Minggu, 05 Agustus 2018

Melalui Patah Hati dan Menjadi Lebih Baik

Kita berharap bersama selamanya namun,
Selamanya untuk kita terkadang sangat singkat.


Tulisan ini berawal dari sebuah percakapan dengan seorang sahabat yang berada di Kalimantan Barat sana, dalam panggilan teleponnya dia memberi informasi bahwa salah satu mantanku baru saja menikah. Informasi ini sudah kuketahui sebelum dia menelpon karena aku dan si mantan masih berteman di sosial media.

"Jadi berapa lagi mantanmu yang belum menikah?" tanya sahabatku.

Jeda cukup lama setelah pertanyaan itu, aku menjawab pelan, "Dua.."

"Masih ada juga yang belum menikah? Kalau dipikir-pikir mantanmu dikumpulin bisa jadi reunian, ada angkatannya. Mantan angkatan 2010, Mantan angkatan 2008.." candanya.

"Sudah, jangan melantur. Kau sendiri kapan menikah?" tanyaku berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Suasana kembali hening, kali ini lebih lama dari yang pertama.

"Aku belum memberitau siapapun.. mungkin kau yang pertama Ron, aku.. aku sudah putus dengan si 'Jasmine', kuharap kau tidak mengatakannya dulu pada yang lain."

"Hm.." (Pembicaraan selanjutnya membuatku menulisnya kawan..)

"Sakit Ron, aku sudah pernah patah hati beberapa kali tetapi tetap sakit. Kurasa kau sudah sering banget putus sampai sudah kebal ya, hehehe."

"Tidak ada yang pernah terbiasa dengan patah hati kawan, bahkan biasanya patah hati berikutnya lebih sakit dari sebelumnya."

"Kalau begitu, bagaimana kau melewati begitu banyak patah hati?"

Dengan tulisan inilah kujawab pertanyaanmu wahai sahabatku yang baru patah hati dan mungkin untuk kalian juga para pembaca.

Pernah patah hati? Sebagian besar orang pasti pernah ya, namanya patah hati itu nggak harus pacaran dulu, seringkali patah hati itu terjadi bahkan sebelum hubungan itu dimulai.

Aku masih ingat patah hatiku yang pertama, sebelumnya aku pikir patah hati itu akan sangat membekas seperti di film-film. Ternyata saat aku merasakannya, memang sakit tetapi tidak perlu berlebihan.

Saat aku patah hati, hujan tidak turun tiba-tiba, aku juga tidak berlari ke tengah hujan lalu berteriak keras-keras, "KENAPA?" dan tidak ada penari-penari yang tiba-tiba muncul dari balik rumput dan tiang mulai berjoget dan menyanyi di bawah hujan bersamaku.

Saat patah hati aku juga tidak merasakan dunia tiba-tiba menjadi lebih lambat, kilas balik dengan kenangan-kenangan indah saat berdua tidak tiba-tiba muncul di kepalaku.

Semua prosesnya biasa saja, hanya ada perasaan tidak nyaman dan sesak di dada karena semua akhirnya selesai, tidak bisa dipertahankan lagi.

Untungnya selama berhubungan ini, aku tidak pernah mendapat kalimat putus yang mainstream bahkan terkesan menghina seperti, "Kamu terlalu baik untuk aku","Aku mau fokus belajar dulu." dan lain-lain.


Alasan-alasan putus yang pernah kurasakan akan kubuat tulisan sendiri.

Dalam menghadapi patah hati sendiri, aku memiliki beberapa cara. Mungkin diantaranya dapat membantu kalian yang sedang patah hati.

Yang pertama, mulai memperhatikan diri sendiri. Harus diakui saat menjalin hubungan apalagi kalau masih hangat-hangatnya kita sering lupa untuk memperhatikan diri sendiri, semuanya dilakukan demi orang yang kita sayangi.

Mulai dengan memberi waktu pada diri sendiri, bagaimanapun butuh waktu untuk memulihkan patah hati. Dalam waktu itu mulailah dengan merenung di ruangmu sendiri, cari tempat dimana kau benar-benar bisa nyaman sendiri, misalnya kamar tidur atau tempat lain yang tenang. Merenung kenapa bisa terjadi semua hal ini, dengan memahami proses konflik, kita akan lebih cepat menerimanya.

