akan tumbuh.

    Sebaliknya ketika kita tidak melakukan hal-hal yang kita tahu bahwa kita tahu harus kita lakukan, kita merasa frustrasi dan kecewa dengan diri sendir. Setelah semuanya itu, bagaimana kita bisa merasa nyaman dengan diri sendiri ketika kita tidak melakukan hal-hal yang kita tahu harus kita lakukan? Apakah mungkin untuk merasa baik tentan diri sendiri ketika kita secara konsisten tidak melakukan apa yang harus kita lakukan?

    Orang-orang sukses selalu disiplin. Mereka tepat waktu, karena membuang waktu yang sempit padahal begitu banyak yang harus dikerjakan merupakan kerugian besar bagi mereka. Mereka memiliki jadwal kegiatan yang harus dilakukan setiap hari, dan mereka taat dengan jadwal yang telah mereka buat, sehingga tidak ada penundaan dan apa yang harus dikerjakan dapat dikerjakan sesuai jadwal, dan pekerjaan selanjutnya yang telah menunggu mereka bisa segera dikerjakan.

    Disiplin dimulai dari kesengajaan untuk mengubah pola hidup biasa menjadi terstruktur. Kesengajaan seperti membangun sebuah bangunan yang tersusun rapi menjadi sebuah benteng yang kokoh.


Loser Mindset: Tidak Disiplin
    Disiplin merupakan salah satu persyaratan palin penting untuk mencapai keberhasilan namun banyak orang tidak mengakui kalau mereka kurang disiplin. Mengapa demikian? Karena orang tidak dilahirkan dengan disiplin diri, mereka mengembangkannya, ettapi mereka tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Selain itu, ada gagasan keliru bahwa disiplin diri adalah sesuatu yang sulit untuk dicapai. Pemrograman mental negatif dan lingkungan negatif juga bertanggung jawab atas kekurangan ini.

    Kemalasan dan kurangnya kemauan yang cukup merupakan penghambat bagi seseorang untuk lebih disiplin dalam situasi ini, orang itu menghindari untuk lebih disiplin. Dalam situasi ini, orang itu menghindari untuk melakukan hal-hal yang membutuhkan usaha dan ketekunan. Orang lebih suka kemalasan karena nyaman, dan merupakan tindakan yang tidak memerlukan usaha, karena menyenangkan dan mudah, sedangkan disiplin membutuhkan upaya.

    Takut gagal juga alasan untuk kurangnya disiplin diri. Ini menahan inisiatif dan kegigihan, dan menyebabkan kurangnya kekuatan batin. Godaan melemahkan disipli diri. Kita semua menghadapi banyak godaan dalam berbagai bentuk setiap hari. Kita melihat iklan di surat kabar, majalah dan TV, membujuk kita untuk membeli ini atau itu. Kita melihat berbagai produk yang dijual di supermarket dan pusat perbelanjaan, dan menawarkan banyak cara untuk menghabiskan waktu,seperti program Tv, film, restoran, konser, kompetisi olahraga dan jenis hiburan lainnya.

    Bagaimana Anda bisa mengabaikan makanan yang diatur indah dan lezat di supermarket, atau menolak menonton acara TV yang menawarkan sebuah pelarian yang menyenangkan dari kehidupan sehari-hari? Menyerah pada godaan-godaan tersebut dan mengikuti semua kesenangan tanpa pandang bulu dan tanpa menggunakan akal sehat cenderung melemahkan disiplin diri.

    Penyebab lain kurangnya disiplin adalah kurangnya harga diri, kurangnya tujuan dalam hidup, dan suka menunda-nunda pekerjaan. Kurangnya kemauan, motivasi dan ambisi juga penyebab kurangnya disiplin diri. Penyebab-penyebab kurangnya disiplin tersebut dapat diperbaiki, tetapi hanya sedikit orang tahu caranya.

