Rabu, 28 Oktober 2015

Winner Mindset Revolution : 25 Pola Pikir Seorang Pemenang #16 - #20


Lanjutan dari tulisan sebelumnya Winner Mindset Revolution #11 - #15



#16
Winner Mindset: Anut Kebiasaan Bertindak

“Penundaan adalah pembunuh peluang.”(Victor Kiam)


Orang-orang sukses tidak membuat kesalahan yang dibuat kebanyakan orang yaitu menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berpikir tetapi tidak melakukan tindakan apa-apa.

    Mereka selalu melakukan tindakan nyata selangkah demi selangkah, untuk meraih kesuksesan, mendapatkan banyak uang dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka menganut kebiasaan bertindak, bukan hanya kebiasaan berpikir. Bagaimana cara membentuk kebiasaan bertindak?
1.    Mulai mengambil tindakan bahkan jika Anda tidak memiliki gagasan yang jelas tentang apa yang perlu dilakukan. Mulailah bergerak ke arah tujuan Anda. Lakukan koreksi kemudian.
2.    Membuat komitmen. Kadang-kadang cara termudah untuk mengambil tindakan adalah untuk membuat komitmen. Beritahu teman dan keluarga tentang hal itu, sehingga Anda memiliki dukungan mereka.
3.    Menikmati prosesnya. Mencoba untuk merencanakan segala sesuatunya sebelum Anda mulai seringkali malah melumpuhkan Anda untuk mengambil tindakan. Ini baik untuk visi, dan benar-benar dasarnya untuk sukses, tapi jangan biarkan kebutuhan Anda untuk mengetahui setiap detail menghentikan Anda dari mengambil tindakan.
4.    Fokus pada kekuatan Anda, bukan keterbatasan Anda. Tidak semua orang akan memiliki pendekatan yang sama untuk memecahkan masalah tertentu. Gunakan bakat unik Anda untuk keuntungan Anda.
5.    Menggunakan imajinasi Anda untuk membangun keinginan emosional Anda. Apapun tujuan Anda, hanya memvisualisasikan dalam pikiran Anda sejenak apa rasanya untuk mencapai tujuan Anda. Seringkali proses menciptakan keinginan emosional cukup untuk membuat kita mulai gatal untuk mengambil tindakan. Jangan menunggu sampai kondisi sempurna. Akan selalu ada sesuatu yang tidak beres. Dalam dunia nyata tidak ada waktu yang tepat untuk memulai
6.    Menggunakan tindakan untuk menghilangkan rasa takut. Tindakan adalah obat terbaik untuk rasa takut. Waktu yang paling sulit untuk mengambil tindkan adalah saat pertama kali harus melakukannya. Setelah bola bergulir, Anda akan membangun kepercayaan diri dan semua akan terasa lebih mudah.
7.    Fokus pada apa yang dapat Anda lakukan pada saat ini. Jangan khawatir tentang apa yang harus Anda lakukan minggu lalu atau apa yang mungkin bisa Anda lakukan besok. Satu-satunya waktu yang dapat memengaruhi anda adalah saat ini.

Orang-orang dengan kebiasaan bertindak memiliki mindset bahwa apapun yang ingin mereka lakukan-sekecil apapun itu-mereka melakukannya sekarang. Mereka tidak menunda-nunda, karena itu akan memperkuat disiplin diri mereka dan mempermudah mereka mencapai tujuan yang lebih besar.


Loser Mindset: Anut Kebiasaan Menunda

    Orang-orang dengan loser mindset menganut kebiasaan menunda-nunda pekerjaan. Banyak alasan mengapa mereka melakukannya. Kebanyakan orang selalu menunda hal kecil karena menganggapnya tidak penting. Padahal dengan menunda-nunda, mereka telah menempatkan diri untuk gagal mencapai tujuan yang lebih besar.

    Orang-orang yang suka menunda pekerjaan memiliki pola pikir yang tidak tepat. Mereka merasa terpaksa melakukan tugas mereka dan tidak berpikir bahwa itu adalah pilihan mereka. Dengan keterpaksaan, mereka menjadi takut gagal dan memiliki mentalitas korban.

    Mentalitas korban adalah ketika seseorang menyalahkan orang lain dan segal sesuatu atas apapun yang terjadi dalam kehidupan mereka. Mereka merasa tidak berdaya, tidak memiliki kontrol atas kehidupan mereka sendiri dan tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya memiliki pilihan-pilihan dalam hidup.

