Minggu, 13 Desember 2015

Wawancara oleh IT Dept.



Bagi pembaca yang belum tahu, selama beberapa bulan ke depan aku diminta untuk mengisi posisi Head Internet Marketing yang ternyata merangkap sebagai IT Dept. Kejadian ini berlangsung kemarin siang.

Saat mendekati jam makan siang, ponselku berdering dan terlihat nama Kepala bagian Personalia yang kita sebut saja Bu Tuti.

Ron : "Ya Bu, ada apa?"
Tuti : "Pak Ron, saya mau minta tolong. Hari ini saya tidak masuk, ada yang mau wawancara kerja hari ini. Bisa Bapak handle?"
Ron : "Loh? Bu, kan saya bagian IT, Orang Ibu di bagian personalia kan ada yang lain."
Tuti : "Di CV kemarin kan Bapak ada pengalaman ini, terus juga orang ini agak special, jadi nggak ada yang berani wawancara."
Ron : "Special gimana Bu?"
Tuti : "Dia ini adik dari temannya istri bos, tolong ya Pak, kali ini saja."
Ron : "Ya sudah, minta dia ke ruangan saya sekarang bawa berkas-berkasnya."
 
Sekitar 15 menit kemudian masuk seorang pria muda sambil senyum-senyum meledek.
 
Ron : "Silahkan duduk, siapa namanya?"
Her  : "Herman (bukan nama sebenarnya)."
Ron : "Baik, sebelumnya saya ini orang IT Dept., Ibu Tuti yang harusnya interview kamu sedang tidak masuk. Saya pernah bekerja di bagian Personalia, karena itu saya akan wawancara kamu. Apa kamu tidak masalah?"
Her  : "Oke"
Ron : "Saya minta berkas-berkas kamu."
 
Dia menyerahkan sebuah amplop coklat untuk mengirim paket, aku mengeluarkan isinya. Sebuah surat lamaran yang diketik dengan komputer, FC akta lahir dan FC Kartu Keluarga. Sekarang aku mengerti maksud agak special yang sebenarnya.
 
Ron : "Baik Herman, pertama begini. Surat lamaran seharusnya menggunakan tulisan tangan dan surat lamaran kamu ini.."
 
Surat lamaran itu memiliki kepala dan akhir surat yang lengkap tetapi isi suratnya hanya sebaris kalimat...
 

Dengan ini saya melamar di tempat bapak



Ron : "Nggak tepat, dan terakhir kamu ini mau melamar kerja atau buat KTP? Buat apa Akta lahir sama kartu keluarga ini?"
Her  : "Begini Pak, sepertinya Bapak belum paham ya. Saya ini teman dari adik istrinya bos bapak."
Ron : "Oh begitu, saya paham. Untuk kamu pahami juga, saya diminta disini oleh Bapak Mertua dari kakak teman kamu yang adalah Owner dari seluruh bagian perusahaan ini. Begini saja nanti saya laporkan ini ke Owner, biar beliau yang ngomong sama kakak dari temanmu itu, oke?"

Ya harus kita akui untuk bisa bekerja di masa ini, relasi adalah yang terpenting tetapi sebaiknya itu hanya membuka jalan kita untuk melamar pekerjaan lebih lancar bukan tidak menghormati proses mendapatkan kerja itu sendiri. Pernah punya pengalaman serupa?

4 komentar:

  1. Ya ampun, ada ya orang kaya begitu. Ckckck.
    Terus udah dibilangin ke Owner nya belum? Gimana kelanjutannya?

    BalasHapus
  2. Hehe...
    Di kasus kaya gitu, kebanyakan wawancara cuma sekedar ada aja, karena apapun ceritanya pasti diterima, termasuk yang skill-nya nihil...

    BalasHapus
  3. @Stef : Ya, menantunya habis dimarahin owner :p

    @Dhyna : Udah budaya, Haha

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)