    Untuk menanamkan disiplin dalam diri, kita harus memaafkan diri sendiri terlebih dahulu bahwa kita tidak sempurna. Terlalu menekan diri untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin kita lakukan hanya akan membuat segala lebih buruk.

    Lebih baik kita mendorong diri untuk disiplin dengan memperkuat motivasi. Motivasi adalah konsep kunci bahwa kita sebenarnya bisa belajar bagaimana melakukan sesuatu. Fokuslah pada motivasi bisa belajar bagaimana melakukan sesuatu. Fokuslah pada motivasi. Apa motivasi kita untuk mengejar tujuan atau kebiasaan? Bagaimana kita akan mempertahankan motivasi ketika kita berjuang? Ketika hal-hal menjadi sulit, ingatkan diri apa motivasi kita.

    Disiplin sangat sulit bila kita menganggapnya sulit. Sebaliknya, apa yang kita anggap mudah akan membuatnya mudah. Hapus hambatan dengan melatih kebiasaan sesuai kamampuan dan menjadikan latihan membentuk kebiasaan itu sebagai kegiatan yang menyenangkan. Disiplin merupakan soal rutinitas, tentang bagaimana mencpitakan kebiasaan yang memberikan hasil jangka panjang. Kita bisa disiplin dengan mencintai rutinitas kita.



#23
Winner Mindset: Proaktif

“Kebebasan yang sebenarnya adalah kreatif, proaktif, dan akan membawa saya ke dalam wilayah-wilayah baru. Saya tidak bebas jika kebebasan saya didasarkan pada reaksi terhadap masa lalu saya.” (Kenny Loggins)

Dalam bisnis dan kehidupan, keberhasilan sering dtentukan oleh bagaimana seseorang memikirkan sesuatu. Seorang pemikir reaktif dapat menghadapi krisis demi krisis dalam kehidupannya, tetapi pemikir proaktif sepertinya telah tahu sebelumnya dan mampu menangani berbagai krisis dalam kehidupan mereka dengan lebih baik. Seringkali seseorang tampaknya sangat beruntung dalam hidup dan dalam bisnis, namun keberuntungan ini sebenarnya berasal dari pandangan dan visi ke depan yang merupakan ciri khas pemikiran proaktif yang baik.

    Orang-orang sukses adalah mereka yang memiliki pemikiran proaktif. Orang yang berpikir proaktif memiliki pandangan ke depan. Untuk menjadi proaktif berarti berpikir ke depan, dalam mengantisipasi perubahan atau masalah di masa depan. Ini berarti memasukkan semua skenario kondisi yang mungkin. Seorang pemikir proaktif akan memikirkan beberapa kemungkinan dalam pikiran, dan melihat kemungkinan krisis sebelum terjadi.

    Seorang pemikir proaktif akan membuat anggaran pribadi dengan menyisihkan sebagian dana untuk krisis dan mengambil inisiatif. Dalam bisnis, dia adalah orang yang menyeleksi calon karyawan untuk menentukan siapa yang paling cocok untuk posisi tertentu dalam perusahaan, dan dia adalah orang yang bertanya “bagaimana jika.”

    Dia mungkin bertentangan dengan orang-orang yang berpikiran reaktif, karena mereka tidak melihat ke depan sejauh yang dilihatnya. Ada unsur risiko dalam pemikiran proaktif karena bila saja kesimpulan dan skenario mungkin salah. Berpikir proaktif tidak selalu cocok untuk situasi bisnis sehari-hari, dan mudah untuk terkunci dalam perencana dan mengabaikan apa yang sebenarnya terjadi.

    Mereka yang berpikiran proaktif selalu berusaha mewujudkan sesuatu seperti yang mereka inginkan. Apabila ada hambatan, mereka akan berusaha untuk mencari alternatif lain agar tujuan mereka tercapai. Mereka fokus kepada tujuan mereka, dan percaya bahwa apapun bisa terjadi selama masih dapat dikendalikan oleh usaha sendiri.