    Orang yang menunda-nunda pekerjaan biasanya merasakan beban kalau mereka harus menyelesaikan pekerjaan mereka karena mereka khawatir pada ekspetasi orang lain terhadap mereka. Mereka biasanya seorang perfeksionis yang takut membuat kesalahan.

    Penundaan juga bisa terjadi karena seseorang merasa tugas yang harus mereka kerjakan merupakan proyek besar yang memerlukan kerja sangat keras sehingga mereka akan menderita karenanya. Sebenarnya kebiasaan menunda bisa digantikan dengan kebiasaan bertindak dengan menanamkan pada diri sendiri bahwa diri sendiri memiliki pilihan. Mereka mengerjakan tugas karena memilih untuk mengerjakannya atas dasar keingintahuan, rasa tertantang, kemauan untuk menentukan nasib sendiri.

    Bila dihadapkan pada suatu pekerjaan, sebaiknya bukan pertanyaan kapan selesainya tetapi kapan bisa dimulai karena ekspetasi diri sendiri dan bukan ekspetasi orang lain yang harus dipenuhi. Kesempurnaan bukan segalanya, tetapi boleh berbuat kesalahan sebagai bahan pembelajaran. Perlu juga ditanamkan pada diri sendiri bahwa semua proyek besar selalu dimulai dari langkah kecil. Jadi tak perlu ada yang ditakutkan, yang penting mengambil langkah pertama terlebih dahulu.

    Perbedaan antara orang-orang sukses dengan orang-orang gagal adalah orang sukses melakukan hal-hal yang tidak dilakukan orang-orang gagal.



#17
Winner Mindset: Hidup di Masa Kini

“Pecundang hidup di masa lalu. Pemenang belajar dari masa lalu dan menikmati hidup di masa kini., menuju masa depan.” (Denis Waitley)

Sekarang adalah satu-satunya waktu yang eksis. Hidup kita hanya terjadi saat ini. Orang-orang sukses memfokuskan pikiran pada “di sini dan sekarang” saat melakukan sesuatu. Cara itu membantu mereka untuk selalu termotivasi tanpa diganggu kekhawatiran pada masa lalu dan masa depan.

    Yang ada sebenarnya adalah “sekarang” – masa kini tanpa awal dan tanpa akhir. Kita harus memahami konsep holographic time bahwa segala sesuatu terjadi di sini dan sekarang, dan menganggap waktu berhubung langsung dengan eksadaran kita, bukannya pecahan momen demi momen yang ditempatkan berurutan dalam sebuah gari lurus.

    Dengan memahami itu, kita menjadi lebih terpusat, lebih sabar dan lebih fokus. Kita bisa membuat kejelasan tentang apa yang benar-benar kita inginkan, yang akan membantu mewujudkan apapun keinginan kita, karena kejelasan itu. Itu juga membantu kita memahami kondisi emosional kita dan menciptakan kondisi emosional itu dengan sengaja.

    Kita bisa menciptakan konsep waktu untuk mengontrol dan mengkategorikan dunia kita. Kita bisa melakukannya dengan membagi sesuatu yang kita alami dalam kerangka waktu musim, atau lebih lagi yaitu kerangka bulan, atau lebih kecil lagi yaitu hari saat terbit dan terbenamnya matahari atau lebih kecil lagi sehingga kita bisa mengatur hidup kita dengan lebih baik. Ada banyak lagi aplikasi konsep waktu ini dalam kehidupan kita dengan mengingat bahwa pembatasan yang sebenarnya hanyalah imajinasi kita.

    “Waktu hanya eksis di saat sekarang ini.” Kita tidak seharusnya menjalani kehidupan dengan bereaksi terhadap sesuatu berdasarkan memori masa lalu dan berhenti menyalahgunakan imajinasi tentang masa depan.

    Seperti yang dikatakan Deepak Chopra dalam resep bahagianya, “Hiduplah di masa sekarang. Karena sekaranglah Anda berada.” Sekarang ini merupakan momen paling nyata yang kita miliki. Tetaplah fokus pada apa yang kita hadapi sekarang di tempat kita berada saat ini. Lihatlah segala sesuatu dengan penuh perhatian setiap momennay.