Bisa dikatakan waktu ini digunakan untuk membiarkan proses patah hati berjalan, jika kalian tertarik dapat membaca 5 Tahap Patah Hati - Kulber Ross

Yang paling penting selama proses ini jangan mencoba untuk menghubungi mantan, apalagi mengajak balikan. Pahami dulu semua prosesnya, mungkin perpisahan ini justru baik untuk kalian berdua. Untuk membantu kamu bisa menulis unek-unek dan perasaan kamu pada sebuah kertas atau buku.

Jika kamu tidak ingin menulis perasaanmu atau setelah menulis itu kamu tetap larut dalam kenangan, sebaiknya kamu menulis hal-hal yang kamu inginkan, hal-hal yang dapat kamu kerjakan atau pikirkan tanpa melibatkan si mantan. Jika kamu cukup beruntung punya seseorang yang kamu percaya untuk tempat curhat, ini akan lebih baik.

Yang kedua, menata kembali hidupmu. Ini dilakukan jika ternyata si mantan memiliki hubungan erat dengan dunia sosialmu atau kalian memutuskan untuk menjadi teman saja dan menjaga hubungan baik yang ada.

Awal yang harus dilakukan adalah membuat batas yang jelas bahwa kini si mantan tidak lebih dari teman. Batas ini dibuat agar keputusan yang diambil sebelumnya dapat dipertanggung jawabkan dan paling penting menjaga persahabatan kalian tetap murni.

Untuk sementara ada baiknya mengatur ulang kegiatanmu agar tidak terlalu sering bertemu dengan mantan sampai perasaanmu bisa benar-benar menerima batas baru tersebut.

Kamu harus mulai bisa menerima pengalaman ini sebagai bagian dari kehidupan yang membuatmu lebih dewasa. Dengan waktu luang baru yang kamu punya sebaiknya mulai memasukan hobi atau passion baru ke dalam hidupmu agar lebih produktif.

Penting juga untuk mengatur agar tidur cukup sehingga mental bisa segera pulih serta kegiatan di akhir minggu sementara waktu dijalani sendiri atau bersama sahabat-sahabat. Gunakan akhir minggumu untuk lebih produktif atau lebih mendalami persahabatan dengan rekan-rekan bahkan bertemu orang-orang baru.

Yang terpenting adalah setelah kalian berdua siap, kalian harus mulai menjelaskan pada orang-orang yang mengetahui hubungan kalian bahwa kalian telah berpisah dan menjadi teman baik.

Yang ketiga, jika pasangan tersebut memiliki kesalahan yang membuat hubungan ini berakhir. Ini mungkin perpisahan yang paling menyakitkan, seringkali mantan yang harus kita lalui tidak pernah ada dalam kehidupan kita lagi. Cara ketiga adalah Move on sepenuhnya.

Awali dengan menyadari bahwa perpisahan ini adalah yang terbaik dan kamu pantas mendapat yang lebih baik. Terima ini sebagai bentuk kebebasan dari sebuah penderitaan dan beban.

Terkadang aku sampai kasihan pada pasangan berikutnya dari mantan tipe ini. Masalahnya seringkali perpisahan seperti ini meninggalkan kebencian atau rasa kesal yang membuat kita terpacu untuk mengikuti perkembangan atau berita dari si mantan. Untuk menghindari ini cari dan lakukan kegiatan yang menyenangkan.

Kamu juga minta bantuan sahabat untuk melupakan si mantan, mungkin dengan pergi nonton bareng, main game atau shopping.

Memang cara paling cepat untuk tipe seperti ini adalah menemukan cinta yang baru, namun sebaiknya jangan terlalu cepat mencari karena mencintai yang benar adalah karena siap bukan karena kesepian.

Semoga tulisan ini dapat membantu kalian menghadapi patah hati! :)



0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk berkomentar, Komentarmu sangat berarti untuk penulis agar terus semangat berkarya. Setiap kritik dan saran sangat dihargai agar blog ini semakin baik ke depannya. Semoga anda berbahagia :)