    Beberapa orang puas menjalani hidup walaupun hanya menyaksikan ketika peluang melewati mereka tanpa mereka coba. Sebagian orang berpikir proaktif, dengan membuat rencana dan mengusahakan sesuatu terjadi.

    Tentu saja, tidak ada jaminan bahwa rencana akan berhasil. Jika prioritas Anda dalam hidup adalah menghindari kekecewaan, maka masuk akal untuk menurunkan harapan Anda, dan bahkan untuk tidak membiarkan diri Anda berharap sesuatu hal menjadi berbeda.

    Berpikir positif adalah pikiran proaktif: Anda memutuskan untuk fokus pada gelas setengah penuh, bukan gelas setengah kosong, sehingga Anda memiliki kesempatan untuk membuat tujuan Anda menjadi kenyataan.


Loser Mindset: Reaktif

    Berpikir reaktif adalah cara berpikir berbasis krisis, yang menghasilkan solusi setelah masalah berkembang. Berpikir reaktif itu menanggapi situasi. Seorang pemikir reaktif sering menghabiskan terlalu abnyak waktu untuk memadamkan masalah yang sudah muncul. Pemikir reaktif mudah tertipu oleh keadaan, dan lebih rentan terhadap stres.

    Kata “reaktif” menyiratkan bahwa kita tidak memiliki inisiatif. Kita membiarkan peristiwa mengatur agenda kita. Dengan cara berpikir reaktif ktia sering dipermainkan oleh pasang-surut kehidupan. Setiap gelombang baru dapat mengejutkan ktia, dan membuat kita harus berjuang keras untuk bisa bertahan.

    Seorang yang hidup dari gaji ke gaji mungkin merupakan pemikir reaktif. Dia baru berpikir setelah krisis datang. Berpikir reaktif lebih cocok untuk orang-orang yang menangani manajemen sehari-hari. Seorang pemikir reaktif mungkin perlu mengubah gaya manajemen pribadinya jika ingin menjadi proaktif. Dia perlu mencurahkan lebih banyak usaha untuk melihat konsekuensi potensial dari rencana dan untuk mengatasi masalah yang mungkin muncul. Kadang-kadang ini berarti memutuskan hubugnan dari rencana dan melihatnya dari perspektif yang berbeda.

    Ketika kita telah mengetahui dengan pasti tentang apa yang kita inginkan dalam hidup, kita dapat mengambil tindakan untuk memastikan itu terwujud. Namun dalam kenyataannya, kita sering hidup reaktif. Kita menghabiskan banyak waktu dan energi kita mengeluh tentang konsekuensi negatif. Saat kita menyadari betapa banyak waktu dan energi telah terbuang, mungkin sudah terlambat.

    Orang-orang yang reaktif menunggu sesuatu terjadi, hasil kerjanya sering terpengaruh oleh kejadian di luar dirinya, dan tidak mau mengambil alih tanggung jawab. Mereka mudah mengeluh dan menyalahkan kejadian, orang lain atau situasi.

    Kita cenderung untuk menghabiskan hidup kita bereaksi terhadap peristiwa, situasi dan keadaan, daripada menciptakan dan membentuk mereka. Sebuah kehidupan yang didasarkan pada keputusan reaktif, yang berasal dari ketakutan dan pilihan terbatas, tidak akan pernah menjadi jjalan untuk mendapatkan yang terbaik dalam hidup kita, tetapi itulah yang lebih banyak kita lakukan. Kebanyakan orang berpikir reaktif dan bereaksi terhadap peristiwa-peristiwa tertentu itu selalu baik. Tetapi itu menjadi masalah ketika itu saja yang ada dalam kehidupan seseorang, yang tidak lebih dari reaksi naluriah tehadap stimulus.