    Jika Anda hidup pada saat ini, Anda hidup dalam penerimaan. Anda menerima hidup seperti sekarang, tidak seperti bagaimana Anda ingin itu akan menjadi. Bila Anda hidup dalam penerimaan, Anda menyadari semuanya lengkap seperti itu. Anda dapat memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang telah Anda buat, dan Anda dapat memiliki damai di dalam hati, Anda tahu segala sesuatu yang harus terjadi.

    Apapun yang anda inginkan, cobalah untuk merasakan seolah-olah keinginan Anda telah tercapai. Hidupkan kembali kebahagiaan yang pernah Anda rasakan ketika Anda telah mewujudkan ambisi Anda di masa lalu dan transfer kebahagiaan ini ke momen saat ini dan kesuksesan akan terjamin untuk Anda.


Loser Mindset: Hidup di Masa Lalu

    Hidup untuk hari ini terdengar mudah, bukan? Pada kenyataannya cukup sulit untuk melepaskan masa lalu atau untuk berhenti berpikir tentang masa depan. Tapi itu masuk akal mengingat bahwa kemarin adalah sejarah dan besok adalah sebuah misteri. Ketika kita fokus pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, kita menghadapi risiko kehilangan saat ini.

    Masa lalu dan masa depan adalah ilusi, keduanya tidak ada. Seperti kata pepatah, “besok tidak pernah datang.” Besok hanyalah sebuah konsep, karena waktu selalu sekarang. Agar Anda lebih tenang menghadapi ketidakpastian, katakan pada diri Anda sendiri bahwa Anda tidak bisa mengubah masa lalu dan tidak bisa memprediksi masa depan. Anda hanya bisa menjalani hidup saat ini dan bersiap menghadapi masa depan yang tidak akan bisa Anda pastikan.

    Segala yang kita sebut “masa lalu” sebenarnya hanyalah memori masa kini. Sedangkan segala yang kita sebut “masa depan” hanyalah memori masa kini yang dibalik atau disusun kembali, untuk membentuk prediksi atau ekspektasi. Dengan kata lain, penampilan “waktu” adalah sebuah trik memori. Anda bisa dengan mudah melihat ini untuk diri Anda sendiri: cukup dengan memikirkan apa yang Anda anggap sebagai “masa lalu” dan “masa depan.” Anda akan menemukan bahwa semua itu hanya pemikiran, hanya memori, hanya ekspektasi, hanya penjelasan mental. Semuanya hanya “ada di kepala Anda.”

    Walaupun waktu sangat penting untuk dunia ini, namun pengondisian masa lalu harus dihilangkan dan kekhawatiran dan proyeksi fantasi masa depan tidak boleh mengontrol kehidupan kita. Penggunaan yang salah dari waktu dapat menyebabkan kecemasan tentang masa depan, hidup kembali di masa lalu, menyesali kesalahan di masa lalu, berpacu dnegan waktu dan menolak perubahan.

    Kebanyakan orang melakukan dan melihat sesuatu yang paling sering terjadi dalam kehidupan dalam kondisi tidak sadar atau di alam bawah sadarnya. Karena mereka sudah pernah melihat atau melakukan sesuatu, maka mereka mengandalkan memori tersebut dan menanamkannya dalam pikiran mereka. Kemudian proses belajar dan penemuan tidak lagi mereka hiraukan. Memori masa lalu mengambil alih. Apa gunanya Anda menjalani kehidupan sekarang ini berdasarkan memori masa lalu? Anda menjadi kehilangan memori saat ini. Apakah Anda selalu melihat dengan sudut pandang yang ebnar-benar baru pada setiap hari baru, ataukah Anda menjalani kehidupan Anda sesuai dengan prinsip sebagaimana yang sudah Anda “ketahui” kehidupan Anda di masa lalu?

    Segala sesuatu berubah, dan menggunakan memori akan membuat Anda tidak melihat perubahan itu. Usahakan untuk “melupakan” yang anda lihat dalam pikiran dan Anda akan menemukan sebuah dunia yang benar-benar baru dan Anda akan tumbuh lebih cepat secara keseluruhan, juga mengembangkan kekayaan an diri sendiri dengan lebih cepat.

    Mengenai masa depan, jangan menghabiskan waktu seharian dengan melamunkan masa depan saja, dengan mengatakan “ jika saja.” Ini membuat Anda lari dari masa kini dan tenggelam dalam imajinasi hari esok, menjalani seluruh hari dalam kondisi setengah sadar terhadap detil yang terjadi dalam hari Anda itu. Ini bisa memperlambat perjalanan Anda ke hari esok yang lebih baik. Sama seperti pentingnya Anda menentukan tujuan masa depan, pentingnya juga bagi Anda untuk mengalami masa kini dan bertindak secara sadar berdasarkan masa kini jika Anda ingin maju.

