Sabtu, 29 Oktober 2016

Sindrom SOS - Senang Orang Susah - Susah Orang Senang

Salah satu pintu kebahagiaan dibuka,
saat kau mulai berhenti membandingkan dirimu dengan orang lain.


Apakah kau pernah merasakannya? Sebagai pelaku atau penonton atau bahkan korban? Tertawa di atas penderitaan orang lain ataupun iri atas pencapaian orang lain sepertinya menjadi salah satu budaya tetap di masyarakat modern ini.

Hampir setiap hari aku menyaksikan kejadian ini, ketika seseorang menceritakan kesulitannya, pendengarnya akan tersenyum lebar sambil melontarkan kata-kata seolah ia peduli. Tidak jarang ketika seseorang bahagia atau berhasil mencapai sesuatu, ada saja orang yang ingin merusak suasana itu bahkan menjatuhkan.

Beberapa waktu ini, aku hidup di lingkungan yang penuh dengan orang-orang seperti ini. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan hal tersebut, namun setelah mendapat beberapa tusukan dari belakang aku mulai mengamati situasi ini. Bisa dibilang hasil pengamatanku menarik.

Kondisi yang kusebut Sindrom SOS ini memiliki beberapa hal menarik, misalnya dia menyerang semua jenis latar belakang, tidak peduli jenis kelamin, materi, pendidikan ataupun profesi seseorang. Siapa saja dapat terjangkit sindrom ini.

Tidak kutemukan sebab awal sindrom ini, namun asumsiku mengatakan gejala awal muncul saat seseorang mulai merasa tidak puas dengan hidupnya dan mulai membandingkan hidupnya dengan orang lain, faktor ini bisa disebabkan dari media sosial yang seringkali dijadikan media pamer.

Selain itu, sindrom ini juga memiliki sifat candu. Penderita akut sindrom ini membutuhkan konsumsi kesedihan orang lain, setidaknya gosip yang bernuansa negatif terhadap seseorang.

Penderita biasanya hanya memiliki satu target/korban awalnya, namun saat kebutuhannya meningkat dia mulai menambah target/korban sampai titik siapapun boleh asal dapat memenuhi kebutuhannya itu.

Di kantorku ada seorang gadis yang telah menderita sindrom ini secara akut, jika selama satu hari atau mungkin dalam hitungan jam dia tidak melihat atau mendengar kisah kesulitan orang lain dia akan mulai gelisah. 
Kesimpulan ini terjadi karena beberapa waktu lalu karena beberapa hal, hanya kami berdua yang berada di kantor selama seharian. Menjelang istirahat makan siang dia mulai sangat gelisah, matanya mulai mencari-cari sesuatu dan berusaha untuk browsing dengan smartphonenya. Aku melarangnya bermain smartphone karena masih pada jam kerja.

Dia kemudian bertanya, "Pak, sepertinya bapak nggak pernah susah. Beberapa bulan ini saya perhatikan bapak senyum-senyum saja. Tidak ada kesulitan pak? Ayolah cerita, saya janji tidak akan bilang sama siapa-siapa.. Tolong.."

Saya kemudian mengarang cerita tentang kesulitan saya tidur di kost. Dia nampak tidak puas mendengar itu, "Masa gitu doang sih pak? Nggak bisa lebih susah?"

"Apa ini kompetisi?!" umpatku dalam hati.

Diantara tim salesku juga ada gejala demikian, sekilas terlihat sebagai rival namun cara mereka bersaing terkadang tidak sehat, sehingga seringkali aku harus menengahi mereka.

Pengalamanku ini mengingatkanku pada "Dementor" salah satu makhluk gaib yang ada di dunia Harry Potter, apakah J.K. Rowling juga terinspirasi dari sindrom ini saat menciptakan Dementor?

Aku sendiri juga tidak terlepas dari Sindrom ini, harus kuakui melihat makanan-makanan yang muncul di instagram atau media sosial lainnya sering membuatku iri, aku juga ingin makan-makanan itu, Hahaha.

Bagaimana dengan pengalaman kalian sendiri?

1 komentar:

  1. Saya hobi wisata kuliner
    Saya kerjaannya bisa di bilang 24jam
    dan Saya jomblo

    Ketika buka instagram
    Lihat foto satu pasangan yang lagi mesra2an sedang liburan dan makan di salah satu restoran di sana.
    Kelar hidup gw...
    #nangisdipojokkan

    BalasHapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)