    Ada empat hal pada manusia yang memungkinkan kita untuk memilih dan untuk berpikir proaktif, yaitu kesadaran diri, naluri, imajinasi kreatif dan kemauan untuk mandiri. Adanya kesadaran diri berarti kita menyadari kalau kita selalu memiliki pilihan antara stimulus dan respon. Naluri merupakan kemampuan untuk berkonsultasi dengan kompas batin kita untuk memutuskan apa yang tepat untuk kita. Kita dapat membuat keputusan berdasarkan prinsip-prinsip yang tidak berubah, terlepas dari apa yang disukai publik saat itu.

    Dengan imajinasi kreatif, kita dapat memvisualisasikan respon alternatif. Dengan menggunakan imajinasi kita, kita secara mental dapat menghasilkan dan mengevaluasi pilihan-pilihan yang berbeda. Anda punya kebebasan untuk memilih respons unik Anda sendiri. Anda tidak bisa dipaksa untuk selalu memenuhi apa yang orang lain harapkan dari Anda.

    Kurangnya pemikiran proaktif seringkali disebabkan oleh melemahnya salah satu dari empat hal tersebut.



#24
Winner Mindset: Fleksibel Terhadap Perubahan


“Tetap berkomitmen pada keputusan Anda, tapi tetap fleksibel dalam pendekatan Anda.” (Tony Robbins)

Menjadi fleksibel dan adaptif bisa memberi keuntungan jika kita memiliki keinginan untuk sukses dalam apapun yang kita lakukan. Kita mungkin akan menghadapi kesulitan, penundaan dan frustasi dari hari ke hari dalam pekerjaan dan hidup Anda dan ketika berinteraksi dengan orang lain. Ada saat ketika Anda harus berurusan denga situasi yang tidak diharapkan atau mengganggu jadwal Anda.

    Orang-orang sukses berani mengambil tanggung jawab pribadi atas kesalahan yang telah mereka buat, belajar dari kesalahan tersebut dan bangkit kembali. Mereka berusaha mengubah kesalahan mereka, mengambil satu kesempatan lagi dan melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda agar kali ini bisa berhasil. Mereka bersedia untuk tetap fleksibel, dan mereka akan menemukan cara lain untuk melakukan hal-hal atau mendapatkan jawaban atas masalah-masalah mereka.

    Fleksibilitas atau kelincahan mental dapat memungkinkan kita untuk lebih efektif dalam mencapai tujuan. Hal ini memungkinkan kita untuk menjadi pemecah masalah dan pencari sumber masalah yang lebih efektif, mendorong kreativitas dan inovasi dan memungkinkan kita untuk mengindentifikasi dan menyadari peluang yang menjanjikan.

    Sebuah pola pikir yang lebih gesit memungkinkan kita untuk mengevaluasi dan menyesuaikan diri dengan peran, pekerjaan dan tanggung jawab kita yang erbeda setiap hari. Memang kita perlu mengikuti peraturan tertentu, tetapi kadang-kadang lebih baik untuk menjadi lebih terbuka dan longgar.

    Fleksibilitas memindahkan kita dari pola pikir yang sempit ke pola pikir keterbukaan dan kemungkinan-kemungkinan. Ketika kita merasa terjabak oleh rutinitas atau terjebak dalam pola kebiasaan lama dan berulang, kita dapat menyesuaikan pemikiran dan perilaku dengan cara yang akan menginspirasi kita dan meningkatkan ketahanan kita dan kesempatan kita untuk keberhasilan.

    Pola pikir fleksibel juga berarti berpikir dan bertindak untuk mengerahkan pengharuh strategis di lingkungan kita. Kita bertindak untuk memastikan bahwa kita memiliki posisi kompetitif terhadap orang lain. Orang-orang sukses selalu mempertimbangkan pandangan yang berbeda dan kondisi lingkungan sebelum membuat keputusan besar. Mereka selalu belajar, mempelajari perubahan dan mengadaptasi teknologi yang diperlukan. Mereka juga berssedia untuk bereksperimen dan mengambil risiko. Mereka menjadi inovatif, kreatif karena keterbukaan pribadi mereka terhadap perubahan,