    Ingatlah bahwa alam hanya bisa menggunakan saat sekarang ini unuk mengirimi Anda petunjuk, mengirimi Anda orang-orang, peristiwa dan kesempatan untuk maju. Alam tidak bisa menggunakan gambaran masa depan di kepala Anda. Daripada mengejar masa depan yang lebih baik dengan cara melempar kesadaran Anda ke masa depan, lebih baik gunakan masa kini dan biarkan masa depan mengejarnya di sana.

    Jangan tinggal di masa lalu. Gunakan masa lalu untuk mengilustrasikan suatu titik, kemudian tinggalkan titik itu di belakang. Tidak ada sesuatu pun yang penting kecuali apa yang Anda lakukan saat sekarang ini.



#18
Winner Mindset: Gali Bakat dan Keterampilan

“Saya tidak punya bakat istimewa. Saya hanya orang yang sangat ingin tahu.”(Albert Einstein)

Bakat berbeda dengan ketrampilan. Bakat cenderung bawaan dari lahir, sedangkan ketrampilan itu dari proses belajar. Sete;ah dote,ilam. Balat dapat dipupuk dan dikembangkan, tetapi menemukannya bisa rumit. Ini sebagian proses pengamatan diri dan kejujuran. Sisanya adalah belajar dan praktik.

    Bakat banyak bentuknya. Mereka mungkin artistik atau teknis, mental atau fisik, berorientasi kedalam atau keluar diri sendiri. Mereka tidak perlu dapat menghasilkan profit, berguna, atau konvensional, tetapi mereka akan selalu menjadi milik kita sendiri, bagian dari apa yang membuat Anda adalah Anda.

    Jika Anda tahu apa bakat alami Anda, Anda dapat fokus pada pengembangannya menjadi keterampilan. Anda dapat mencurahkan hidup Anda untuk pekerjaan yang cocok atau selaras dengan bakat alami dan keterampilan Anda. Ini akan menjadi penggunaan waktu yang jauh lebih baik dan secara umum membuat Anda lebih bahagia, lebih efektif, dan lebih sukses.

    Bakat harus dikembangkan bila ingin bermanfaat untuk mencapai kesuksesan. Tidak semua orang diciptakan dengan bakat yang sama dan kemampuan yang sama. Memang kehidupan ini berupa energi yang tidak pernah berhenti berubah bentuk dan memberi kesempatan kepada semua orang untuk bisa mengubah kondisi kehidupannya setiap saat mereka merasa ada yang perlu diubah atau diperbaiki.

    Anda semua memiliki kesempatan yang sama dengan siapa saja untuk bisa sukses, kaya dan bahagia dalam kehidupan Anda semua. Semua orang memiliki kekuatan itu. Tetapi setiap orang itu unik. Mempunyai kelebihan dan kelemahannya masing-masing, dan memiliki bakat tertentu yang lebih dibanding orang lain.

    Jangan hanya bekerja keras, tetapi bekerjalah dengan cerdas. Kenali diri Anda sendiri, bakat apa yang sebenarnya Anda miliki, dan kembangkanlah bakat itu. Ketika Anda mengubah bakat Anda menjadi kekuatan (dengan cara mencari lebih banyak pengetahuan dan membangun kemampuan dan keahlian Anda), maka Anda tak akan bisa dihentikan. Anda tak hanya sukses dalam waktu lebih singkat dan lebih mudah, Anda juga menikmati pekerjaan Anda dan menjadi lebih bahagia.

    Ada hal yang sering kita lupakan padahal amat penting dalam membangun pondasi percaya diri dan harga diri, yaitu meluangkan waktu untuk diri sendiri agar bisa merenungkan siapa sebenarnya diri Anda.

    Setelah mengetahui bakat apa yang dimiliki, selain belajar sendiri dengan mengembangkan bakat dengan praktik. Cara lain yang dilakukan antara lain dengan mengikuti pelatihan dalam rangka pengembangan bakat dengan bantuan orang lain.

