Minggu, 30 Oktober 2016

Maling Yang Teledor

Suatu waktu hiduplah seorang inspektur polisi yang terkenal dengan pengamatan dan analisanya yang tajam.

Suatu siang pada musim panas yang terik, inspektur itu berjalan dengan santai ke sebuah tempat ibadah. Secara kebetulan, ia melihat tiga orang sedang tertidur lelap di salah satu sisi belakang bangunan tempat ibadah tersebut. Di dekat mereka terdapat semangka yang telah diiris-iris menjadi beberapa bagian tapi tidak terlihat tanda bahwa sudah dimakan.

Bagi orang biasa dan penjaga tempat ibadah, tidak ada yang aneh dari kondisi ketiga orang yang sedang tertidur tersebut sehingga mereka dibiarkan saja beristirahat di situ. Akan tetapi tidak bagi sang inspektur polisi. Ia segera memerintahkan bawahannya untuk menangkap ketiga laki-laki itu dengan tuduhan telah melakukan kejahatan dan membawa mereka ke kantornya.

Ketiganya terbangun dengan terkejut karena langsung dituduh sudah melakukan kejahatan. Akan tetapi sesudah dilakukan interogasi, akhirnya ketiga orang tersebut mengakui kesalahan dan kejahatan yang sudah mereka lakukan.

Ketika ditanya bagaimana dia bisa menghubungkan detil kejadian tersebut dengan kesimpulan yang mengarah kepada penangkapan ketiga penjahat itu, sang inspektur menjelaskan :

“Pada umumnya, orang yang patuh pada hukum mulai bekerja di pagi hari dan tidur di senja atau malam hari. Ketika melihat tiga orang lelaki bertubuh sehat tidur sedemikian lelap di siang bolong seketika timbul kecurigaanku. Akan tetapi ini belum bisa membuktikan secara penuh bahwa ketiganya sudah melakukan perbuatan tidak baik. Apalagi ada pekerjaan-pekerjaan tertentu yang memang dilakukan di malam hari sehingga orang yang menjalaninya perlu beristirahat di siang hari walaupun seharusnya mereka tidur di rumah masing-masing dan bukan di tempat umum seperti belakang tempat ibadah ini.”

“Yang memperkuat dugaanku adalah, kebanyakan orang yang sudah memotong semangka akan segera memakannya. Ternyata ketiga orang itu tidak melakukan hal ini. Mereka sengaja memotong semangka itu untuk menarik dan memerangkap lalat sehingga dapat mencegah binatang-binatang tersebut mengganggu tidur mereka. Cara yang dengan percuma membuang-buang semangka seperti itu mungkin saja dapat terjadi di rumah orang kaya, tetapi tidak di tempat umum.”

“Baju mereka yang biasa-biasa saja bahkan terkesan miskin menunjukkan bahwa mereka bukan berasal dari golongan orang kaya. Pertanyaan yang langsung muncul dalam pikiranku adalah mengapa mereka dapat bersikap begitu boros ? Pastilah mereka sudah mendapatkan lebih banyak uang dibanding nilai uang dari semangka yang terbuang.”

“Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut aku sampai pada kesimpulan bahwa mereka pasti tadi malam baru melakukan tindakan kejahatan. Sesudah menanyai penjelasan dan alibi mereka secara terpisah satu per satu, kemudian mengkonfrontir ucapan yang satu dengan yang lain, aku berhasil membuktikan bahwa mereka memang telah melakukan kejahatan”.

Lebih seringlah untuk terjun ke bawah atau langsung ke lapangan apapun peran yang kita jalani saat ini dalam kehidupan kita masing-masing. Dengan mengamati langsung melalui panca indera kita, ditunjang oleh pemikiran yang logis maka banyak hal penting yang dapat kita tangkap untuk kemajuan diri kita maupun orang lain. Cara ini juga bisa menghindarkan kita dari hal-hal yang tidak baik, karena bisa diantisipasi lebih awal.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)