    Mereka menyadari pentingnya fleksibilitas karena mereka harus menghadapi ketidakpastian dan perubahan di masa depan. Mereka tangkas beradaptasi dan berfokus pada perubahan yang tak terelekkan. Perubahan tidak bisa dihindari, yang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita menanggapi perubahan. Mereka tidak pernah hanya mengandalakan bakat dan keberuntungan saja agar berhasil dalam dunia yang selalu berubah dan penuh ketidakpastian ini, tetapi belajar dan bekerja cerdas agar selalu berhasil dalam semua yang dilakukan.


Loser Mindset: Kaku Terhadap Perubahan


    Salah satu hal yang paling membuat frustrasi adalah ketika Anda telah melakukan yang terbaik untuk mencapai tujuan Anda, tetapi masih saja ada yang salah atau Anda tidak mendapatkan apa yang Anda inginkan. Di sinilah pentingnya fleksibilitas. Fleksibilitas atau kemampuan beradaptasi adalah responsif terhadap perubahan, kemampuan menyesuaikan diri dalam situasi yang berubah atau mengubah dan memodifikasi sesuai dengan perubahan yang dihadapi.

    Kita mungkin keras kepala berpegang pada beberapa hal yang tidak berfungsi dengan baik dan mengulangi kesalahan-kesalahan kita. Kaku dan tidak fleksibel akan menyebabkan stres yang tidak semestinya. Ketidakmampuan menghadapi lingkungan yang selalu berubah bisa meningkatkan perasaan takut, ketidakamanan, dan kecemasan.

    Sebuah ungkapan mengatakan, “Perubahan adalah satu-satunya bukti kehidupan itu ada.” Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi dalam hidup ini, tetapi banyak orang menyangkalnya, tidak menyadari atau takut menghadapinya. Manusia pada dasarnya bisa menerima perubahan sekalipun kecepatan menerima setiap orang berbeda-beda. Yang terjadi sesungguhnya adalah manusia itu enggan “diubah” bukan enggan “berubah.” Sebagian besar dari kita beranggapan perubahan itu baru boleh dilakukan kalau ada masalah, saat memasuki tahap krisis. Padahal, pada saat krisis hampir tidak mungkin, atau mustahil melakukan perubahan.

    Bagaimanapun, ada hasrat pada diri setiap manusia untuk tidak bersedia menerima perubahan. Ini adalah merupakan sikap dasar manusia bahwa kadang-kadang kita berlawanan dengan kenyataan tersebut, menyukai untuk dapat tetap pada “daerah aman” yang telah diterima, baik oleh pribadi maupun orang-orang di sekeliling kita. Tapi kadang-kadang perubahan yang terjadi bisa lebih kuat daripada keinginan kita tersebut yang akhirnya memaksa kita untuk dapat menerimanya.

    Kaku pada diri sendiri dan aturan kita menunjukkan bahwa kita menolak perubahan. Kita tidak harus tetap konsisten terhadap diri kita yang lama dan hal-hal yang telah kita katakan atau lakukan di masa lalu. Perubahan mutlak diperlukan untuk pertumbuhan pribadi dan kesuksesan, terutama jika apa yang telah kita lakukan selama ini tidak berhasil. Ketika kita memperbaiki diri sendiri, dunia akan berubah menjadi lebih baik.

    Kita harus memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berbeda untuk mendapatkan hasil yang berbeda. Ini menyebabkan sejumlah ketidaknyamanan dan gejolak emosional tetapi kita perlu melepaskan diri dari kekakuan atau kondisi stagnan kita dan naik di atas tingkat Anda saat ini. Pemikiran yang kaku memang bisa membantu kita membuat keputusan yang cepat, tetapi eringkali keputusan itu tidak sesuai dengan kondisi kehidupan kita yang selalu berubah, karena kehidupan ini selalu dinamis dan mengalami perubahan.