    Pencarian bakat diri sendiri dan berusaha selalu mengasah bakatnya adalah salah satu ciri-ciri orang sukses. Karena mereka yakin bahwa bakat bisa ditempa dan dikembangkan, walaupun tentu saja bakat itu telah ada sejak lahir. Dengan keyakinan seperti itu, mereka percaya bahwa kesuksesan tidak hanya disebabkan oleh faktor bakat emata, tetapi usaha mengembangkannya. Oleh sebab itu, mereka fokus pada usaha dan strategi pembelajaran, pengembangan bakat dan kemampuan  serta pencapaian jangka panjang.


Loser Mindset: Tidak mengasah Bakat dan Keterampilan


    Kesalahan yang paling sering terjadi pada kebanyakan orang adalah gagal mengetahui bakat dan kemampuan mereka yang sebenarnya. Mereka berasumsi telah mengetahui bakat mereka karena mereka mendapatkan nilai yang sangat baik dalam salah satu mata pelajaran ketika di sekolah, atau karena orang lain pernah mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan berhasil dalam sebuah bidang tertentu. Namun mereka tidak pernah berusaha sendiri menggunakan bakat yang diasumsikan tersebut dalam pekerjaan mereka. Mereka tidak pernah menggali secara mendalam dari dalam diri mereka sendiri untuk menemukan apakah sebenarnya bakat mereka atau bidang apa yang benar-benar mereka sukai.

    Anda mungkin menyia-nyiakan sebagian besar hidup Anda bila mengejar keberhasilan dalam hal-hal yang tidak sesuai bakat dan keterampilan Anda. Anda pun mungkin membuang banyak waktu Anda untuk berjuan mengatasi kelemahan yang berkaitan dengan bidang yang bukan bakat Anda.

    Ada orang yang berusaha keras menguasai suatu keahlian padahal sebenarnya dia tidak berbakat dalam bidan itu. Mungkin dia pada akhirnya berhasil menguasainya, namun itu membutuhkan usaha keras, dedikasi dan waktu yang panjang.

    Mengapa harus menghabiskan waktu dan tenaga untuk sesuatu yang sebetulnya memang bukan bakat kita, tidakkah lebih baik mengasah kemampuan kita pada bidang yang memang benar-benar bakat kita, sehingga kita bisa menguasainya dengan lebih baik dalam waktu lebih singkat dan usaha tidak terlalu keras. Karena ada kesalahan cara berpikir oleh sebagian orang, mereka menghabiskan seluruh hidup mereka berusaha untuk menjadi sesuatu yang sebenarnya tidak akan bisa mereka kuasai dengan baik, dan tidak pernah mau tahu kalau mereka mungkin saja akan jauh lebih sukses di bidang lain.

    Banyak kasus menunjukkan orang-orang yang sebenarnya berbakat mengalami kegagalan. Mengapa demikian? Karena mereka merasa bahwa bakat sudah diperoleh sejak lahir dan tingkat kemahirannya dalam bakat tersebut akan teatp selamanya. Dengan keyakinan seperti itu, mereka merasa tidak ada gunanya mengasah bakat mereka.

    Jadi mereka melewatkan kesempatan belajar untuk menghindari membuat kesalahan, dengan cara tidak melakukan pekerjaan yang mungkin menuai kritik atau lebih memilih pekerjaan yang aman-aman saja dan tidak menantang. Padahal dengan tantangan dan membuat kesalahan, mereka akan mempelajari hikmah yang bermanfaat di masa mendatang.

    Mereka tidak memanfaatkan potensi mereka dengan tidak bersedia bekerja keras dan berkorban untuk mencapai tujuan mereka. Dengan kata lain, mereka tidak mau mengasah bakat mereka.




#19
Winner Mindset: Memiliki Kemampuan Mendengarkan

“Saya suka mendengarkan. Saya telah belajar banyak cara mendengarkan dengan seksama. Kebanyak orang tidak pernah mendengarkan.” (Ernest Hemingway)

Salah satu hal mendasar dari semua kebutuhan manusia adalah kebutuhan untuk memahami dan dipahami. Cara terbaik untuk memahami orang adalah dengan mendengarkan mereka. Kemampuan mendengarkan orang lain juga merupakan salah satu bentuk pengembangan kepribadian. Hal ini sepertinya mudah namun sulit dilakukan karena harus mengesampingan kebutuhan kita sendiri untuk berbicara agar bisa mendengar orang lain.

