Minggu, 30 Oktober 2016

Kisah Sekantong Kue


Pada suatu malam, tampak di bandara, seorang perempuan muda sedang menunggu penerbangan pesawat terakhir. Untuk melepas kejenuhan menunggu, dia berjalan-jalan di sekitar bandara, kemudian membeli sebuah buku dan juga sekantong kue di toko bandara.

Setelah kembali dari toilet, perempuan itu bergegas mencari tempat duduk dan mulai membaca buku yang baru dibelinya. Keasyikannya membaca terganggu saat ia melihat seorang lelaki yang duduk di sebelahnya dengan berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada di antara mereka.

Perempuan itu mencoba mengabaikannya dan melanjutkan membaca sambil juga mengambil dan mengunyah kue dengan perasaan jengkel. Dalam hatinya, ia berpikir, "Kalau aku bukan orang baik pasti sudah aku marahi orang ini!"

Ia semakin kesal saat si pencuri kue yang berani seakan berlomba menghabiskan kue persediaannya. Setiap ia mengambil satu kue, si lelaki juga mengambil satu. Ketika tinggal satu kue yang tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu? Dengan senyum di wajahnya, tanpa merasa bersalah, lelaki itu mengambil kue terakhir dan membaginya menjadi dua. Diberikannya separuh kue kepada perempuan itu dan ia makan sisa separuohnya,

Si perempuan dengan bersungut-sungut dan muka menahan marah merebut kue itu sambil berpikir "Ya ampun orang ini, tidak merasa bersalah sedikit pun makan kue orang lain! Sungguh tidak tahu malu danmenyebalkan!"

Saat jadwal penerbangannya diumumkan, bergegas si perempuan itu pergi, tanpa menoleh sedikit pun kepada si pencuri kue dan berharap tidak berjumpa lagi dengan pencuri tidak tahu terima kasih itu.

Setiba di atas pesawat, sambil menghela napas lega, dia menempati tempat duduknya. Saat ingin melanjutkan membaca, segera tangannya meraih ke dalam tas. Dan...dia pun terkejut setengah mati! Astaga, jari tangannya tengah meraba kantong kue! Masih tertutup dan belum tersentuh pula!

Sesaat pikirannya terasa lumpuh, "Aduh! Jadi....kue yang telah kumakan tadi adalah milik lelaki itu! Sungguh keterlaluan aku, menuduh orang mencuri, mencurigai orang yang tidak bersalah, yang ternyata adalah si pemilik kue itu sendiri. Sebenarnya akulah yang tidak tahu malu, kasar, dan tidak tahu berterima kasih!"

Sambil memejamkan mata penuh sesal, dia tahu, sudah terlambat untuk meminta maaf atas kesalahannya menuduh orang lain yang tidak bersalah.

Dalam hidup ini, kisah seperti di atas sering terjadi! Kita sering berburuk sangka dan melihat orang lain dengan persepsi / "kacamata" kita sendiri. Menuduh orang lain yang salah, tidak tahu diri, tidak tahu malu, pembuat masalah, dan lain sebagainya. Akibatnya, muncul konflik yang tidak berguna.

Alangkah baiknya apabila kita mampu berkaca pada diri sendiri sebelum melontarkan segala tuduhan kepada orang lain. Juga, berusaha mengendalikan pikiran secara jernih. Sehingga penyesalan di kemudian hari tidak terjadi.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)