Kamis, 01 Desember 2016

Kisah Bos dari Neraka


Dalam hampir setiap tulisanku beberapa bulan terakhir, sedikit banyak ada membahas sesosok makhluk yang membuatku tidak nyaman bekerja sampai akhirnya membuatku memutuskan untuk mundur dari kantor.

Kisah makhluk ini ternyata cukup menarik bagi sebagian besar pendengarnya, sebagian kecil memaksaku untuk menulisnya menjadi sebuah buku. Hal ini membuatku berpikir bahwa aku memang berhutang penjelasan bagi kalian para pembaca setia blog ini, karena itu aku menceritakannya dalam tulisan ini.

Intro

Kalian tentu perlu mengenal sedikit tentang makhluk ini, kami memanggilnya bos karena walaupun dia sama seperti kami, sama-sama makan gaji tetapi dia selalu mengatakan bahwa dialah yang mengaji kami.

Semua berawal dari rencana pemindahanku kembali ke kantor pusat pada bulan juli lalu, saat itu owner kami memutuskan untuk merekrut seseorang yang tidak berpengalaman sama sekali di dunia penjualan dan management untuk menjadi Branch Manager mengantikanku.

Aku kemudian dikenalkan pada wanita ini, awalnya dia sangat baik dan ramah. Dia lalu mengikuti program yang biasa kita sebut Management Trainee, seharusnya program ini berjalan selama sebulan penuh namun pada akhirnya setelah satu minggu berjalan, dia resmi mengantikanku dan aku bertugas sebagai pengawas kinerjanya selama sisa masa program.

Disinilah sifat aslinya mulai terlihat, memang benar untuk bisa melihat sifat asli seseorang berikan dia posisi pemimpin. Kami pikir yang dilakukannya sudah cukup buruk, sampai kami lihat sendiri beberapa bulan ke depannya membuat kami berpikir ternyata dia cukup baik di awal.

Gelar Bos from Hell segera didapatkannya setelah dua minggu bekerja, mungkin beberapa profesional lebih suka menggunakan istilah micromanager untuknya.

Jika kalian bisa membayangkan diri kalian dituntun jalan oleh orang buta, pada saat kita melihat lubang di depan dan berusaha menghindarinya tetapi justru mendapat caci maki dari si buta, itulah yang kira-kira kami rasakan dalam era kepimpinannya.

Setelah dua minggu, aku memberikan laporan kepada kantor pusat yang juga dilampirkan kepada owner, bahwa setelah melihat kinerjanya aku memutuskan dia tidak layak pakai. Disinilah politik bermain, tenryata kakak perempuannya memiliki hubungan yang baik dengan owner sehingga aku diminta untuk mempertahankannya dan memberi penyesuaian yang membuat dia dapat bekerja.

Ternyata si bos perempuan ini mendengar bahwa aku melaporkan bahwa dia tidak layak bekerja, sejak itulah terhitung sekitar awal bulan agustus dia mulai gencar melakukan berbagai cara untuk membuatku tidak betah dan mencemarkan nama baikku di kantor.

Beberapa kisah dibawah ini tidak diceritakan secara urut menurut waktu, dengan ini saya harap para pembaca bisa menilai jika kalian di posisi seperti ini, keputusan atau tindakan apa yang kalian ambil?


Karyawan tidak boleh sakit

Menurut hemat dia, karyawan itu tidak memiliki hak untuk izin bahkan sakit sekalipun kecuali harus masuk ke rumah sakit. Jika hanya demam tinggi harus masuk kantor, karena dia saja beberapa waktu yang lalu sebelum berkata demikian sempat sakit maag ringan tetapi tetap masuk kantor. Ya, jika kami kemana-mana diantar mobil dengan supir seperti dia kurasa sakit ringan bukan masalah.

Well, bos yang sangat memikirkan perusahaan? Tentu saja kita bisa terima jika dituntut untuk disiplin dalam pekerjaan tetapi tentunya pemimpin yang memberi perintah tersebut juga harus menjadi contoh.

Nyatanya? Beberapa saat setelah itu dia tidak masuk 2 hari dengan alasan ingin menjemput keluarganya di Malaysia, pernah juga dia tidak masuk 3 hari untuk mempersiapkan ulang tahun anaknya atau selama seminggu lebih dia pulang setelah jam makan siang karena renovasi rumahnya.

Pernah suatu kali aku sudah sakit cukup parah tetapi tetap dipaksa masuk, setelah dipaksa kerja beberapa hari akhirnya aku drop dan harus istirahat di kost.

Pagi hari saat aku sedang istirahat, ponselku berdering dengan nama si bos muncul di layarnya. Dengan malas aku mengankatnya.

"Ron, kamu masih bisa angkat telp kan?"

"Masih" Kalau tidak apa bisa angkat teleponmu? Pertanyaan yang bodoh.

"Aku nggak mau tau ya, kamu walau izin sakit tetap harus kerja dari sana. Mau kamu lagi di wc atau apapun, pokoknya besok kamu masuk udah bawa orderan."

Sebelum aku menjawab, telepon langsung dimatikan.