    Seorang pendengar yang baik mampu fokus pada apa yang dikatakan orang lain tanpa terganggu. Untuk mendapatkan kemampuan ini, kita harus merasa percaya diri dan benar-benar mengetahui kebutuhan kita saat itu. Lebih baik mengatakan dengar, terus terang kalau saat itu kita tidak bisa mendengarkan dengan sungguh-sungguh daripada berpura-pura mendengarkan dengan setengah hati, sebab ini bisa merusak kepercayaan saat berusaha membangun hubungan dengan orang lain.

    Tujuan utama dari mendengarkan adalah untuk benar-benar memahami sudut pandang orang lain, bagaimana mereka berpikir dan merasakan, dan bagaimana mereka hidup di dunia. Mendengarkan merupakan salah satu cara mendidik diri sendiri, menambah pengetahuan dan informasi yang berguna bagi diri sendiri.

    Mendengarkan yang dimaksud di sini adlah mendengarkan secara aktif, artinya kita benar-benar “hadir” ketika orang lain berbicara dan “masuk” dalam apa yang edang dibicarakan. Mendengarkan aktif bukannya hanya mendengarkan sampai orang lain berhenti bicara agar kita bisa berbagi pikiran dengan mereka.

    Mendengarkan secara aktif adalah cara mendengarkan dan merespon orang lain yang meningkatkan saling pengertian. Seringkali orang berbincang-bincang satu sama lain dan tidak mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka sering terganggu perhatiannya, setengah mendengarkan dan setengah berpikir tentang hal lain. Ketika sedang berdebat, orang-orang malah sibuk sendiri menyusun respon terhadap apa yang sedang dikatakan tanpa mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan. Mereka mengasumsikan telah sering mendengar apa yang dikatakan lawan bicara mereka sehingga bukannya memperhatikan, mereka malah fokus pada bagaimana mereka merespon agar menang dalam perdebatan.

    Kemampuan mendengarkan yang abik dibutuhkan di dunia yang kompetitif ini. Kemampuan ini memungkinkan kita mengevaluasi ide-ide, mengenali perbedaan antara fakta dan opini, menggunakan pertanyaan dan umpan balik untuk memperjelas komunikasi dan mengenali hambatan-hambatan komunikasi.

    Para pembicara dan pemimpin hebat yang berpengaruh, umumnya adalah orang-orang yang senantiasa membuka telinga mereka untuk mendengarkan berbagai hal. Mereka tahu betul apa manfaat mendengarkan orang lain bagi diri mereka sendiri. Pengusaha, manajer, karyawan, penjual dan bahkan customer service yang sukses adalah mereka yang lebih banyak mendengarkan dan sedikit berbicara lalu bertindak, daripada banyak bicara sedikit mendengar lalu bertindak.


Loser Mindset: Kurang Kemampuan Mendengarkan

    Salah satu hambatan komunikasi adalah kurangnya kemampuan mendengarkan. Banyak orang tidak menyadari bahwa mendengarkan dengan saksama sering lebih bermanfaat daripada berbicara terlalu banyak, apalagi berbicara bertele-tele. Hal ini sepertinya sepele tetapi bisa menjadi salah satu penyebab kegagalan dalam karir dan dalam hidup.

    Dengan terlalu banyak bicara atau berbicara tidak fokus, Anda malah membuat orang lain merasa Anda tidak tertarik dengan apa yang mereka katakan. Bagi mereka, Anda lebih suka pada percakapan dengan satu pihak saja yang mendengarkan, dengan mereka lebih banyak mendengarkan Anda daripada melakukan percakapan dua arah.

    Kebanyakan orang yang menghadapi lawan bicara yang terlalu banyak bicara akan menjadi jengkel atau merespon dengan tidak terlalu memperhatikan atau tidak bersedia berbagi ide atau informasi. Itu bisa menjadi sebuah kerugian bagi orang yang terlalu banyak bicara dan tidak belajar mendengarkan orang lain.

    Mengapa seringkali orang malah terlalu banyak berbicara dan kurang mendengarkan? Penyebabnya bisa bermacam-macam, antara lain gugup, tidak memahami benar topik yang sedang dibicarakan, tidak tahu apa yang harus dikatakan sehingga mengatakan apa saja yang terpikir tanpa mempertimbangkan relevansinya, menutupi kenyataan bahwa mereka tidak tahu apa yang ahrus mereka ucapkan, berusaha menunjukkan kalau mereka tahu banyak hal (padahal sebenarnya tidak), atau mereka lebih suka mendengarkan suara mereka sendiri.