    Kita tidak dapat merubah peristiwa dan orang lain, tetapi kita dapat menyesuaikan diri dan mengubah perilaku dan kebiasaan kita. Kita mungkin harus belajar untuk berkomunikasi dan memengaruhi orang lain dengan lebih efektif. Kita juga mungkin perlu melihat sikap kita sendiri tentang bagaimana kita menilai dan menerima orang lain dan sesuatu.




#25
Winner Mindset: Sabar
“Jika saya berhasil membuat sebuah penemuan yang berharga, hal itu lebih merupakan hasil kesabaran saya dibandingkan dengan keahlian lain yagn saya miliki.”(Sir Isaac Newton)

Kesabaran bukanlah kelambatan. Kesabaran tidak menjamin keberhasilan, tetapi secara signifikan meningkatkan kemungkinan keberhasilan. Kesabaran mengajarkan kita disiplin, mencegah kesalahan, memungkinkan kita untuk menangkap peluang dan menemukan apa yang penting.

    Kesuksesan dalam hidup adalah sebuah proses, dan sebuah proses selalu membutuhkan waktu. Sukses adalah suatu proses yang alami, dan karenanya sukses berproses seiring terjadinya proses perubahan, pertumbuhan dan perkembangan dalam diri Anda. Tidak ada yang tiba-tiba di dunia ini. Semua berproses, langkah demi langkah.

    Orang-orang sukses adalah pribadi yang sabar dan tekun. Mereka mengikuti nalurinya dan instingnya dalam perjalanan yang panjang. Mereka belajar, mengamati, meneliti, bertanya, dan berpikir untuk menentukan sebuah keputusan yang tepat pada waktu yang tepat pula.

    Pengusaha sukses Warren Buffett adalah orang yang sangat sabar. Ketika dia mulai berinvestasi pada tahun 1956, dia tidak ikut-iktan berinvestasi saham di Wall Street. Sebaliknya, dia melakukan perdagangan di Omaha, Nebraska. Anehnya, ketika teknologi jual- beli saham semakin marak dan canggih, Buffet tidak serta merta mengikuti tren. Meskipun demikian dia masih menjadi salah satu orang terkaya di generasinya.

    Bagaimana dia melakukannya? Dengan bersabar. Dengan perhitungan matang, Buffett membeli saham-saham yang kurang favorit dengan harga rendah. Dia kemudian menunggu sampai nilai mereka meningkat dan kemudian menjualnya dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga asli mereka. Keberhasilan Buffett adalah bukti bahwa kesabaran adalah komponen kunci dari resep untuk bisnis sukses.

    Kesabaran merupakan perlindungan dari kesalahan, sama halnya seperti pakaian melindungi kita dari rasa dingin, rasa dingin tidak akan memiliki pengaruh terhadap kita. Jika kita menumbuhkan rasa sabar dalam diri kita ketika kita melakukan kesalahan, kesalahan tersebut tidak akan berdampak apapun pada diri kita.

    Dengan kesabaran, kesalahan atau kegagalan tidak akan berakhir seperti akhir dunia. Kegagalan tidak lagi memiliki kekuatan emosional atas diri kita hingga membuat kita menyerah. Jika kita tetap mengerjakan apa yang kita yakini dan terus menyesuaikan cara kita melakukan sesuatu, maka kehidupan kita akan membaik.

    Kesabaran tidak dapat diperoleh dalam waktu semalam. Membangun kesabaran sama halnya dengan membangun otot. Setiap hari kita harus mengusahakannya. Kehidupan dapat mengajarkan kita menjadi lebih sabar. Dalam masa-masa sulit kadang kita tidak memiliki pilihan lain selain untuk berasbar. Masa-masa inilah yang akan memperkuat kesabaran kita.