Soal Posisi

Bagi si bos, posisi adalah hal yang paling penting. Dia tidak senang jika dikenalkan sebagai manager, dia maunya dipanggil bos.

Aku tidak begitu mengerti sistem kantor lain di Sumatera Utara, tetapi kantor tempatku bekerja dulu memiliki budaya hemat karyawan, sehingga aku menempati banyak posisi di kantor, kasarnya sih seksi sibuk.

Suatu hari saat meeting, owner kami menjelaskan pada dia tentang posisiku.

"Ly, Ron disini berperan sebagai pengatur semua kerja di lapangan, kamu bagian dalam. Dia sama kamu setara."

"Mana bisa gitu bos!" protes wanita itu, "Kalau dia nggak disini, posisi dia apa? di kantor pusat dia apa?"

General Manager kami kemudian menyebutkan, "Ron di kantor pusat masih menduduki posisi Manager Marketing dan Regional Sales Manager, selain dulu posisinya sebagai BM di medan. Jadi kalau dia pulang ke pusat, dia atasan kamu."

"Halah! Posisi itu nggak penting! Yang penting bisa kerja atau tidak, lihat dari kerjalah." 

Beberapa hari berikutnya dia selalu mengomel dan mengatakan bahwa aku gila jabatan di depan karyawan yang lain.


Ajakan Makan Malam

Biasanya setelah pulang dari lapangan, kami melakukan briefing singkat. Jika beruntung si bos tidak ikut bergabung karena sudah pulang lebih dulu atau sibuk chating dengan entah siapa. Jika tidak maka dia akan mulai bercerita tentang kisah hidupnya di luar negeri sampai dia beli gula berapa kilo tadi pagi atau dia masak kangkung kebanyakan garam.

Pada hari itu kami sedang kurang beruntung, dia masuk ke briefing kami untuk curhat bahwa dia meminjamkan uang kepada orang tetapi tidak kembali, dia mengatakan dia ikhlas dan belajar bahwa materi hanyalah materi. Kisah ini dijelaskan panjang lebar, bagaimana dia mengenal orang ini sampai proses peminjaman uang yang membuat kami mendengarnya sampai lewat jam pulang kantor.

Di akhir curhatnya dia tiba-tiba berkata, "Kalian semua belum makan malam kan? Ayo kita pergi makan, di xxx ya, disana enak."

Tempat yang disebutkannya adalah tempat makan nasi goreng yang lumayan mewah, karena satu porsi nasi gorengnya sekitar 35ribu bahkan ada yang sampai 60an ribu. Sebuah rumah makan khusus nasi goreng.

Kami semua terkejut, angin apa si bos ini mengajak kami makan. Akhirnya semua anggota pergi ke lokasi itu.

Logikanya jika managermu mengajak makan dan diajak satu kantor, tentu saja dia mentraktir bukan? Dengan pemikiran seperti ini kami semua makan dengan lahap, aku sampai makan dua piring. Lalu aku merasakan ada yang aneh saat si bos dan supirnya makan dengan terburu-buru.

Tidak berapa lama dia selesai makan, dia langsung pamit pulang duluan. Dari sini perasaanku sudah nggak enak, aku memperhatikannya sampai ke kasir dan dia hanya mengeluarkan selembar uang seratus ribu.

Perasaanku terbukti benar, karena saat kami mau pulang datang sebuah tagihan. Ternyata si bos ini hanya membayar makanannya dan supirnya. Saat itu tanggal tua, dan memang tidak semua karyawan kantor sanggup membayar makanan itu. Akhirnya sebagai mantan Branch Manager, akulah yang membayar semuanya.

Besok paginya saat meeting pagi, ada salah satu sales yang tidak tahan menyindir si bos.

"Bos, kalau ajak makan-makan harusnya traktirlah, masa bayar masing-masing."

Mendengar itu raut wajah si bos langsung nggak senang.

"Hei kamu! Jaga ya mulut kamu! Memangnya saya ada bilang mau traktir kalian?! Kalau nggak mau makan ya nggak usah datang, nggak ada yang maksa kalian ikut! Lalu kok kalian serang saya?!"

Dia melanjutkan marah-marah sampai 15 menit berikutnya.

Bukan Orang Tionghua

Si bos kalau sudah ngomel soal kinerja anggotaku padaku seringkali bilang seperti ini,

"Ron, kami orang tionghua ya begini begitu.."
"Ron, kami orang tionghua itu pantang ini itu.."
"Eh, kalau kami orang tionghua berbuat gitu, bisa ini itu.."

Dia sering berkata demikian di depan karyawan yang lain dan itu membuat mereka mengenyitkan dahi. Sampai suatu hari salah satu admin mungkin tidak tahan lagi mendengarnya.

"Bu, Pak Ron kan orang tionghua juga.."

"Ah, bukan. Dia bukan orang tionghua, kalian salah." dia bilang begitu di depan wajahku.

"Bos, aku orang tionghua lah."

"Lah? Kok kamu nggak pernah ngomong bahasa tionghua di kantor?"