    Orang-orang yang tidak mempunyai tujuan yang jelas cenderung banyak berbicara. Karena tidak tahu apa yang diinginkan dan apa yang ingin dicapai dalam sebuah percakapan, orang akan berbicara ke sana ke mari dan tidak fokus, dan malah berakhir dengan ketidakjelasan tujuan dan ketiadaan langkah-langkah yang bermanfaat.

    Terlalu banyak bicara membuat orang tidak mendengarkan orang lain ketika sedang bercakap-cakap. Mereka sibuk sendiri dengan apa yang sedang mereka bicarakan sehingga lupa atau tidak bisa mendengarkan orang lain yang sedang diajak berbicara. Berbicara dan mendengarkan tidak bisa dilakukan bersamaan oleh satu orang.

    Ketika seseorang tidak mampu mendengarkan orang lain dengan baik, dia kehilangan kesempatan untuk membangun kepercayaan dan hubungan. Kalau seseorang mendominasi percakapan, dia akan kehilangan sinyal-sinyal yang mengindikasikan apa yang penting bagi orang lain dalam hubungan tersebut. Orang lain juga akan merasa terabaikan dan tidak didengar, dan ini bukan cara yang baik untuk membangun hubungan.

    Ketidakmampuan mendengarkan dengan baik juga membuat seseorang tidak mengetahui kebutuhan orang lain. Padahal dengan mengetahui kebutuhan sebenarnya dari orang lain atau klien, dia bisa memberi solusi yang baik dan mendapatkan lebih banyak nilai lebih dari hubungan tersebut.



#20
Winner Mindset: Bekerja Keras dan Cerdas

“Bekerja keras dan bekerja cerdas kadang-kadang dapat menjadi dua hal yang berbeda.” (Byron Dorgan)

Banyak orang mengatakan resep utama dapat sukses di dunia adalah bekerja keras. Bekerja keras membuat mimpi kita menjadi nyata, walau kadang-kadang memang memerlukan waktu. Kita harus paham mimpi kita ketika kita memutuskan untuk bermimpi, setelah itu kita harus bekerja keras untuk mencapai mimpi yang kita inginkan. Hidup akan bermakna jika kita isi dengan kerja keras. Tanpa kerja keras tak mungkin kita sukses. Tidak ada kesuksesan bagi orang yang malas.

    Tetapi cukupkah hanya dengan kerja keras? Ternyata tidak. Setelah bekerja keras selama jangka waktu tertentu, akan datang saatnya ketika kida menyadari bahwa ada begitu banyak hal yang belum bisa kita capai hanya dengan bekerja keras. Tetapi jangan salah sangka, bekerja keras itu memang penting. Namun bila Anda memiliki 24 jam sehari, sama seperti orang lain, Anda harus mulai bekerja cerdas juga selain kerja keras, untuk mendapatkan nilai maksimal atas waktu dan usaha anda.

    Segala sesuatu memiliki tujuan. Orang-orang yang tidak tahu tujuan dari apa yang mereka lakukan adalah orang-orang yang menghabiskan waktu dengan sia-sia. Banyak dari kita bekerja keras karena menginginkan yang terbaik. Memang hasil terbaik adalah tujuan kita, dan itu tidak selalu harus hasil sempurna. Lepaskan pola pikir perfeksionis jika itu menghambat pekerjaan terselesaikan dengan cepat, berhenti terobsesi tentang rincian dan segala hal yang terlalu spesifik.

    Kita semua harus bekerja keras dalam hidup. Kita bekerja keras dalam pekerjaan kita sehingga kita dapat unggul di tempat kerja. Kita bekerja keras untuk mempertahankan hubungan kita, dan banyak lagi yang membuat kita harus bekerja keras sehingga kita dapat mencapai hasil terbaik dalam hidup kita.

    Bekerja keras akan memberikan hasil, namun bekerja keras dan cerdas pada saat yang sama memberi Anda hasil terbaik dalam waktu lebih cepat. Bekerja cerdas harus dilandasi dengan tujuan yang jelas. Jika Anda belum tahu tujuan Anda, Anda dapat fokus dan mempersingkat waktu mencapainya. Semakin jelas tujuan, semakin baik.

    Mengetahui tujuan memungkinkan kita tahu di mana harus memulai dalam melakukan perjalanan menuju pencapaian tujuan. Selanjutnya adalah merencanakan rute tercepat dan paling efektif yang akan membuat kita sampai lebih cepat pada tujuan.