Loser Mindset: Tidak Sabar

    Apakah kita ingin menggapai kesuksesan secara cepat atau bahkan instan? Kita ingin segala sesuatunya terlaksana dengan singkat? Atau hanya dengan sekejap mata maka perubahan spektakuler terjadi dalam kehidupan kita? Memang tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, namun kita tak hanya bisa berharap keajaiban seperti itu terjadi setiap hari.

    Sebuah peribahasa kuno mengatakan, “Semua pekerjaan yang berharga, berharga untuk dikerjakan,” dan, “Tak ada sukses dalam semalam.” Inilah yang seharusnya menjadi pegangan kita. Ketika kita ingin sukses, kita tidak akan bisa mendapatkan kesuksesan itu dengan jalan pintas. Jalan pintas hanya akan membawa kita pada ketidaksempurnaan dan kekurangan. Sebaiknya kita berusaha untuk melakukan yang terbaik walaupun itu membutuhkan waktu dan usaha lebih besar.

    Keberhasilan membutuhkan waktu. Keberhasilan membutuhkan rencana yang membutuhkan waktu untuk menjalankannya. Bersabarlah dengan diri Anda sendiri, dengan orang lain dan kondisi Anda. Ketidaksabaran akan mengirimkan signal negatif pada otak bawah sadar kita. Pada akhirnya kita hanya akan mencari jalan pintas yang kurang baik. Banyak orang ingin mengubah hidupnya dengan membeli nomor undian, mengirim bungkus produk tertentu untuk hadiah, banyak pejabat melakukan korupsi, banyak aparat menyalahgunakan jabatan.

    Yang harus kita lakukan adalah berperasaan, berpikir, dan bertindak sesuai dengan keinginan kita, berharap bahwa keinginan kita sedang diwujudkan, kita jangan terjebak dalam ketidaksabaran selama menunggu keinginan kita terwujud. Tinggalkan pikiran sukses instan untuk kesuksesan kita yang sejati. Semua harus dilalui dengan perjuangan, pengorbanan, ketekunan dan bekerja keras, namun tetap dengan semangat dan kebahagiaan dalam menjalaninya.

    Kebanyakan dari kita termotivasi hanya di awal-awal kita menentukan tujuan, tetapi motivasi itu sepertinya kehilangan kekuatannya dengan cepat. Ini mungkin dikarenakan banyaknya hambatan yang menghadang kita atau kita tidak sabar ketika kita tidak melihat hasil secepat yang kita inginkan.

    Kadang bila keinginan Anda tidak juga tercapai, Anda menjadi cemas, gelisah dan meragukan apakah keinginan Anda itu memang bisa terwujud. Ada “buffer time” (masa penyangga) yang harus dilalui dengan sabar. Buffer time adalah masa antara munculnya suatu pemikiran tertentu dengan perwujudan fisiknya.

    Anda harus sabar dan percaya kalau tujuan Anda sedang dalam proses perwujudannya. Buffer time bisa menjadi saat yang menyenangkan, saat Anda memikirkan tujuan dan keinginan Anda, saat Anda menyesuaikan lagi pemikiran yang ingin Anda wujudkan itu dan saat menikmati segala sesuatu yang Anda temui dalam proses pencapaian tujuan Anda. Sabar dan percaya! Anda harus sabar dan percaya selama dalam buffer time. Alam selalu mendukung apa yang Anda inginkan dan jika Anda menegaskan atau memberikan afirmasi tentang apa yang Anda inginkan itu, alam akan selalu membantu Anda mewujudkannya.

    Persoalan hidup muncul bila seseorang terlalu ngotot dan tidak sabar untuk mendapatkan sesuatu. Sukap ini hanya akan membuat hidup dalam kepanikan dan kebingungan.

    Kehidupan ini disiapkan secara alamiah untuk mendapatkan jawaban-jawaban untuk kebahagiaan, kemakmuran, dan kesehatan setiap orang secara kreatif, berani dan penuh tanggung jawab. Tetapi Anda harus benar-benar sabar dan kesabaran itu yang akan memicu dan menghubungkan Anda dengan proses perwujudan.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)