"Kan etika kantor, lagipula tercantum di aturan perusahaan bahwa selama jam kantor wajib berbahasa indonesia."

"Lho kok kamu jadi bilang saya nggak tau etika?!"

dan omelan berlanjut.

Bicara Sendiri

Jika sedang di kantornya, si bos ini sering kali terdengar berbicara kuat-kuat. Beberapa kali terpikir olehku bagaimana dia begitu sering menerima panggilan telepon.

Suatu hari ada hal penting yang harus kubahas dengannya, pada saat mendekati ruangannya terdengar dia sedang berbicara karena itu aku memilih menunggu, selama hampir sejam pembicaraannya tidak selesai-selesai juga, lalu aku mulai menangkap ada yang aneh.

Aku masuk ke dalam ruangannya dan melihat ternyata dia tidak sedang menelpon seseorang tetapi berbicara ke dinding. Sejak hari itu kuanggap dia memang sebagian dirinya gila.

Kebiasaan Baru di Kantor

Kurang lebih setelah sebulan si bos mulai bekerja di kantor, ada sebuah hal baru yang menjadi hal biasa di kantor. Si bos ini bisa tanpa alasan yang jelas marah-marah, sepertinya tiada hari tanpa kemarahannya.

Jeleknya, kalau dia sudah marah-marah dia akan berteriak-teriak dan mengumpat bahasa kasar dan kotor di kantor. Ini bisa terjadi karena dia yakin bahwa owner tidak akan memecat dirinya selama dia tidak membuat rugi perusahaan.

Aku sendiri jarang di kantor karena fokus kerjaku di lapangan, jadi aku tidak pernah terbiasa saat aku sedang di ruanganku dan dia tiba-tiba mengumpat keras-keras. Kadang hal-hal yang menyebabkan itu terjadi sangat sepele, misalnya ada semut di ruangannya, ada yang meminum barang yang dia beli dan letakan di dapur kantor, ada yang makan di kantor walaupun jam kantor, 

Suatu hari dia tiba-tiba mendobrak masuk ke ruanganku.

"Ron! Kamu kok sudah pulang?!"

"Hah?" hampir terkena serangan jantung, "Pulang gimana? Ini aku kan masih disini."

"Maksudnya pulang ke kantor dari lapangan, gitu aja kok kamu nggak ngerti sih!"

"Hah?" makin bingung "Aku mau kerjain laporan akhir bulan. Lagipula kerjaanku di lapangan sudah selesai."

"Laporan apa?!"

"Akhir bulan..."

"Kamu ini suka bilang buat laporan ini laporan itu, tetapi saya nggak pernah baca. Alasan kamu aja mau malas-malasan!"

"Loh, setiap laporan saya kan juga saya lampirkan ke bos waktu saya kirim ke kantor pusat."

"Iya saya tau tapi saya nggak baca! Kok kamu bodoh sekali nggak ngerti omongan saya ya!"

"..."

Nikah dan Kerja

Saat sedang membahas rencana pemasaran bulan berikutnya, si bos tiba-tiba memotong.

"Ron.."

"Ya?" aku berhenti menjelaskan.

"Kapan kamu kawin?"

Semua mata memandang ke arah si bos sementara aku mengaruk kepala yang mendadak gatal.

"Nikah maksudnya? tetapi apa hubungan..."

"Udah jawab saja!"

"Belum tau, kenapa rupanya?"

"Kalau kamu sudah menikah masih kerja di sini?"

"Ehm.. Kemungkinan besar tidak, rencana aku akan menetap di Jakarta setelah menikah."

"Kalau begitu cepat-cepatlah kau nikah!" bentaknya lalu dia pergi meninggalkan meeting sementara aku dan para anggota lainnya bingung bagaimana kami harus melanjutkan.

Tahan Panas

Si bos ini sangat sensitif terhadap panas, mungkin karena lama tinggal di luar negeri sana. Jadi kemana-mana dia harus naik mobil ber-ac, dia bahkan tidak tahan berada 15 menit dalam ruangan  tanpa AC.

Suatu hari kami bertemu dengan klien di sebuah cafe, tidak berapa lama kami berbincang ternyata terjadi pemadaman listrik. Padahal cafe ini cukup mewah tetapi tidak memiliki listrik cadangan, walaupun AC padam tetapi suhu udara ruangan tersebut masih cukup dingin

Setelah klien pergi..

"Kamu sengaja ya pilih tempat begini? Udah tau saya ini nggak tahan panas!"

"Bos, bukan aku lah yang pilih tempat."

"Jangan banyak alasan kamu! Buat saya merasa seperti di neraka saja."

Aha, ternyata panas mengingatkan dia pada tempat asalnya pikirku.


---

Sebenarnya masih banyak kisah lainnya, tetapi mungkin akan kutulis di lain waktu. Selamat mengenal si bos!

2 komentar:

  1. Gw cuma baca cerita lo aja jadi ikutan sebel sama tuh orang. Sakit jiwa kayanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang sampai tidak tidur Karena mikirin kelakuan dia. Hahaha

      Hapus

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)