Minggu, 30 Oktober 2016

Jangan Menyentuh Kantong Dendam








Xiao Lie dan Xiao Wang adalah kolega, juga teman akrab. Pada suatu hari mereka berdua duduk dan ngobrol, tangan Xiao Lie yang iseng mengambil satu lembar kertas sambil mengobrol tangannya mulai mencoret kertas itu dengan iseng.

Setelah itu mereka berdua berpisah, Xiao Wang tanpa sengaja melihat kertas yang di coret oleh Xiao Lie, didalam kertas itu terdapat tulisan namanya, tetapi diatas namanya ada huruf “X”.



Pada saat ini Xiao Wang sangat marah, dia lalu memanggil Xiao Lie dengan marah bertanya kepadanya, “Apa maksudmu di atas nama saya di tulis huruf X, “X” berarti hukuman mati, apakah engkau tidak tahu?”

Xiao Lie tergopoh-gopoh menjawab, “Saya hanya iseng, tanpa sengaja mencoret ini, engkau jangan salah paham.”

Walau bagaimanapun Xiao Lie menjelaskan, Xiao Wang tidak peduli terus saja marah, sampai akhirnya mengatakan memutuskan hubungan dengan Xiao Lie, Xiao Lie tidak bisa berbuat apapun, akhirnya mereka berdua menjadi musuh.

Pada saat ini saya teringat kepada sebuah cerita dari Mesir, di Mesir kuno adalah sebuah legenda, dimana ada seorang pahlawan, pada suatu hari dia sedang dalam perjalanan melewati jalan pegunungan yang berliku-liku, tiba-tiba kakinya tersenggol sebuah kantong yang menghalangi jalannya.

Pahlawan ini lalu menginjak kantong, kantong ini bukan saja tidak pecah malah menjadi semakin besar, semakin lama semakin besar, pahlawan ini menjadi emosi lalu mengambil sebuah kayu yang terdapat dipinggir jalan, memukul kantongan ini, kantongan ini semakin besar akhirnya menutup seluruh jalan, pahlawan yang kecapekan ini tidak bisa berbuat apa-apa, akhir dia terduduk kelelahan.

Pada saat ini dari hutan keluar seorang suci, orang suci ini berkata kepada pahlawan ini, “Temanku, jangan menyentuh kantong itu, lupakan dia, menghindarlah jauh-jauh darinya, dia disebut “kantong dendam” jika engkau tidak menyakitnya, dia akan berubah menjadi kecil seperti semula, tetapi jika engkau menyentuh atau menyakitnya, dia akan semakin besar menghalangi jalanmu, seterusnya dia akan menganggap engkau seperti musuhnya yang tidak akan dilepaskan.”

Cerita ini mengandung maksud yang dalam. Benar saja, manusia bekerja, bergaul dan hidup di masyarakat, tentu saja terkadang terjadi pergesekan, akan timbul salah paham kemudian menjadi dendam. Tetapi jangan lupa di kantong dendam kita sendiri selalu diisi dengan ketulusan, dada yang lapang, dengan tulus meminta maaf, dengan lapang dada bersalaman tangan, lebih banyak memikirkan orang lain, lupakan rasa dendam, dengan demikian akan menghadapi lebih sedikit rintangan, dan akan mendapat lebih banyak memiliki kesempatan untuk menjadi sukses.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)