    Bekerja keras membutuhkan energi yang berasal dari motivasi. Hampir tidak mungkin untuk mempertahankan keadaan 100% termotivasi penuh setiap detik. Sulit menjaga motivasi ini tetap menyala bila kita tidak mengetahui bagaimana caranya. Oleh karena itu, kita perlu mempertahankan aliran motivasi, orang-orang yang bergaul dengan kita, prioritas kita dan komunitas kita.

    Sebagian besar dari kita lebih suka melakukan banyak hal sendiri. Tetapi kadang-kadang meminta bantuan atau mendelegasikan tugas bisa membuat kita mencapai hasl yang lebih baik daripada melakukannya sendirian. Kita juga harus selalu melakukan peninjauan atas apa yang sudah dikerjakan secara teratur untuk mengetahui seberapa baik cara kita. Bila cara lama tidak berhasil atau kurang efisien dan kurang efektif, kita bisa mencari cara lain yang lebih baik sebelumnya.


Loser Mindset: Bekerja Malas


    Bekerja keras saja tidak cukup untuk mencapai hasil terbaik, apalagi jika malas bekerja. Rasa malas sebenarnya bukan merupakan sejenis penyakit mental tetapi abnyak yang menyebutnya demikian. Mengapa disebut penyakit mental. Karena rasa malas yang dapat berakibat buruk dan sangat merugikan. Perasaan malas dapat menyebabkan kinerja seseorang menjadi kacau karena tidak mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik. Segala macam kesuksesan tidak akan menghampiri bila penyakit ini masih menempel dalam diri seseorang.

    Rasa malas berdampak terhadap produktivitas kerja. Karena malas, seseorang menjadi tidak produktif bahkan mengalami stagnasi. Badan terasa lesu, semangat dan gairah menurun, ide pun tidak mengalir. Akibatnya, kita tidak mempunyai kekuatan apa pun untuk bekerja secara optimal. Jika dibiarkan berlarut-larut, penyakit malas akan semakin parah. Rasa malas juga sering ditimbulkan oleh hilangnya motivasi seseorang untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan. Selain itu, kebiasaan malas timbul karena kita cenderung mengaitkan masa depan dengan persepsi negatif. Kita menunda-nunda pekerjaan karena cenderung membayangkan setumpuk tugas yang harus dilakukan di kantor. Belum lagi berhubungan dengan orang-orang yang tidak Anda sukai. Sayangnya, menunda-nunda pekerjaan pada akhirnya akan mengundang stres karena mau tidak mau suatu saat kita harus mengerjakannya. Di waktu yang sama kita juga mungkin punya banyak pekerjaan lain.

    Apabila dihadapkan pada satu tugas besar atau proyek, banyak orang berpikir mengenai rumitnya tugas tersebut dan membayangkan kapan bisa diselesaikan. Hal itu bisa diatasi dengan fokus pada pikiran positif dengan membagi tugas besar tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan menyelesaikan satu demi satu.

    Berpikir bahwa kita harus mengerjakan sesuatu secara otomatis akan mengundang perasaan terbebani dan kita menjadi malas mengerjakannya. Kita akan mencari seribu alasan untuk menghindari tugas tersebut. Cara pikir tentang keharusan mengerjakan suatu pekerjaan merupakan mental block yang bisa dihilangkan dengan mengubah persepsi bahwa kita tidak harus melakukan pekerjaan yang tidak kita sukai.

    Kita harus meyakinkan diri bahwa kita bersedia mengerjakan tugas karena memang kita ingin mengerjakannya, bukan karena paksaan pihak lain. Kita selalu punya pilihan dalam kehidupan ini. Tentunya pilihan kita sebaiknya dibuat dengan sadar dan tidak merugikan orang lain.

    Jadi untuk mengatasi rasa malas, kita harus mengidentifikasi latar belakang penyebab timbulnya rasa malas bekerja. Tiap orang bisa memiliki faktor penyebab yang berbeda. Apakah karena faktor dalam diri sendiri atau faktor luar atau karena faktor keduanya.

    Faktor penyebab dari dalam relatif lebih bisa dikendalikan dari pada unsur luar. Beberapa unsur dalam diri adalah pengetahuan, sikap, kemampuan dan pengalaman serta percaya diri dalam memahami makna bekerja. Dengan diketahuinya faktor-faktor tersebut, seharusnya mulai timbul keyakinan bahwa sifat malas akan dapat diatasi.



0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)