Senin, 25 Juli 2016

Lalochezia

Kebahagiaan sejati tidak didapatkan dari melukai orang lain


Saat sedang terjebak kemacetan arus mudik, salah satu mobil mulai membunyikan klakson mobilnya berulang-ulang seolah tidak menyadari kami semua dalam posisi yang sama dengan dirinya. Seolah belum puas dia mulai menurunkan kaca mobilnya dan berteriak-teriak sambil terus membunyikan klakson mobilnya.

Tidak lama beberapa mobil lain juga mengikuti tindakannya seolah tidak mau kalah, hasilnya? Keadaan semakin memburuk saja.

Kejadian itu membuatku merenung lalu mengambil kesimpulan bahwa sepertinya semakin dewasa ini, semakin banyak orang yang berusaha melepaskan stressnya melalui kemarahan yang diungkapkan dengan makian bahkan mereka seolah ketagihan memaki orang.

Hal ini bisa kita lihat semakin banyak orang-orang yang menggunakan sosial media untuk menyerang orang lain, istilah internetnya bisa dibilang Troll, Hater, dsb.

Intinya mereka menikmati perbuatan mereka yang melukai orang lain dengan menulis kata-kata yang kasar.

Salah satu kasus yang baru-baru kutemui adalah seorang mantan supervisor di kantorku, Ya mantan. Dia sudah tidak bekerja lagi sejak 1 Juli ini. Dengan berat hati, aku harus memberhentikan orang seperti ini sebelum dia membuat sumber daya manusia yang penting untuk perusahaan yang berhenti.

Kasusnya seperti ini, dia menempati posisi sebagai Supervisor Pemasaran, sejak aku duduk di kantor cabang ini dia terlihat sangat tidak senang karena atasannya yaitu aku memiliki usia lebih muda darinya. Jika dulu dia bisa duduk-duduk santai di kantor, sejak kedatanganku dia diwajibkan untuk memenuhi semua tugas sesuai job desk yang telah diberikan pada kontraknya.

Hal ini mungkin membuatnya tertekan dan stress, akhirnya setiap hari dia mengadakan meeting dengan anggota salesnya. Setiap hari dia akan memaki sales-salesnya dengan alasan yang tidak masuk akal sekalipun, terakhir dia memaki sales karena tidak mengangkat teleponnya sehari sebelumnya di luar jam kerja.

Saat itu saya langsung menegurnya bahwa dia tidak dibayar di perusahaan ini untuk hanya memarahi timnya. Sejak saat itu aku memutuskan bahwa meeting hanya bisa dilakukan seminggu sekali dan durasinya 30 menit, tidak lebih.

Tidak jelas pastinya karena faktor tersebut atau lainnya, kinerjanya terus menurun sampai dia seolah masa bodoh dengan tanggung jawab kantornya. Meeting seminggu sekali itu digunakannya untuk meluapkan kekesalannya dengan memaki setiap anggota timnya selama 30 menit penuh tanpa alasan yang jelas.

Saat kutegur tentang kinerjanya yang menurun dia justru keluar dari ruangan sebelum aku selesai bicara, di lain waktu saat kutegur karena tidak pergi ke lapangan dia memakiku dan berusaha menyerangku secara fisik. Belakangan aku memahami bahwa dia mengidap kondisi Lalochezia, yang membuat pengidapnya melepaskan stress dengan memaki orang lain, jika dia tidak melakukannya maka kondisinya akan semakin memburuk. Ini akhirnya membuatnya kehilangan pekerjaannya.

Belajar dari kasus tersebut, aku menyadari bahwa kini semakin banyak orang yang memiliki kondisi ini. Mereka tidak dapat menemukan cara untuk meringankan stress mereka dengan cara yang baik sehingga justru berdampak negatif pada lingkungan sosial dan diri mereka sendiri dalam waktu panjang.

Sebelum tahun 2010, aku juga seorang yang emosional tetapi yang kudapatkan setelah marah-marah bukanlah kepuasan namun penyesalan. Menurut kalian apakah berkata kasar dapat membuat kalian merasa lebih baik?

2 komentar:

  1. Kepuasan semu sepertinya Ron...
    Karena setelahnya justru akan menyakiti kita lebih dari sebelumnya...

    BalasHapus
  2. Sebetulnya memang tidak akan membuat semuanya lebih baik, tapi........
    Sekarang makin banyak orang yang menyebalkan.

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)